deutsche fahne

Deutsch

us-eng-flag

English

Türkce

Frankreich02

Français

Italia02

Italiano

Spanien02

Español

russland3
Banner

Pertanyaan dan Jawaban 1

Pertanyaan 1: Bagaimana menghubungkan iman kristiani akan Allah Tritunggal dengan kepercayaan akan keesaan Allah seperti yang disajikan secara jelas dalam Kitab Suci Perjanjian Lama tanpa masuk dalam argumen-argumen yang kontradiktoris? (TR)

Jawaban:
Yang bertanya dipersilahkan untuk membaca kembali secara teliti bab ke-5, III, 1. Yesus sendiri bertumbuh dalam kepercayaan akan Allah yang diimani bangsaNya. Kepercayaan ini ditempa oleh iklim monoteisme, kepercayaan akan satu Allah seperti yang tertera dalam seluruh Kitab Perjanjian Lama. Juga murid-murid Yesus – diantaranya 12 orang yang diangkat sebagai rasul – adalah para penganut monoteisme. Lewat Kitab Suci Perjanjian Baru orang kristen mengetahui, bahwa Yesus sendiri tidak hanya menamakan diriNya nabi. Ia malah bertindak dalam nama Allah, dan dalam segala perbuatanNya (misalnya menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati dan mengampuni dosa) Allah sungguh hadir di tengah manusia. Lebih dari itu Ia mengatakan, bahwa  Allah dan kerajaanNya nampak dalam diriNya. Dalam terang kuasa Roh Kudus, murid-muridNya yang adalah orang-orang kristen perdana mengakui, bahwa pernyataan Yesus bukanlah sebuah penghujatan, juga bukan sebuah penghinaan terhadap Allah yang esa ataupun serangan terhadap ajaran yang benar tentang Allah. PernyataanNya justru menunjukkan, bahwa Allah sendiri hadir dan berbicara dalam diri Yesus dari Nasaret. Atau dengan kata lain: Yesus adalah putera Allah (baca: Mat 16: 13-20). Langkah demi langkah akhirnya menjadi semakin jelas bagi para murid yang adalah umat kristen perdana, bahwa keesaan Allah harus dimengerti secara baru dan lebih mendalam. Dalam bab ke-5 buku ini kami sudah berusaha memaparkan dan menjelaskannya.

Secara singkat pertanyaan dapat dijawab dengan “Ya”. Iman akan Allah Tritunggal bukannya menegasikan kepercayaan akan keesaan Allah, melainkan memperdalam dan memilah-milahnya secara baru. Ajaran Gereja kristen memaparkan sebuah interpretasi dan perkembangan ajaran Perjanjian Baru dalam terang kejadian-kejadian atau peristiwa dalam hidup Yesus (perbuatan-perbuatan dan sabdaNya serta penderitaan, kematian dan kebangkitanNya), juga dalam terang ajaran Yesus sebagaimana yang dimengerti oleh para rasul dan umat kristen perdana dalam terang dan kuasa Roh Kudus.

Pertanyaan ke-2: „Anak manusia bukannya dijadikan, melainkan dilahirkan. Walaupun demikian, bukankah Ia tidak sehakikat dengan Allah? Apakah ada arti dibalik pernyataan iman seperti ini?“ (TR)

Jawaban:
Yang bertanya dipersilahkan untuk membaca secara teliti Bab ke-5, III, 2 tentang hubungan timbal balik antara Bapa dan Putra. Lebih jauh, silahkan baca pengakuan rasul Thomas: „Ya Tuhanku dan Allahku“ (Yoh 20:28).

Skandal kematian Yesus di atas Kayu Salib bukanlah suatu bab yang mudah untuk dicerna. Injil Yohannes menceritrakan tentang rasul Thomas, bagaimana ia bergelut dengan dirinya sendiri, terombang-ambing dalam kebimbangan atas bias-bias pesan kebangkitan: „Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."(Yoh 20:25). Kejutan peristiwa „Jumad Agung“ merasuk begitu dalam menelusuri dasar jiwanya, sehingga rasanya ia tidak mungkin percaya begitu saja peristiwa kebangkitan Yesus tanpa melontarkan pertanyaan. Kami telah melihat Tuhan, demikianlah ia mendengar pengakuan dari teman-temannya beberapa hari sebelumnya. Tetapi ia tetap dingin menanggapinya. Kami telah melihat Tuhan, Ia hidup, itulah kesaksian mereka. Tetapi ia tidak menaruh kepercayaan pada mereka. Baru pertemuan dengan kristus yang bangkitlah yang membuka jalan kepada iman bagi seorang Thomas yang skeptis: “Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: ‘Damai sejahtera bagi kamu!’ Kemudian Ia berkata kepada Tomas: ‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.’” (Yoh 20:26-27). Terkejut dan tercengang oleh pertemuan dengan Yesus di luar dugaan – Yesus yang hidup – bibirnya pun berucap: “Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28). Itulah sebuah pengakuan iman! Pengakuan iman akan Yesus sebagai Tuhan dan Allah baru di capai di penghujung sebuah jalan panjang, ditaburi duri-duri ketakpastian dan kebimbangan, kesalahpahaman dan keragu-raguan, sebagaimana yang dialami oleh Thomas. Jalan seperti ini, jalan menuju pengetahuan yang penuh tentang Tuhan, bukan hanya dilalui oleh Thomas, tetapi juga oleh semua orang yang menamakan dirinya pengikut Kristus. Setelah Paska (setelah kebangkitan Yesus), mereka mengenal lagi Yesus dalam perjumpaan denganNya. Pada saat itu mata mereka terbuka (bdk. Luk 24:31), dan sejak itu mereka memiliki „pengetahuan“  tentang Yesus yang kemudian dikukuhkan menjadi pengakuan iman kepadaNya.

Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi Paulus meresitasi sebuah himne (lagu pujian) yang terbukti sudah ada sesaat setelah kematian dan kebangkitan Kristus, sekaligus yang menggambarkan iman akan Yesus Kristus demikian: „Er war... (Ia yang sudah ada)“ (Filipi 2:6-11). Inilah yang menjadi dasar pengakuan iman agama kristen.

Pertanyaan ke-3: „Bagaimana formulasi iman agama kristen: ‚Satu hakekat dalam tiga pribadi dan tiga pribadi dalam satu hakekat“ dapat dimengerti berdasarkan akal sehat?“ (TR)

Pertanyaan ke-4: „Tugas-tugas khusus mana saja yang diemban oleh masing-masing pribadi dalam tiga ‚pribadi’ menurut ajaran agama kristen tentang Tritunggal maha kudus?“ (TR)

Jawaban:
Yang bertanya dipersilahkan untuk membaca lagi secara teliti bab ke-5, khususnya 5,IV.

Kalau Allah yang esa itu adalah cinta (hubungan „Saling memberi diri“ secara  timbal balik – baca 1 Yoh 4:7-21), maka tiga pribadi itu serentak menjadi „titik jalin“, dimana ritme cinta itu berjalan: Memberi – Menerima – Menyerahkan kembali. (Catatan: Istilah „pribadi“ dalam konteks ini memiliki arti yang lain dari „pribadi“ dalam pengertian  yang biasa sebagai “realitas/kenyataan yang independen dan terpusat pada dirinya seniri“). Dengan demikian, ketiga „pribadi“ adalah cinta yang satu dan sama dalam tiga hakekat (cara mengada), yang menjadi persyaratan yang mutlak perlu, supaya dalam Allah ada cinta – ya, cinta dalam kapasitasnya yang paling tinggi, cinta yang tidak mementingkan diri sendiri. Allah yang satu adalah sekaligus persekutuan cinta antara tiga „pribadi“: Cinta, Yang dicintai, Yang terlibat dalam cinta. Dalam 1 Yoh 1:3 tertulis: “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.“

Segala-galanya  tertuju pada persekutuan/persatuan. Yang dimaksudkan di sini bukanlah sebuah „persatuan seluruh dunia“, melainkan sebuah persatuan yang mengambil persekutuan Allah Tritunggal sebagai contohnya. Persatuan seperti ini adalah persatuan yang diwujudkan dalam keanekaragaman, dan keanekaragaman yang dilebur dalam persatuan. Inilah yang dinamakan Communio (komunitas). Persatuan yang diidam-idamkan oleh seluruh dunia, kerinduan akan persatuan, keharmonisan dan perdamaian yang ada dalam setiap hati manusia, ya juga segala globalisasi, pemetaan jaringan dan komunikasi universal yang menjadi sasaran segala perkembangan teknik, media dan budaya, ada hubungannya dengan Trinitas ilahi, dengan kepercayaan kristiani akan satu Allah dalam tiga „pribadi“. Singkatnya: Antara tendensi kerinduan manusia akan persatuan, ya antara pemetaan jaringan komunikasi dalam era globalisasi dengan kepercayaan kristen akan Tritunggal mahakudus terdapat sebuah korelasi/kesamaan. Dengan demikian terbuktilah tesis ini: Apa yang menjadi hakekat Allah, Communio, kita pun hendaknya tertuju ke sana. Ia adalah awal dan akhir dari segala kenyataan. Di dalamNya kita  ada, hidup dan bergerak. Jika Allah bertindak dalam sejarah hidup manusia, ia selalu bertindak sebagai Allah yang satu dan sama dalam tiga pribadi.

Pertanyaan ke-5: „Menurut kepercayaanmu, setan telah mengacaubalaukan segala rencana Allah. Astaga! Bukankah itu berarti, bahwa kehendak setan menang atas kehendak Allah? Bukankah kepercayaan dan pernyataan seperti itu bertentangan dengan martabat dan kebesaran Allah? (TR)

Pertanyaan ke-6: „Juga kalau Allahlah yang menciptakan setan dan menjadikannya lebih dari manusia [juga membiarkannya membawa manusia ke dalam percobaan], toh Allah melengkapi manusia dengan kekuatan untuk melawan setan. Apakah Allah tidak ada jalan lain untuk membebaskan manusia selain mengenakan kemanusiaan manusia? (TR)

Jawaban:
Dalam Kitab Suci, kekuatan dan ketakberdayaan roh-roh jahat digambarkan dengan jelas, terutama ketika ia melukiskan saat-saat penampilan Yesus di depan umum. Khususnya Injil Markus menggambarkan segala karya pelayanan Yesus sebagai sebuah pergumulan dengan setan (Mk 1:23-28.32-34.39; 3:22-30). Menariknya, dalam diri Yesus bisa dilihat, bagaimana Yang lebih kuat mengalahkan yang kuat. Di dalam diriNya terbersit kuasa dan  kekuatan Allah. Kerajaan Allah pun tampak dalam diriNya, karena Ia mengusir setan-setan dengan kuasa dan kekuatan Allah (bdk. Mat 12:28; Luk 11:18; 10:18). Karena Yesus Kristus sudah secara definitip mengalahkan kuasa dan kekuasaan jahat, maka ketakutan terhadap setan adalah sesuatu yang tidak berhakekat kristiani. Camkanlah: „Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama(1 Petr 5,8-9).

Ajaran Gereja selaras dengan kesaksian Kitab Suci Perjanjian Baru. Karena kalau kekuatan jahat yang memangkas kebebasan manusia bukan berasal dari sebuah prinsip jahat, prinsip yang terlepas dari kekuasaan Allah (seperti yang diajarkan oleh dualisme), maka ia adalah makluk ciptaan Allah yang kemudian menjadi jahat atas keputusannya yang bebas. Menurut ajaran Gereja, yang ada bukan hanya kuasa kejahatan (das Böse), melainkan juga yang jahat (der Böse). Dengan demikian, di satu pihak ajaran katolik menekankan pengalaman manusia akan kejatuhan dunia sepeti yang dipaparkan dalam Kitab Suci, di lain pihak ia juga dengan itu membatasi pengaruh roh-roh jahat: Mereka tetaplah makhluk terbatas, ciptaan Allah dan tetap bergantung padaNya. Kekuasaannya telah dipatahkan oleh Yesus Kristus dan lewat kuasa Roh Kudus ia semakin tak berdaya dan tidak mempunyai arti. Pada akhirnya yang berbicara adalah pengharapan.

Siapa yang dapat mengatur dan memerintah Allah, dengan cara apa Ia dapat membebaskan dan menyelamatkan manusia yang berdosa dari dosa-dosanya? Cinta Allah tidak mengenal batas dan tidak mengenal aturan. Kita hanya bisa mengagumi kenyataan dalam rasa syukur dan terimakasih, bahwa Allah telah memilih jalan seperti yang Ia sendiri katakan dalam Kitab Suci. Silahkan baca lagi 1 Yoh 4:7 dst. dan Yoh 3:16-21. Pada akhirnya kita harus mengakui, bahwa Allah begitu mencintai kita dengan cara ilahiNya, bahkan Ia menjadikan kita menurut gambarNya sendiri: Siapa yang sungguh mencintai, ia akan menginginkan persatuan dan solidaritas dengan orang yang dicintai. Karena cintaNya, Allah ingin sesatu dan sesolider mungkin dengan manusia ciptaanNya dalam segala hal, kecuali dosa.

Pertanyaan ke-7: „Bagaimana seorang manusia yang berakal budi dapat mengerti, bahwa Allah – supaya dapat mengampuni dosa – mengantar manusia lebih jauh ke dalam dosa yang akhirnya menjadikannya sebagai pembunuh Allah? Apakah anak-anak Adam bisa mendapatkan pengampunan dengan membunuh Allahnya sendiri? Mengapa Allah menghendaki dan menuntut doa dan ketaatan? Mengapa Ia memberikan perintah dan larangan kepada manusia? (TR)

Jawaban:
Allah telah memberikan kepada manusia perintah dan larangan. Ketika manusia selalu mengabaikannya dalam segala kebebasannya, Allah memutuskan untuk menunjukkan belaskasihanNya, bukan hanya lewat bimbingan, tetapi terutama lewat korban puteraNya sendiri (baca: Yoh 3,16 dst.)

Pertanyaan ke-8: „Bukankah tidak lebih tepat, kalau bukan Allah sendiri [dalam diri Yesus Kristus] yang bergumul melawan setan, melainkan Ia membiarkan manusialah yang bergumul melawan setan?” (TR)

Jawaban:
Setiap orang kristen dipanggil untuk berperang melawan kuasa setan. Namun ia tahu, bahwa hanya dengan kuasa Allah ia dapat menang dalam pergumulan ini. Kuasa dan kekuatan Allah ini dihadiahkan kepada setiap orang kristen dalam diri Yesus Kristus, - Dia yang dalam iman kristiani diakui sebagai „Allah benar dari Allah benar“. Pengakuan iman yang sama merumuskan lebih lanjut: „Yang telah turun dari Surga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, dan menjadi daging oleh Roh Kudus dari Santa Perawan Maria, dan menjadi manusia“ (Pengakuan iman Nicea-Konstantinopel). Kekuatan untuk berperang melawan kuasa setan diperoleh lewat mendengarkan Sabda Allah dengan penuh iman dan lewat penerimaan sakramen. Lewat aktus-aktus iman ini Tuhan yang bangkit hadir dan berkarya dalam diri kaum beriman dengan kuasa Roh Kudus.

Pertanyaan ke-9:“Hukum kehidupan di atas dunia ini bertumpu pada tanggungjawab manusia atas segala perbuatannya. Bukankah ini suatu yang janggal, bahwa seorang manusia menanggung segala sakit yang diderita oleh semua manusia demi keselamatannya?“ (TR)

Jawaban:
Allah menawarkan keselamatan dalam diri Yesus Kristus kepada seluruh umat manusia. Dengan sadar saya menulis: menawarkan. Itu berarti manusia tetap bebas untuk menolak tawaran ini. Jika ia menerimanya, maka ia harus berusaha dengan segala daya, supaya karunia keselamatan yang ditawarkanNya menjadi nyata. Ia akan memohon kepada Yesus Kristus untuk menerima dirinya apa adanya dan mengubah segala kekerasan hatinya menjadi ketaatan, sehingga dengan itu langkah demi langkah ia akan menjadi semakin serupa dengan Kristus dalam kuasa Roh Kudus dan juga semakin berkenan pada Allah. Dengan kata lain: ia benar-benar „ditebus“.

Pertanyaan ke-10: „Misalkan kita menerima, bahwa setiap manusia menanggung dosa dalam dirinya sejak ia dilahirkan, tidakkah Allah yang maha pengasih dan penyayang akan mengampuni dosanya?“ (TR)

Jawaban:
Silahkan untuk melihat kembali paruh kedua jawaban atas pertanyaan ke-5 dan ke-6. Camkanlah sekali lagi: Adalah keputusan bebas Allah-lah yang tidak ingin membebaskan manusia hanya dengan kuasa sabda/kata-kata. Lebih jauh Ia ingin menebus segala umat manusia dengan menjadi manusia, menjadi sama dengannya dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa. Ia juga ingin memampukan kita untuk menjadi putra dan putrinya hingga kekal dalam kuasa Roh Kudus, ya sebagai saudara dan saudari dari putraNya yang tunggal, Yesus Kristus.

Pertanyaan ke-11: „Bagaimana kita bisa menilai iman orang kristen perdana yang kala itu belum akrab dengan formulasi dogmatis tentang Allah Tritunggal? Apakah iman mereka adalah iman yang sah?“ (TR)

Jawaban:
Harus dibedakan antara formulasi-formulasi teologis, dimana dalam perjalanan sejarah iman kristiani akan Allah memperoleh wujudnya dengan isi iman kristiani akan Allah itu sendiri.

Pada akar yang terdalam iman kristen tertera kenyataan, bahwa manusia mengalami secara sangat menakjubkan, betapa Allah sendiri mendatangi manusia dengan kekuatan RohNya dalam diri Yesus dari Nasaret. Dengan kekuatan Roh, Allah bukan hanya memberikan sesuatu dari diriNya bagi mausia, melainkan Ia memberikan diriNya seutuhnya dalam pengertian harafiah: Dalam diri Yesus Kristus Allah masuk ke dalam dunia hidup manusia secara pribadi. Dengan sendirinya dunia hidup kita menjadi dunia hidupNya. Ia perduli terhadap segala suratan hidup kita dan membangun sebuah persekutuan mesra denganNya hingga keabadian. Itu berarti: Dalam diri Yesus Kristus dan dalam diri Roh Kudus yang diutusNya kita bukan hanya berjumpa dengan figur penengah yang menunjukkan jalan kepada Allah (seperti para nabi atau orang-orang kudus), tetapi Allah sendiri tetap tersembunyi bagi kita dalam segala transendensiNya yang tak terjangkau.  Bukan! Dalam diri Kristus, dalam segala kata dan perbuatanNya Allah sungguh-sungguh hadir di tengah-tengah kita. Siapa yang bergelut dengan Yesus, dengan kata-kata, perbuatan dan penderitaanNya, siapa yang mengalami kehadiran RohNya dalam dalam dirinya dan dalam karyanya, ia sungguh mengalami kehadiran Allah secara pribadi. Kalau yang terjadi sebaliknya, maka Yesus yang adalah kata terakhir dan definitip dari Allah serta gambaran cintaNya yang tak tertandingi berada dalam suatu paradoksi dengan apa yang menjadi hakekatNya; ya Ia bukanlah pengantara terakhir dan definitip antara Allah dan manusia seperti yang dikatakanNya: „Siapa yang melihat Aku, ia melihat Bapa“ (Yoh 14:9). Setelah Yesus kembali ke rumah BapaNya, Roh Kudus yang memenuhi Yesus, menuntun kita untuk masuk dalam realitas Kristus sekaligus membuka pintu yang langsung mengantar kita kepada Bapa. Seandainya Ia bukanlah Allah, Ia pasti akan tetap membiarkan kita dilingkupi oleh kontingensi dan kefanaan, ya dalam segala kefanaan materi tubuh kita. Lihat juga Buku 5, III, 7.

Pertanyaan ke-12: „Andaikan kita percaya, bahwa orang-orang kristen tidak percaya kepada tiga Allah, maka muncul pertanyaan: Darimana Messias menerima keAllahanNya? Dapatkah seorang manusia biasa, dikandung dalam rahim seorang wanita, menyusu seperti layaknya anak-anak, dididik seperti setiap anak pada umumnya... – dapat disebut sebagai Allah? Bagaimana kita bisa berbicara tentang kebesaran dan transendensi Allah?“ (TR)

Jawaban:
Apakah kita dapat mendikte Allah dan memberikan sebuah definisi tentangNya yang cocok dengan segala apa yang dilakukanNya, dengan kebesaran dan trasendensiNya? Kalau kita mengatakan: Allāhu Akbar, bukankah itu berarti, bahwa kebesaran Allah itu mengatasi segala pikiran kita? Jika Allah memutuskan untuk menjadi manusia dalam kerahiman dan belaskasihanNya yang tak terbatas, supaya kita manusia dapat mengambil bagian dalam kehidupan dan cintaNya, apakah kita manusia dapat merintangiNya? Silahkan baca kembali buku ini di bab ke-2, IV.

Pertanyaan ke-13: „Duaribu tahun yang lalu tidak terdapat seorang yang namanya Hz Isa (Yesus). Dapatkah Allah itu dapat ditambahkan atau disisipkan dalam perjalanan waktu? Apakah Allah itu begitu lemah dan tak berdaya, sehingga Ia dapat disalibkan oleh manusia? Dalam Injil toh terdapat ayat-ayat yang menunjukkan, bahwa Yesus sebenarnya tidak ingin untuk disalibkan (lihat: Mat 27,46)“ (TR)

Pertanyaan ke-14: „Ungkapan ‚Allah Tritunggal’ bisa menimbulkan cukup permasalahan: Bagaimana bisa terjadi, bahwa satu dari ketiga pribadi bisa melepaskan diriNya dari persekutuan Tritunggal  ini, lalu masuk dalam rahim Maria – masuk dalam dunia yang fana dan menjadi manusia? Karena, jika Allah itu tritunggal, maka adalah suatu yang tidak mungkin, bahwa hanya satu dari persekutuan itu melepaskan diri untuk masuk ke dalam dunia hidup manusia.“ (TR)

Jawaban:
Bab ke-2 (Inkarnasi) dan bab ke-5 (Allah, Tritunggal) menunjukkan, bahwa dalam Yesus, sang Mesias, Putra Allah yang bukan dijadikan dari keabadian, Allah sungguh menjadi manusia. Baca ajuga: Ibr. 1; Ef 1; Kol 1:12-20; Phil 2:5-11. Lebih jauh baca juga bab ke-3, III, 2 dan 2.1

Pertanyaan ke-15: „Kalau peristiwa penyaliban Yesus adalah kehendak Allah, bukankah Ia hendaknya berterimakasih keada orang Yahudi dan Pontius Pilatus? Apa yang tersembunyi di balik ungkapan-ungkapan seperti ‘peuple déicide’ (bangsa yang membunuh Yesus), ‘peuple maudit’ (bangsa yang terkutuk), ‘peuple reprouvé’ (terbuang dari rahmat Allah) yang memaknai seluruh sejarah kekristenan? Alasan utama manakah yang melandasi masuknya ungkapan ‘déicide’ dalam bahasa-bahasa barat?“ (TR)

Jawaban:
Yang bertanya dipersilahkan untuk membaca kembali dengan seksama bagian-bagian tertentu dari bab ke-3 buku ini yang berbicara tentang: Salib, dosa, penebusan. III, 2.1; 2.2; 2.3, dan juga tentang Kematian Yesus di atas kayu salib yang mengawali bagian IV buku ini.

Di sana diantaranya kita baca: Yesus dihukum mati oleh manusia – dan penyaliban adalah sebuah hukuman yang lazim dalam hukum romawi bagi para penjahat yang bersalah. Ia (Yesus) pada akhirnya menerima hukuman mati di atas kayu salib karena sikapNya yang dianggap menentang Allah dan hukum Yahudi (Taurat). Dunia sebagaimana adanya tidak dapat mentolerir kritik fundamental Yesus terhadap struktur-struktur yang penuh dosa. Yesus adalah korban dari kuasa kejahatan: kebencian, ketidakadilan, kecemburuan, egoisme, usaha menghambat terwujudnya kehendak Allah – ya segala kekuatan jahat yang hingga saat ini masih terus menempa eksistensi dunia.

Karena itu, adalah suatu kesalahpahaman yang picik dan serius, kalau tanggung jawab atas kematian Yesus semata-mata diserahkan keada bangsa Yahudi. Toh pada akhirnya dosa-dosa dari setiap manusia-lah yang menjadi sebab kematianNya, dan karena itu semua manusia bertanggung jawab atas penolakan, hukuman, kutukan dan hukuman mati Yesus. Demikian Konsili Vatikan ke-2 menegaskannya dalam „Pernyataan tentang hubungan Gereja dengan agama-agama bukan kristiani“ (Nostra Aetate), No. 4:

    Meskipun para pemuka bangsa Yahudi beserta para penganut mereka mendesak kematian Kristus, namun apa yang telah dijalankan selama Ia menderita sengsara tidak begitu saja dapat dibebankan sebagai kesalahan pada semua orang Yahudi yang hidup ketika itu atau kepada orang Yahudi zaman sekarang. Walaupun Gereja itu umat Allah yang baru, namun hendaknya orang-orang Yahudi jangan digambarkan seolah-olah dibuang oleh Allah atau terkutuk, seakan-akan itu dapat disimpulkan dari Kitab suci. Maka hendaknya semua berusaha, supaya  dalam berkatekese dan mewartakan Sabda Allah jangan mengajarkan apa pun, yang tidak selaras dengan kebenaran Injil dan semangat Kistus.
    Selain itu Gereja, yang mengecam segala penganiayaan terhadap siapapun juga, mengingat pusaka warisannya bersama bangsa Yahudi. Gereja masih menyesalkan kebencian, penganiayaan, pun juga unjuk-unjuk rasa antisemitisme terhadap bangsa Yahudi, kapan pun dan oleh siapa pun itu dijalankan, terdorong bukan karena motivasi-motivasi politik, melainkan karena cinta kasih keagamaan menurut Injil.
    Kecuali itu Kristus, seperti selalu telah dan tetap masih diyakini oleh gereja, demi dosa-dosa semua orang telah menanggung sengsara dan wafat-Nya dengan sukarela, karena cinta kasih-Nya yang tiada taranya, supaya semua orang memperoleh keselamatan. Maka merupakan tugas Gereja pewarta: memberitakan salib Kristus sebagai lambang cinta kasih Allah terhadap semua orang dan sebagai sumber segala rahmat.

Dengan demikian menjadi jelas, bahwa segala slogan dan ungkapan-ungkapan yang tersirat dalam pertanyaan bertentangan dan tidak mencerminkan ajaran kristen katolik. Yang terjadi dalam kenyataan justru sebaliknya. Ia justru mengutuk secara keras segala slogan dan ungkapan-ungkapan itu.

Pertanyaan ke-16: „Dalam buku ini tertera kalimat: ‚Dalam hubungan dengan ini seluruh kaum beriman dari agama-agama yang berbeda hendaknya berusaha sedapat mungkin untuk secara bersama-sama memberikan kesaksian tentang iman, termasuk usaha mencari jalan menuju persatuan dalam penyerahan diri yang rendah hati di bawah kehendak Allah.’ (Dalam bab tentang Keanekaragaman agama, orang kristiani menjawab, akhir alinea pertama). Saya ingin bertanya kepada penulis: Bagaimana manusia yang menganut ajaran-ajaran yang berbeda, malah BERTENTANGAN perihal ajaran tentang Allah atau dewa-dewa dapat membangun sebuah PERSATUAN? Terlepas dari itu: Bagaimana mereka dapat mematuhi sebuah ajaran yang kurang menekankan PERSATUAN atau mengajarkan sesuatu yang bertentangan dalam dirinya sendiri? Dimana terletak PERSATUAN yang benar?“ (TR)

Pertanyaan ke-17: „Dalam buku ini tertera juga kalimat: ‚ Bagi orang-orang beriman, baik Kristiani maupun Muslim, manusia itu diciptakan  lewat “tangan Allah”, dibentuk berdasarkan gambarNya dan akan kembali kepadaNya.’ (Bab tentang Jantung Kekristenan, Pandangan Kristiani, 2. Agama kristiani sebagai jalan menuju kepenuhan manusia dan kemanusiaan. Kalimat pertama). Berdasarkan isi kalimat ini, semua manusia akan kembali kepada Allah. Kalimat ini kurang jelas, karena yang menjadi pertanyaan, kembali ke surga atau ke neraka? Dalam kalimat berikutnya terbaca: ‚Ini adalah panggilan mendasar dari setiap pribadi, seluruh umat manusia, ya – bahkan seluruh ciptaan yang mendambakan kebebasan dari segala bentuk penindasan, untuk dapat sampai pada kemuliaan Allah (Rom 8,19-25; Surah 81; 82; 99; 101). Panggilan bersama inilah yang menjadi dasar bagi persamaan-persamaan dasar seluruh umat manusia melewati perbedaan-perbedaan ras, kedudukan sosial dan agama.’ Kalau demikian saya ingin bertanya kepada penulis: Mengapa dalam ayat-ayat berikutnya Yesus menyatakan diriNya sebagai ‚SATU-SATUNYA JALAN’? Apakah dalam Yoh 14,6 Yesus ingin mengatakan bahwa semua jalan tertuju kepada Allah?“ (TR)

Jawaban:
Ajaran katolik mengajarkan: Sebab semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi. Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir, yakni Allah, yang penyelenggaraan-Nya, bukti-bukti kebaikan-Nya dan rencana penyelamatan-Nya meliputi semua orang, sampai para terpilih dipersatukan dalam Kota suci, yang akan diterangi oleh kemuliaan Allah; di sana bangsa-bangsa akan berjalan dalam cahaya-Nya (bdk. Kis 21:23 dst.)“ (Pernyataan tentang hubungan GEreja dengan agama-agama bukan kristiani: Nostra Aetate Konsili Vatikan ke-2, no. 1).

Konsili juga berbicara tentang iman kepada Allah dalam pernyataannya yang sama: „Gereja juga menghargai umat Islam, yang menyembah Allah satu-satunya, yang hidup dan berdaulat, penuh belaskasihan dan mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, yang telah bersabda kepada umat manusia.“ (no. 3). Ini samasekali bukan berarti, bahwa tidak ada perbedaan mendasar antara agama islam dan kristen dalam hubungan dengan ajaran tentang Allah. Allah menurut iman kristiani adalah Allah Kitab Suci dan sekaligus Allah yang mewahyukan diriNya dalam Yesus Kristus. Ia adalah Allah Tritunggal seperti yang diajarkan oleh Gereja. Yang mempersatukan pandangan kristen dan islam ialah referensi akan satu Allah dan keinginan manusia untuk melaksanakan dan memenuhi kehendak Allah. Kami orang kristen merasa tidak mampu untuk mengatakan secara pasti, apakah dan kapan seseorang sungguh secara sadar mengenal Allah yang mewahyukan diriNya dan kemudian atas dasar kebebasannya menolaknya. Allah sendirilah yang mengenal kedalaman hati manusia.

Ajaran katolik percaya, bahwa Allah menghendaki keselamatan setiap manusia, dan bahwa manusia hanya bisa kehilangan tawaran keselamatan ini, kalau ia secara bebas dan sadar menolak tawaran cinta Allah dalam Yesus Kristus. Dalam kenyataan Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan. Tetapi tokh di luar institusi Gereja  dan Permandian terdapat juga keselamatan ini. Orang-orang benar, orang-orang yang secara sungguh-sungguh mencari Allah – juga kalau mereka tidak menyadarinya – mengambil bagian dalam keselamatan kekal berkat penebusan Kristus. (Silahkan untuk meresapi Mat 25:31 dst.: Tentang pengadilan terakhir. Orang-orang yang benar adalah mereka yang berjumpa dengan Kristus dalam diri orang-orang miskin, yang terpenjara dan lain-lain, tanpa meengenalNya. Baca juga teks dari Konstitusi Konsili Vatikan ke-2 tentang Gereja (Lumen Gentium no. 16): „Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal.“ Silahkan baca kembali buku ini, bab ke-11, III, 4-6.

Pertanyaan ke-18: „Apakah perceraian itu dilarang dalam agama kristen? Kalau di  antara pasangan suami istri tidak ada lagi cinta, bukankah ini suatu siksaan kalau mereka dibiarkan terus hidup bersama? Kalau agama kristen melarang perceraian, mengapa tingkat perceraian di Amerika dan Eropa begitu tinggi? Dalam surat kabar-surat kabar sering diberitakan, bahwa di Amerika dan Eropa satu di antara dua perkawinan itu gagal atau diceraikan.“ (TR)

Jawaban:
Menurut pandangan kristen cinta perkawinan atau cinta suami-istri itu memperoleh pemenuhannya dalam kesetiaan seumur hidup. Dalam cinta ini terbersit sebuah pengabdian mutlak dan komitmen penuh antara satu pasangan dengan yang lain – sebuah pengabdian dan komitmen yang tidak bergantung pada situasi dan kondisi yang selalu berubah. Apapun yang akan terjadi, yang satu tetap berpegang teguh pada yang lain. Sikap seperti ini menggambarkan sebuah bentuk saling menerima dan memberi dan menjadi sebuah tanda yang handal bagi solidaritas. Untuk mampu menghayati sikap ini manusia tidak bisa berusaha sendiri, melainkan membiarkan diri ditolong dan ditatang oleh Allah. Justru dalam penghayatan kehidupan atas dasar kesetiaan ini, perkawinan mencerminkan cinta Allah yang sudah masuk dalam dunia hidup manusia serta menjadi satu dari antara mereka berkat jawaban „Ya“-Nya yang mutlak dalam diri Yesus Kristus.

Menurut iman kristen, perkawinan sakramental adalah sebuah ikatan perjanjian yang menggambarkan ikatan cinta Kristus kepada GerejaNya dalam suatu cara tertentu (silahkan baca: Ef 5:21-33). Lewat inkarnasi, kematian dan kebangkitan Kristus telah memberikan  diriNya kepada Gereja dan wafat baginya. Hanya dalam misteri ini, perkawinan sebagai sebuah sakramen dapat dipahami dan dihidupi. Perkawinan sebagai sakramen adalah sebuah cara mengikuti Kristus. Pasangan-pasangan kristiani menyadari keterikatannya dengan perjanjain cinta dan kesetiaan Kristus kepada Gereja. Dalam sakramen perkawinan mereka menerima kekuatan dariNya untuk bertahan dalam ikatan kesetiaan cintanya. Ikatan perjanjian ini adalah sebuah perjanjian yang dijiwai oleh sikap saling percaya – sebuah proses, dimana kegagalan, kesalahan dan dosa serta bahaya semakin dinginnya cinta tidak dapat dielakan. Tetapi ini bukannya menjadi alasan bagi orang kristen untuk memutuskan ikatan kesetiaan yang sudah terukir dalam janji perkawinan. Juga kalau seorang pasangan meninggalkan persekutuan perkawinan, hendaknya pasangan yang lain tetap setia pada janjinya. Kesendiriannya karena ditinggalkan hendaknya dihidupi secara sadar dan penuh iman sebagai sebuah bentuk memikul salib dalam perjalanan mengikuti Yesus.

Synode berama seluruh keuskupan di Jerman menggariskan pedoman bagi penghayatan perkawinan dan keluarga kristen demikian:

    „Dalam ikatan kesetiaan hingga maut memisahkan, suami atau istri membawa cinta Kristus yang tidak dapat dipisahkan oleh apa pun (Rom 8:35) lebih dekat ke pasangannya. Dalam kesetiaan yang mencakupi seluruh kehidupan manusia terpatri kepenuhan eksistensi kristen: Iman akan Kristus yang bangkit, sekaligus kepercayaan akan kebangkitan pasangannya; harapan, sekaligus mengharapkan agar pasagannya juga menaruh harapan pada Kristus; cinta, sekaligus berpegang teguh pada pasangannya, karena cintalah yang memungkinkan pasangannya untuk mengatakan „ya“ pada cinta Kristus“.

Dalam segala krisis dan kegagalan, pasangan suami-istri membutuhkan bantuan para agen pastoral.

Pertanyaan ke-19: „Saudara juga menjelaskan, bahwa Allah itu tak dapat dijangkau atau transenden. Kalau memang Yesus adalah Allah, bagaimana mungkin Allah itu transenden, tak dapat dijangkau oleh manusia? Bagaimana mungkin Yesus dan Roh Kudus itu adalah Allah kalau anda berbicara tentang Allah yang esa dan bukan tiga Allah? Apakah Allah dapat mengklonisasi atau menduplikasikan diriNya sendiri? (TR)

Jawaban:
Transendensi Allah, kebesaranNya yang melampaui segala sesuatu tidak menegasikan pemahaman kristiani, bahwa Allah memutuskan secara bebas dan mutlak, tidak hanya menjadi pencipta dan penopang dunia atau sebagai pemberi petunjuk moral (sebagaimana layaknya para nabi) dan Kitab Suci, melaikan lebih dari itu, Ia ingin berada bersama manusia atas dasar kebebasan dan cintaNya dalam Yesus Kristus. Dalam diri Yesus Kristus, Ia ingin menjadi saudara bagi semua dan ingin memampukan kita dengan kekuatan Roh KudusNya untuk hidup dalam persekutuan mesra denganNya sebagai anak-anak yang dikasihiNya. Lewat kabar gembira Yesus kami orang kristen mengetahui, bahwa semuanya itu dilakukan Allah dalam cinta kasihNya yang tak terbatas. Dengan rasa syukur dan terimakasih kami orang kristen memilah-milah cinta Allah ini dan berusaha menjawabnya dalam iman dan dalam kehidupan yang didasarkan atas iman.

Lebih lanjut silahkan baca jawaban atas pertanyaan 1, 2 dan 3+4 dalam buku ini, bab ke-2, III; bab ke-5, III, 7 dan IV.

Dalam jawaban kami terhadap pertanyaan no. 1 kami berusaha menunjukkan, bagaimana iman kristiani mengerti dan memahami persekutuan Allah. Persekutuan Allah Tritunggal adalah sebuah persekutuan Allah yang mewahyukan diriNya sebagai cinta. Dengan kata lain: Ia mewahyukan diriNya kepada manusia dalam diri Yesus Kristus, apa dan bagaimana dalamnya cinta itu. Cinta di sini berarti juga hubungan dan persekutuan. Silahkan baca kembali jawabankami terhadap pertanyaan no. 1.

Pertanyaan ke-20: „Bagaimana ekaristi itu adalah Allah? Jesus bersabda dalam Injil, bahwa apa yang masuk lewat mulut akan sampai ke perut, lalu dibuang keluar lagi. Bagaimana anda bisa mengatakan, bahwa apa yang anda makan dan minum itu adalah Allah? Apakah sesudahnya yang tertinggal hanyalah dua Allah setelah anda menyantap satu Allah dalam ekaristi? (TR)

Jawaban:
Ajaran katolik tidak pernah mengatakan, bahwa „ekaristi itu adalah Allah“. Yang bertanya dipersilahkan untuk membaca kembali secara kritis dan teliti bagian III dan IV buku ini.

Ekaristi adalah satu dari tujuh sakramen menurut iman kristiani.

         
1. Apa itu sakramen dan apa arti di balik penerimaan sakramen ini?

Sakramen adalah tanda, di mana orang kristen mengalami cinta dan perhatian Allah kepadanya lewat Yesus Kristus dalam cara yang khusus. Dalam sakramen-sakramen, apa yang secara nyata diberikan kepada manusia dialami secara simbolis: Pertemuan dengan Kristus. Gereja katolik mengenal tujuh sakramen: Pembaptisan, krisma atau penguatan, ekaristi, sakramen tobat, sakramen minyak suci, tahbisan/imamat dan perkawinan. Sakramen-sakramen ini menemani seluruh perjalanan hidup manusia mulai dari kelahiran sampai ajal menjemput: Dalam sakramen permandian, orang yang dipermandikan menerima hidup baru lewat Kristus. Dengan menerima sakramen permandian ia masuk dan menjadi anggota Gereja. Dalam sakramen krisma, Kristus memberikan penguatan kepada orang yang diurapi dengan Roh Kudus, supaya ia dapat menanggalkan „sepatu masa kecilnya“ dan hidup sebagai orang kristen dewasa yang bertangung jawab dalam dunia sekaligus memberikan kesaksian imannya. Dalam sakramen ekaristi setiap orang kristen bersatu erat dengan Kristus dan dengan saudara-saudaranya. Dalam sakramen tobat Kristus selalu dan secara baru memberikan pengampunan terhadap dosa dan kesalahan. Dalam sakramen minyak suci Ia menopang yang sakit dan membantunya dalam menghadapi sakit yang diderita dan yang membahayakan kehidupannya. Dalam sakramen imamat atau tahbisan Ia memberikan kewenangan kepada yang menerima tahbisan untuk mewartakan sabdaNya dan menerimakan sakramen-sakramen. Dalam sakramen perkawinan, di saat dua insan saling mengatakan „ya“ satu sama lain, pada saat itu Kristus mempersatukan mereka dalam sebuah ikatan perjanjian yang tak dapat diceraikan sampai maut memisahkan.

Sakramen permandian dan ekaristi adalah sakramen-sakramen fundamental. Praktek-praktek sakramen ini banyak didaraskan dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Dengan mengedepankan angka tujuh dalam tujuh sakramen, Gereja katolik merujuk pada sebuah perkembangan tradisi panjang yang sudah bermula dalam kehidupan Gereja purba hingga abad ke-12. Pada abad ke-16 ketujuh sakramen ini justru menjadi obyek sengketa antara denominasi. Sejak saat itu, Gereja-gereja reformasi kebanyakan hanya berpegang teguh pada dua sakramen, yaitu sakramen permandian dan perjamuan kudus (ekaristi). Dalam beberapa tahun terakhir ini sudah terdapat  pendekatan-pendekatan tertentu yang mengarah ke titik temu.

Penerimaan sakramen-sakramen termasuk dalam persyaratan yang harus dipenuhi untuk bisa menjadi orang kristen: Sakramen permandian memungkinkannya untuk masuk dan menjadi anggota Gereja. Ia adalah persyaratan utama. Sakramen ekaristi menjamin persekutuan mesra dengan Kristus seperti yang sudah dijanjikanNya dalam kehidupan di masa datang. Hanya lewat penerimaan sakramen-sakramen inilah kehidupan kristiani itu menjadi nyata. Hanya orang yang hidup dalam persekutuan dengan Kristus, dapat menghidupi panggilannya sebagai orang kristen.

           2. Ekaristi adalah perjamuan dengan Yesus Kristus, dan dengan itu ia adalah ungkapan persatuan denganNya dan di dalamNya bersama Allah.

Ekaristi menjadikan persatuan dengan Kristus itu nyata dan transparan, karena semua yang ikut dalam perjamuan kudus ini mengambil bagian dalam „Tubuh Kristus“. „Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu“ (i Kor 10:16b-17). Malam perjamuan terakhir Yesus bersama murid-muridNya, seperti yang banyak dilansir dalam Kitab Suci Perjanjian Baru (1 Kor 11:23-25; Mk 14:22-25; Mat 26:26-29; Luk 22:15-20) adalah perjamuan terakhir dari sebuah rangkaian panjang perjamuan harian bersama murid-muridNya. Perjamuan bersama sudah selalu menjadi tanda kebersamaan dan persekutuan hidup yang secara jelas dihidupi dengan makan bersama pada meja perjamuan.

Agaknya Yesus mengambil alih forma religius dari tata aturan dan ritus perjamuan yahudi: Mengawali perjamuan, bapa keluarga mengucapkan madah pujian bagi Allah atas roti yang telah disediakan, memecah-mecahkan dan membagikan kepada setiap orang seketul roti (ritus pemecahan roti). Setelah perjamuan bersama, ritus yang sama diulang kembali atas piala dan anggur yang sudah disiapkan. Dari latarbelakang ini, apa yang dilakukan dan dikatakan oleh Yesus pada perjamuan malam terakhir menjadi jelas bagi murid-muridNya. Dengan kata-kataNya: „Ambillah, inilah tubuhKu, [...] inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang“ (Mk 22b dan 24b) Yesus melakukan sesuatu yang melampaui kebiasaan ritus Yahudi, sekaligus memberikan sebuah arti dan nuansa baru kepadanya dengan mengidentifikasikan diriNya sendiri sebagai roti dan anggur. Berhadapan dengan suratan kematian yang berada di depan mataNya, yang dimaksudkan di sini ialah diriNya sendiri sebagai kurban persembahan: Seperti roti yang dipecah-pecahkan, demikian juga tubuhKu akan dicercah; seperti anggur merah yang dituangkan, demikianpun darahKu akan ditumpahkan. Dalam tatanan arti ini, sengsara dan kematian Yesus diartikan sebagai kurban persembahan dan kurban silih.

Sebagai kenangan akan perjamuan malam terakhir ini, orang kristen selalu dan terus merayakan perjamuan bersama: „Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan“ (1 Kor 11:26), demikian Paulus. Tetapi Perjamuan kenangan ini bukanlah sebuah perjamuan penuh kesedihan, melainkan sebuah perjamuan penuh kegembiraan berkat kebangkitan Yesus (1 Kor 15). Perjamuanini adalah sebuah perjamuan untuk melambungkan syukur, yang pertama syukur atas pengorbanan Yesus, atas kehidupan dan kematianNya „bagi kita“, yang kedua atas persekutuanNya yang mesra dengan kita, karena bagaimanapun juga „Roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus“ (1 Kor 10:16b) dan yang ketiga atas harapan yang diberikan bagi kedatanganNya dalam kemuliaan (bdk. Mk 14:25; 26:29; 22:18).

Ucapan syukur deiterjemahkan dari bahasa Yunani, dari kata eucharistia. Karena itu perayaan syukur ini disebut „Ekaristi“. Ia adalah sentrum setiap persekutuan kristen, jantung Gereja, „roti“, darinya seorang kristen menghidupi hidupnya.

Dengan demikian, Gereja sebagai „umat Allah baru“ adalah sebuah persekutuan yang egaliter atas dasar tubuh Kristus, sebuah persekutuan yang dipersatukan oleh ikatan cinta: „Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!“ (Rom 12: 10-13).

Ikatan persatuan orang kristen serta fundamen peraudaraan dan solidaritas timbal balik mereka bukan lagi lagi didasarkan atas hubungan darah atau ikatan kekeluargaan, melainkan atas iman yang satu dan sama. Toh pada akhirnya Kristus yang bangkit-lah yang mempersatukan  mereka lewat sakramen Ekaristi dalam Roh Kudus.

[Home] [KITAB SUCI] [KE-ALLAHAN YESUS] [SALIB, DOSA DAN PENEBUSAN] [MUHAMMAD SANG NABI?] [ALLAH TRITUNGGAL] [GEREJA] [EKARISTI KUDUS] [DOA] [HAL ROHANI DAN JASMANI] [SELIBAT] [KEANEKARAGAMAN AGAMAN] [JANTUNG KEKRISTENAN] [REGISTER CATATAN KAKI] [INDEKS TOPIK PERTANYAAN] [INDEKS PERTANYAAN] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 1] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 2] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 3] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 4] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 5] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 6] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 7] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 8] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 9] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 10] [IMPRESSUM]