deutsche fahne

Deutsch

us-eng-flag

English

Türkce

Frankreich02

Français

Italia02

Italiano

Spanien02

Español

russland3
Banner

Pertanyaan dan Jawaban 10

Pertanyaan ke-85: Bagaimana pendapatmu tentang teori evolusi? (TR)

Jawaban: Katekismus Katolik untuk orang dewasa (Ed. Konferensi Para Uskup Jerman, 1985) menulis gagasannya berhubungan dengan kompleksitas pertanyaan ini (hal. 93dst.) demikian: „Kalau kita memilah-milah pernyataan teologis dari kisah-kisah biblis tentang penciptaan dan pernyataan-pernyataan profan yang menyertainya, maka dapat dilihat sebuah permasalahan praktis yang krusial: Hubungan antara ciptaan dan evolusi. Kebanyakan pakar ilmu alam modern mengembangkan hipotesisnya, bahwa segala yang material berada pada suatu jalan evolusi menuju bentuk kehidupan dan keberadaan yang lebih tinggi hingga sampai kepada manusia sebagai tujuan evolusi. Berdasarkan hipotesis ini dunia hidup kita sudah berumur sekitar 12 Miliar tahun, bumi tempat kita berpijak berumur sekitar 5-6 Miliar tahun, makhluk hidup pertama sudah berumur sekitar 3 Miliar tahun, sementara kehidupan manusia itu „baru“ berumur sekitar 2 Juta tahun.

Bagaimana hubungan antara pernyataan ini dengan kepercayaan biblis penciptaan dunia? Yang jelas bahwa ajaran evolusi/perkembangan material harus ditolak, - ajaran yang mengatakan, bahwa pada mulanya ada sebuah materi yang tak terciptakan, darinya manusia dengan segala jiwa raganya berasal dan berkembang melewati sebuah perkembangan mekanistis. Teori evolusi dalam kerangka pemikiran ini sampai sekarang tidak lagi dimengerti oleh kebanyakan ilmuwan. Pandangan dan pendapat yang lebih diterima pada saat ini, adalah bahwa ciptaan dan evolusi adalah dua hal berbeda yang menjawabi pertanyaan-pertanyaan yang berbeda pula, sehingga keduanya harus dilihat secara terpisah. Evolusi adalah sebuah term empiris yang bergulat dengan pertanyaan tentang asal muasal (Woher) “horisontal” dan tentang dinamika ciptaan dalam ruang dan waktu. Sebaliknya penciptaan adalah sebuah term teologis yang bertanya tentang sebab (Warum) “vertikal” dan tujuan (Wozu) segala kenyataan. Evolusi selalu mengandaikan “sesuatu” terlebih dahulu; sementara ciptaan menunjukkan, mengapa dan untuk apa sesuatu selalu berubah dan berkembang. Untuk memadukan kedua pandangan ini, banyak teolog zaman ini mengatakan: Allah menciptakan sesuatu itu sedemikian, sehingga ia pun mampu dan berwewenang untuk bisa memberikan sumbangan sendiri bagi perkembangannya. “Allah menciptakan sedemikian, sehingga ciptaan itu bisa menciptakan sendiri lagi”  (P. Teilhard de Chardin). Itu tidak berarti, bahwa Allah hanya berkarya pada awal mula, dan sesudahnya ia membiarkan sendiri ciptaannya berjalan tanpa campur tanganNya. Bukan! Ia selalu menatang kenyataan itu dalam sebuah proses keberadaan yang tak pernah putus dan membimbingnya juga dalam segala dinamika “menjadinya”. Allah itu adalah sebuah kuasa yang mencipta dan melingkupi, yang selalu memberikan kebebasan kepada ciptaanNya untuk berkarya dan mengurus dirinya sedndiri. Justru dalam kekuatan mencipta ini, ciptaanNya menjadi gambar dari Allah pencipta. Nyata, bahwa iman akan ciptaan dan teori evolusi itu pada dasarnya tidak bertentangan satu sama lain. Keduanya memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang berbeda. Masing-masingnya berada pada sebuah tingkatan kategori yang berbeda dan berada di bawah sebuah modus pengertian yang berbeda pula.

Walaupun ada diferensiasi antara keduanya, ilmu alam dan teologi itu bukannya bergelut dengan dua dunia yang berbeda, - dunia yang tidak ada sangkut pautnya satu dengan yang lain.
Keduanya bergelut dengan satu kenyataan yang sama yang ditilik di bawah perspektif-perspektif yang berbeda. Karena itu ilmu alam dan teologi tidak bisa secara serta merta mengelak satu dari yang lain. Keduanya harus terus menerus terpaut dalam sebuah dinamika dialog timbal balik.“

Pertanyaan ke-86: Bagaimana dengan perkawinan beda Gereja? Apakah orang katolik, protestan dan orthodox boleh menikah di antara mereka? (TR)

Jawaban: Hukum Kanon Gereja  Katolik Roma mengatur dalam Codex Iuris Canonici (CIC) tahun 1983 pertanyaan-pertanyaan tentang perkawinan beda Gereja dalam kanon-kanon nomor 1124dst.

Kan. 1124 – Perkawinan antara dua orang dibaptis, yang diantaranya satu dibaptis dalam Gereja katolik atau diterima didalamnya setelah baptis dan tidak meninggalkannya dengan tindakan formal, sedangkan pihak yang lain menjadi anggota Gereja atau persekutuan gerejawi yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja katolik, tanpa izin jelas dari otoritas yang berwenang, dilarang.

Kan. 1125 –  Izin semacam itu dapat diberikan oleh Ordinaris wilayah, jika terdapat alasan yang wajar dan masuk akal; izin itu jangan diberikan jika belum terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

    1° pihak katolik menyatakan bersedia menjauhkan bahaya meninggalkan iman serta memberikan janji yang jujur bahwa ia akan berbuat segala sesuatu dengan sekuat tenaga, agar semua anaknya dibaptis dan dididik dalam Gereja katolik;
    2° mengenai janji-janji yang harus dibuat oleh pihak katolik itu pihak yang lain hendaknya diberitahu pada waktunya, sedemikian sehingga jelas bahwa ia sungguh sadar akan janji dan kewajiban pihak katolik;
    3° kedua pihak hendaknya diajar mengenai tujuan-tujuan dan ciri- ciri hakiki perkawinan, yang tidak boleh dikecualikan oleh seorang pun dari keduanya

Kan. 1126 –  Adalah tugas Konferensi para Uskup untuk menentukan baik cara pernyataan dan janji yang selalu dituntut itu harus dibuat, maupun menetapkan cara hal-hal itu menjadi jelas, juga dalam tata-lahir, dan cara pihak tidak katolik diberitahu.

Kan. 1127 –  § 1. Mengenai tata peneguhan yang harus digunakan dalam perkawinan campur hendaknya ditepati ketentuan-ketentuan kan. 1108; tetapi jikalau pihak katolik melangsungkan perkawinan dengan pihak bukan katolik dari ritus timur, tata peneguhan kanonik perayaan itu hanya diwajibkan demi licitnya saja; sedangkan demi sahnya dituntut campur tangan pelayan suci, dengan mengindahkan ketentuan- ketentuan lain yang menurut hukum harus ditaati.

    § 2. Jika terdapat kesulitan-kesulitan besar untuk menaati tata peneguhan kanonik, Ordinaris wilayah dari pihak katolik berhak untuk memberikan dispensasi dari tata peneguhan kanonik itu dalam tiap-tiap kasus, tetapi setelah minta pendapat Ordinaris wilayah tempat perkawinan dirayakan, dan demi sahnya harus ada suatu bentuk publik perayaan; Konferensi para Uskup berhak menetapkan norma-norma, agar dispensasi tersebut diberikan dengan alasan yang disepakati bersama.

    § 3. Dilarang, baik sebelum maupun sesudah perayaan kanonik menurut norma § 1, mengadakan perayaan keagamaan lain bagi perkawinan itu dengan maksud untuk menyatakan atau memperbarui kesepakatan nikah; demikian pula jangan mengadakan perayaan keagamaan, dimana peneguh katolik dan pelayan tidak katolik menanyakan kesepakatan mempelai secara bersama-sama, dengan melakukan ritusnya sendiri-sendiri.

Kan. 1128 – Para Ordinaris wilayah serta gembala jiwa-jiwa lain hendaknya mengusahakan agar pasangan yang katolik dan anak-anak yang lahir dari perkawinan campur tidak kekurangan bantuan rohani untuk memenuhi kewajiban-kewajiban mereka, serta hendaknya mereka menolong pasangan untuk memupuk kesatuan hidup perkawinan dan keluarga.

Pertanyaan ke-87: Yesus mengatakan: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel“ (Mat 15,24). Apakah dengan ini Yesus menolak semua orang yang bukan keturunan Yahudi? Atau apakah ada maksud lain? (TR)

Jawaban: Pertama-tama saya ingin memaparkan keseluruhan perikop Injil Matheus bab 15, 21-28:

    “Lalu Yesus pergi dari situ dan menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon. Maka datanglah seorang perempuan Kanaan dari daerah itu dan berseru: "Kasihanilah aku, ya Tuhan, Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita." Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawabnya. Lalu murid-murid-Nya datang dan meminta kepada-Nya: "Suruhlah ia pergi, ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak." Jawab Yesus: "Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel." Tetapi perempuan itu mendekat dan menyembah Dia sambil berkata: "Tuhan, tolonglah aku." Tetapi Yesus menjawab: "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Kata perempuan itu: "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya." Maka Yesus menjawab dan berkata kepadanya: "Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki." Dan seketika itu juga anaknya sembuh.“

Di sini kita melihat sebuah adegan dalam Injil yang hidup dan spontan. Matheus menulis adegan ini penuh dinamika mempesona.

Dari waktu ke waktu Yesus berkeliling melewati perbatasan Palestina menuju daerah-daerah kafir. Kali ini Ia menyusuri daerah-daerah Tirus dan Sidon, daerah-daerah yang berada di bagian utara Tanah Suci. Dan tiba-tiba para muridNya berjumpa dengan seorang wanita Kanaan yang berasal dari daerah ini. Ia mulai berteriak: „Kasihanilah aku, ya Tuhan, ‚Anak Daud, karena anakku perempuan kerasukan setan dan sangat menderita.“

Ini adalah sebuah teriakan minta tolong dari seorang ibu berhati cinta, teriakan yang berasal dari sebuah kesesakkan yang menyengat. Anak perempuan wanita ini begitu tersiksa, sehingga ia berpaling kepada Yesus. Ia tentu pernah mendengar tentang Yesus, tentang cinta dan kebaikannya kepada yang sakit, tentang mujisat-mujisat yang dilakukanNya terhadap mereka.
Atas dasar ini ia berpaling kepada Yesus dengan sebuah permintaan konkrit dan dengan iman membara.

Tetapi kali ini Yesus menunjukkan sebuah sikap yang lain dari lain: Ia tidak mendengarkan permintaan wanita itu, malah Ia pun tidak berkata sepatah kata pun dengannya. Dengan ini Ia mau menunjukkan, bahwa Ia tidak mau ikut campur, bahwa Ia tidak ingin memamerkan kekuatan mujisatNya, juga berhadapan dengan wanita yang berada dalam cobaan yang berat seperti ini.

Para muridNya berpaling kepadaNya dan memintaNya untuk berbuat sesuatu bagi wanita ini. Mereka berkata kepadaNya: ‘Bebaskanlah ia (dari kecemasannya), karena ia mengikuti kita dengan berteriak-teriak’. Tetapi apa yang menggerakkan para murid untuk berbuat sesuatu bagi wanita ini pada tempat pertama bukan karena mereka tergerak hatinya oleh belaskasihan, melainkan lebih karena rasa tidak nyaman dengan teriakan ibu itu. Karena bagaimanapun juga teriakannya didengar oleh massa, sehingga semua mata dapat tertuju kepada sekelompok Yahudi asing ini. Maka para muridNya bertindak atas dasar rasa takut dan bukan atas dasar kehendaknya yang murni.

Dalam situasi ini Yesus menjelaskan, mengapa Ia tidak mau campur tangan: Ini tidak termasuk dalam kerangka perutusannya.
Ia bersabda: “Aku diutus hanya kepda domba-domba yang hilang dari umat Israel”. Yesus, Putra Allah, sadar, bahwa selama masa kehidupanNya yang fana di atas bumi perutusanNya hanya terbatas pada umat Israel. Yesus yang lemah lembut dan rendah hati tidak ingin melewati batas yang sudah ditetapkan bagiNya, tidak ingin mengambil inisiatip yang bukan masuk dalam „agenda“ perutusanNya. Ini juga menjadi suatu manifestasi dari kerendahan hati yang dalam dan kepatuhanNya berhadapan dengan BapaNya. Walaupun Ia tidak mengelak dari rasa ibah dan belaskasih, ia tidak ingin mencampur urusannya dengan sebuah mujizat.

Tetapi wanita itu tidak kehilangan harapan, justru yang terjadi sebaliknya. Ia menghampiri Yesus, menyembahNya dan berkata: „Tuhan, tolonglah aku!“ Yesus memberikan jawaban seperti yang Ia pernah berikan. „Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Ini adalah suatu jawaban yang keras dari Yesus: Wanita Samaria itu dibandingkan dengan seekor anjing.

Seyogyanya wanita itu bisa merasa tersinggung dengan ungkapan seperti itu lalu menarik dirinya dan meninggalkan Yesus tanpa mengatakan apa-apa lagi setelah mendengar jawaban dari Yesus yang menghina seperti ini. Tetapi justru tanpa merasa tersinggung, ia tetap berpegang teguh pada permintaannya dan menemukan sebuah cara untuk mengungkapkan permohonannya yang bias menandingin kata-kata Yesus yang kasar. Ia menjawab: “Benar Tuhan! [Dengan itu ia menerima apa yang dikatakan Yesus, tetapi sekaligus menambahkan:] Namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”

Dengan itu wanita ini juga menunjukkan kerendahan hatinya yang dalam: Ia menerima dirinya dibandingkan dengan seekor anjing. Tetapi ia berhasil untuk menggunakan perbandingan yang dibuat Yesus untuk tetap bersikeras pada permohonannya: Kalau anjing-anjing itu tidak mempunyai hak untuk mendapatkan roti yang diperuntukkan bagi tuan, mereka tokh bisa memuaskan rasa laparnya dengan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya. Sungguh suatu yang patut dikagumi: Kekuatan yang ada dalam diri wanita itu untuk bisa menyelamatkan putrinya.

Yesus berkata kepadanya: “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki!” Yesus mengagumi iman wanita itu, mengagumi sikap berkanjangnya dalam mengutarakan permohonannya. Karena itu Ia mengijinkan diriNya untuk melewati batas perutusanNya. Ia berkata kepada wanita itu: „Jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki!“ Sejak saat itu putri wanita Kanaan itu pun sembuh.

Walaupun dari pihak Bapa perutusan Yesus itu terbatas, tetapi Ia bisa mengabaikannya, karena iman wanita ini jelas terinspirasi oleh Bapa. Karena itu Ia merasa seperti digerakkan sendiri oleh BapaNya untuk menunjukkan belaskasihanNya secara penuh. Dengan demikian perikop Injil ini mau menunjukkan keterbukaan Yesus yang universal kepada semua orang yang percaya kepada kuasa dan perutusanNya.

Pertanyaan ke-88: Mengapa Yesus mengutuk pohon ara? Kesalahan apa yang dilakukan oleh sebatang pohon yang sederhana ini? (TR)

Jawaban: Jawabannya dipaparkan dalam dua langkah:

    Arti dari perbuatan/tindakan simbolis para nabi

Para nabi jaman dulu dalam Kitab Suci seperti Samuel, 1 Sam 15,27-28, Ahia dari Silo, 1raj. 11,29-39 (atau nabi palsu Zedekia, 1raj 22,11-12), sudah menggunakan tanda-tanda simbolis dalam pewartaannya, bukan pertama-tama untuk menebarkan rasa takjub pada pendengarnya, melainkan karena nuansa kekuatan-kekuatan yang berada di baliknya: Ada suatu hubungan konkrit antara perbuatan/tindakan simbolis dan kenyataan yang ditandakan olehnya, sehingga kenyataan yang diramalkan itu sungguh-sungguh nyata sebagaimana tindakan simbolis yang diperagakan. Hal ini bisa dilihat secara praktis dalam diri nabi-nabi besar Perjanjian Lama: Misalnya nabi Hosea yang perutusannya ditempa oleh tindakan-tindakan simbolis, - tindakan-tindakan yang menempa suratan kehidupannya, Hos 1-3; juga bisa dilihat dalam diri nabi Yesaya, bdk. Yes 20 dan nama-nama simbolis yang diberikannya kepada anak-anaknya, Yes 7,3 (bdk. 10,21; 8, 1-4; 8, 18). Yeremia menggunakan dan mengartikan begitu banyak tindakan-tindakan dan perbuatan-perbuatan simbolis; demikianpun Yehezkiel. Sebagaimana nabi Hosea, ia menginterpretasikan ujian-ujian dirinya sebagai kejadian-kejadian simbolis. Tindakan-tindakan simbolis dapat juga dilihat dalam Perjanjian Baru, sebagaimana yang ditanyakan dalam forum ini tentang Yesus yang mengutuk pohon ara, Mat 21,18-19/Mk 11,12-14.20-24.

    Ceritra tentang kutukan Yesus terhadap pohon ara

Sebagaimana yang dibuat oleh para nabi zaman dulu, demikian pun juga apa yang dibuat Yesus di sini adaah sebuah tindakan simbolis, dimana pohon ara menggambarkan bangsa Israel yang mandul/tidak menghasilkan buah dan karena itu terkutuk. Pohon ara dapat bertumbuh subur pada tempat-tempat yang irigasinya memadai, tapi juga pada daerah-daerah yang kurang humusnya dan berbatu apabila dipupuki. Karena itu sebatang pohon ara yang tidak menghasilkan buah memang mendatangkan amarah. Memang yang dimaksudkan di sini bukanlah kutukan terhadap sebatang pohon, seolah-olah pohon itu adalah sebuah hakikat yang memiliki kehendak bebas. Juga bukan untuk mempersalahkan orang-orang yang mungkin tidak becus dalam mengurus pohon itu. Yang ingin ditekankan di sini adalah arti tanda atau simbol yang berada di balik tindakan-tindakan simbolis. Alamat yang ditujukan adalah para pendengar Yesus yang kurang iman. Perikop dalam Injil Mateus ini memaparkan Yesus sebagai seorang pribadi yang keras dan selalu menghukum.

Perikop paralel dalam Injil Markus (11,12-14.20-24) menunjukkan, bagaimana episode ini ditambahkan kemudian oleh pengarang Injil Markus dalam sebuah konteks terberi/yang sudah ada sebelumnya dalam dua tahap: Tahap pertama adalah kutukan, diikuti oleh mengeringnya pohon itu – suatu sisipan yang ditambahkan kemudian untuk menunjukkan, bagaimana khasiatnya doa-doa yang menjadikan iman sebagai fundamennya, sebagaimana apa yang terjadi setelah kutukan Yesus.

Pertanyaan ke-89: Bagaimana pikiran dan pendapat kristiani tentang  „manusia“ dan „kehidupan“? (TR)

Jawaban: Jelas bahwa kedua pertanyaan ganda yang luas dalam konteks ini tidak dapat dijawab secara adekwat. Di sini saya hanya memaparkan beberapa aspek penting:

    1. Manusia

Bagaimana pandangan iman kristen tentang manusia? Bagaimana martabatnya dalam perspektif iman kristen?
Manusia diciptakan oleh Allah menurut citraNya. Ia adalah “roh” dan tubuh dan selalu hidup dalam persekutuan dengan Allah. Inilah yang menentukan harkat dan martabatnya.

Diciptakan oleh Allah:
Banyak orang menganggap ini sebagai sebuah masalah, karena menurut mereka perkembangan tubuh manusia itu berawal dari dunia binatang. Tetapi bukankah ini juga termasuk dalam rencana ciptaan Allah, bahwa ciptaan itu sendiri melanjutkan karya Allah? Ia sendirilah yang memberikan kekuatan kepada mereka. Bagi Gereja ini tak dapat diganggu gugat: Setiap jiwa manusia itu diciptakan oleh Allah. Kepada setiap manusia yang lahir ke dunia Allah mengatakan: Aku menghendaki dirimu! Kedua orang tua, ibu dan bapak, ikut berpartisipasi dalam karya Allah ini. Mereka mewujudnyatakan cinta Allah. Tetapi setiap kita secara pribadi adalah ciptaan Allah. Kita bersyukur kepadaNya atas segala keberadaan kita.

Gambar Allah: Ini digambarkan secara jelas oleh Kitab Suci dalam Kisah Penciptaan. Tentu kita bertanya: Dalam hal mana saja kita adalah citra Allah? Jawabannya adalah lewat privilese khusus yang tidak dimiliki oleh ciptaan lain, baik dalam disposisi badan kita yang tegak, maupun terutama dalam kemampuan rohani berkat keberadaan jiwa, pikiran/ratio dan kehendak bebas kita. Semuanya ini memang benar, tetapi belum menjadi yang terpenting. Yang terpenting ialah, bahwa manusia itu adalah satu-satunya ciptaan yang dapat mendengar dan menjawab Allah. Kita adalah mitra Allah. Dibandingkan dengan ciptaan-ciptaan lain, hanya kitalah yang secara sadar berterimakasih dan memuji kemuliaannya. Manusia dapat melupakan atau menyembunyikan kenyataan ini di bawah sadarnya, tetapi ia tidak dapat mengelak darinya. Ia tetap tinggal sebagai mitra Allah.

Kita hendaknya memperhatikan harkat dan martabat manusia, baik diri kita sendiri maupun orang lain tanpa memandang jenis kelamin, pendidikan, agama dan suku. Kita hendaknya memperhatikan kesehatan diri kita dan menjaga nama baik serta menentang segala usaha memperbudak manusia. Terutama: Kita hendaknya selalu berusaha untuk berdialog dengan Allah.

Penghargaan tertinggi bagi umat manusia ialah bahwa putra Allah sendiri menjadi manusia. Yesus adalah gambar Allah dalam arti yang jauh lebih tinggi daripada kita manusia.
Ia ingin mengangkat kita dan menyempurnakan kemitraan kita dengan Allah. Kita hendaknya menjadi anak-anak Allah, putra putri bapa yang kekal. Dan Ia ingin menerima kita sepenuhnya dengan jiwa dan raga ke dalam kemuliaanNya. Sejak permandian kita mengenakan kehidupan, kemuliaan Allah ini dalam diri kita.

Maka seyogyanya kita hidup menurut martabat kemitraan ini yang diletakkan sendiri oleh Allah dalam diri kita. Pertanyaan tentang siapa diri kita – berkat rahmat Allah – hendaknya tidak hilang dari jarak pandang kita setitik pun.

    2.Kehidupan

Arti kehidupan itu dalam iman kristen akan menjadi jelas kalau kita menyimak rahasia kebangkitan Kristus dari orang mati. Paska, pesta kebangkitan Kristus sang Mesias adalah sebuah pesta kehidupan. Pertanyaannya: Dalam arti mana?

Perjanjian Lama sudah selalu memandang Allah sebagai Allah yang hidup, Allah yang menciptakan kehidupan. Itu jugalah yang menjadi harapan umat Israel sejak zaman para nabi. Allah tidak menyerahkan kehidupan manusia itu sepenuhnya kepada kuasa kematian. Pada awalnya harapan ini muncul samar-samar, kemudian – terutama pada zaman pengejaran dan penganiayaan –   ia pun berkobar-kobar: Malah sampai pada pernyataan, bahwa pada akhirnya Ia akan membangkitkan semua orang dari alam maut. Dengan demikian, kebangkitan Yesus berarti dimulainya saat keabadian. Kerajaan Allah ditegakkan, ciptaan baru pun dimulai. Karena itu di malam paska dibacakan perikop tentang penciptaan dunia. Ini adalah ciptaan pertama. Dengan kebangkitan Yesus dimulailah ciptaan baru. Mata kita mulai terarah ke masa depan: Allah akan tetap tinggal sebagai pemenang, keadilan dan cinta akan mengatasi ketidakadilan dan kebencian. Kita sendiri pun akan bangkit. Seluruh dunia akan berubah menuju sesuatu yang baru. Segala-galanya akan hidup lembali: Juga segala hal yang baik yang diam-diam dilakukan tanpa ada yang mengetahuinya.

Pada saat paska kita memiliki sebuah nama baru untuk Allah: Allah kehidupan yang membangkitkan orang-orang mati. Segala pikiran dan perasaan kita akan tertuju pada masa depan: Kristus telah bangkit, Allah akan membangkitkan kita bersamaNya menuju kehidupan yang kekal. Bukan kematian lah yang memiliki kata akhir, melainkan kehidupan. Jaminannya adalah Allah sendiri. Dialah yang menjadi tumpuan harapan yang terakhir, ketika segala kemungkinan kita hancur dan musnah. Siapa yang menaruh kepercayaan padaNya akan memperoleh orientasi baru dalam hidup. Baginya yang terpenting bukanlah „apa yang dapat ia miliki dalam kehidupannya“ di sini dan sekarang, melainkan apa yang Tuhan perbuat bersamaku. PadaNya kita dapat menyerahkan seluruh hidup dan diri kita!

Tentu ini tidak berarti, bahwa orang-orang kristen adalah orang-orang yang terasing dari dunia.  Memang kita harus berusaha, bagi diri kita dan bagi orang lain. Tetapi adalah sebuah perbedaan mendasar untuk mengatakan, apakah seorang berusaha tanpa harapan, bahwa semuanya akan menjadi baik – ataukah seorang percaya dan merasa pasti, bahwa segala usahanya akan berakhir dalam kemenangan Allah. Justru karena bersama Yesus kita adalah pemenang, maka kita dapat memikul segala yang baik dan segala penderitaan dengan penuh kepercayaan. Tanpa kehilangan harapan. Inilah iman paska.
(Disadur dari: Winfried Henze, Glauben ist schön.
Harsum, 2001, hal. 51-53; 89dst.).

Pertanyaan ke-90: Dalam Injil Yesus mengatakan: „Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak“ (Mat 12,32). Apakah Roh Kudus itu lebih tinggi daripada Putra? Bukankah dalam pandanganmu ketiga-tiganya memiliki hakekat yang sama? (TR)

Jawaban: Manusia itu dapat dimaafkan, kalau ia membuat kesalahan berhadapan dengan martabat Tuhan Yesus yang tersembunyi dalam sosok perhambaanNya sebagai „putra manusia“, 8,20. Tidak demikianlah halnya kalau ia menutup mata dan hatinya terhadap karya nyata Roh Kudus yang disempurnakan oleh Yesus. Sejauh ia menumbuhkan dalam dirinya kekuatan-kekuatan yang melawan Allah dan karya-karya Roh Kudus ini dan dengan itu menempatkan Yesus sebagai musuh Allah, dengan sendirinya ia menampik tawaran tertinggi Allah baginya dan menempatkan dirinya di luar jalur keselamatan, bdk. Ibr 6,4-6; 10,26-31.

Pertanyaan ke-91: Mengapa dan bagaimana seseorang digelarkan kudus? (TR)

Jawaban:

    Term

Kanonisasi berarti keputusan resmi Paus tentang kehidupan yang suci dan membahagiakan dari para hamba Allah, „yang secara khusus mengikuti Kristus sebagai teladan hidupnya dan yang mempersembahkan kehidupannya dengan menumpahkan darahnya (para martir) atau juga lewat praktek-praktek kebajikan yang heroik (pahlawan iman) dengan memberikan sebuah kesaksian yang sungguh-sungguh tentang kerajaan Allah“. Pada saat Gereja lewat kanonisasi secara resmi membenarkan, bahwa mereka „mempraktekkan kebajikan-kebajikan secara heroik dan dengan penuh kesetiaan hidup seturut rahmat Allah“, pada saat yang sama ia mengakui „kuasa Roh yang menguduskan yang berkarya di dalam diri mereka. Gereja menguatkan harapan umat beriman, dengan memilih baginya para kudus sebagai teladan dan pendoa.“ Pengakuan resmi inilah yang membenarkan kultus publik para kudus.

    Prosedur

Setelah beatifikasi resmi yang oleh Paus izinan praktek kultusnya terbatas, misalnya hanya untuk sebuah Gereja lokal, konggregasi atau negara, dimulailah proses menuju kanonisasi, dengannya orang bersangkutan mulai masuk dalam daftar para kudus, „canon“. Dari istilah „canon“ inilah  term „kanonisasi“ itu berasal. Disamping penghormatan yang cukup dari pihak umat beriman, untuk kanonisasinya dibutuhkan sebuah tenggang waktu setelah beatifikasi untuk mengumpulkan mujizat-mujizat doa dalam sebuah prosedur lain. Walaupun demikian tidak ada keharusan hukum bagi kanonisasi setelah seluruh prosedur yang ada dipenuhi. Keistimewaan dari beatifikasi atau kanonisasi terletak pada kenyataan, bahwa mereka merupakan suatu kesimpulan logis yang selalu tergantung pada keputusan Paus yang dijatuhkan secara bebas setelah menyimak proses-proses yang ada. Itu berarti, bahwa keputusan terakhir terletak pada tangan Paus, menerima atau menolak. Keduanya pernah terjadi dalam sejarah.

    Arti teologis

Lewat kanonisasi Gereja bukannya pada tempat pertama mau mengakui usaha menuju kesempurnaan pribadi dalam  mengikuti Kristus, juga kalau ini termasuk dalam intensi kanonisasi. Secara teologis, kanonisasi juga bukanlah suatu usaha meraih keselamatan individu, tetapi ia lebih merupakan sebuah usaha untuk mencapai tingkatan-tingkatan kebajikan yang heroik yang nantinya menjadi sentilan atau motivasi untuk mengikuti keteladanan Kristus. Kanonisasi adalah sebuah pengenalan diri Gereja, yang oleh Konsili Vatikan II dikenakan karakternya sebagai Gereja yang berziarah menuju zaman eskatologis dan yang akan bersatu dengan Gereja surgawi (Lumen Gentium 48-51). Para kudus bukan hanya para martir dan pahlawan kebajikan, melainkan juga pewujudnyataan janji keselamat Kristus yang konkrit kepada GerejaNya. Di saat Gereja menjamin janji keselamatan ini bagi mereka, pada saat itu ia juga mengakui dirinya sebagai „suatu yang kudus tak tergoyahkan“, juga sejarahnya. Dengan demikian kekudusan tidak dimengerti sebagai suatu idealisme abstrak dari sebuah tugas moral berlandaskan sesuatu yang transendental, - sesuatu yang selalu mengikuti sebuah skema yang sama; melainkan kekudusan justru mengambil sebuah bentuk khusus yang senantiasa baru, konkrit dan menyejarah, - sesuatu yang tidak terikat pada sebuah skema yang telah ditetapkan. Para Kudus yang beranekaragam dalam latarbelakangnya dengan sifat-sifat serta sejarah idup yang berbeda pula menunjukkan kekhasan kekudusan ini. (Lih. W. Schulz, artikel „Heiligsprechung“, dalam: Lexikon für Theologie und Kirche, vol. 4 (Freiburg: Herder, 1995).

Pertanyaan ke-92: Apa yang dimaksudkan dengan stigmata? (TR)

Jawqaban:

    Term

Stigma (plural: stigmata) berasal dari sebuah kata bahasa Yunani dan berarti sebuah tanda yang digoreskan pada tubuh atau sebuah tato sebagai perhiasan. Ia juga berarti sebuah tanda klasifikasi atau kepemilikan yang dikenakan pada binatang, tahanan atau para budak.

Dalam konteks mistik sengsara Yesus stigma berarti suatu tanda yang muncul bagai goresan stigmata Kristus, baik yang tidak sengaja tergores secara transparan pada tubuh („stigma yang sebenarnya“) maupun yang muncul dalam bentuk rasa sakit yang tak tampak („stigma tak tampak“). Tanda-tanda luka/goresan ini resisten terhadap terapi, aseptik, berdarah secara berkala (sering muncul pada liturgi-liturgi minggu sengsara).

    Sejarah

Sampai abad pertengahan  tidak dikenal adanya fenomen stigmatisasi. Bukti pertama dari adanya stigmatisasi yang benar ialah stigma yang dialami oleh Fransiskus dari Asisi (pada tanggal 14. 9. 1224) di pegunungan Laverna (Tuscany). Berdasarkan kesaksian Seraph pada kuku dan pinggang Fransiskus selalu tampak goresan luka-luka/stigma. Semasa hidupnya Fransiskus selalu menyembunyikan stigmata ini. Kejadian ini baru diperkenalkan sesudah kematiannya oleh rekannya Elias dari Cremona dalam sebuah surat edaran yang dikirimkan ke seluruh biara fransiskan. Efek atau pengaruhnya sangat mencolok, terlihat dari menjamurnya jumlah stigmatisasi. Hingga kini jumlahnya bisa mencapai 350 atau lebih, diantaranya yang dialami oleh Katarina dari Siena (1375) Veronika Giuliani (1697), A. K. Emmerick (1813), Thomas Neumann (1926).

    Arti teologis

Gereja bersikap hati-hati terhadap fenomen stigmatisasi. Yang diperhatikan dalam hal menyangkut mujizat sesuai dengan prinsip dasar keterbukaan adalah perlunya membaca dan mengkaji fenomen itu dalam konteks biografis dan maksud-maksud tertentu (selalu dalam konteks „pembedaan roh“ dengan bantuan ilmu kedokteran, psikologi dan teologi). Terlepas dari penipuan dalam hal stigmatisasi, selalu terdapat rentang jarak keberadaan stigmata antara otosugesti dan karisma, antara yang alamiah dan supranatural. Tidak harus ada hubungan antara stigmatisasi dan kekudusan, tetapi sebuah stigmatisasi yang autentis dapat menjadi rujukan penting pada arti salib dan penderitaan Kristus. Yang perlu dicamkan di sini ialah apa yang berlaku secara umum bagi orang kristen katolik dalam hal mukizat: Bagi seorang kristen yang pernah belajar sejarah kekristenan, ia tahu, bahwa mujizat itu mungkin, baik di zaman dulu maupun sekarang, juga kalau untuk membuktikannya dibutuhkan kriteria-kriteria yang ketat. (Lih.: Andres-Pazificus Alkofer, artikel „Stigma“, dalam: Lexikon für Theologie und Kirche, vol. IX (Freiburg: Herder, 2000).

Pertanyaan ke-93: Mengapa Yesus tidak menulis saja ajaranNya sendiri? (TR)

Pertanyaan ke-94: Injil merincikan begitu banyak pemberitaan yang berbeda satu dari yang lainnya. Kalau memang Roh yang satu dan sama menjadi inspirasi penulisan, mengapa satu hal yang sama diinterpretasikan secara berbeda? (TR)

Jawaban: Pertama-tama yang bertanya dipersilahkan untuk membaca secara teliti buku ini pada bab pertama: „Kitab Suci dan Sabda Allah“, lalu berhubungan dengan pertanyaan 1.b, lihat jawaban kami terhadap pertanyaan 60 pada halaman 7 bagian atas: tentang mengapa terdapat aneka macam Injil.

Pertanyaan, mengapa Yesus tidak menulis saja ajaranNya sendiri, didasarkan pada ajaran islam klasik  seperti yang tertera dalam al-Quran (bdk. Sura 2, 136), bahwa beberapa nabi yang terkenal seperti nabi Moses (Mūsā), Yesus (‛Īsā), Muhammad masing-masingnya menerima Kitab Suci secara langsung dari Allah: Moses menerima Taurat, Yesus menerima Injil dan Muhammad menerima al-Quran (Qur’ān). Menurut iman ini, masing-masing Kitab Suci, -  yang pertama-tama diterima dalam hati dan terbaca melalui bibir para nabi bersangkutan -, langsung ditulis dalam bentuk gulungan buku atau kodeks tanpa ada perubahan kata-kata. Di sini ada dua hal yang ingin ditekankan: Pertama, bahwa dengan cara ini, nabi-nabi yang menerima bisikan langsung dari Allah itu memang menulis kata demi kata apa yang didengarkannya tanpa pemalsuan, dan lebih jauh, bahwa apa yang diwartakannya, yaitu pesan yang diterima dari Allah berdasarkan imannya, juga akhirnya mengambil bentuk tulisan yang tidak dapat dirubah lagi, - tulisan yang tidak lain adalah apa yang didengarkannya secara langsung tanpa menghilangkan satu huruf pun. Kita membiarkan pintu interpretasi ini terbuka lebar, sejauh mana pendapat seperti ini dapat dibuktikan secara historis.

Dalam hubungan dengan Yesus dari Nasaret, ada sebuah konsensus umum dari para pakar kritis, baik kristen maupun non kristen, yang mengatakan: Ia tidak pernah sekalipun mengklaim, bahwa Kitab Suci (dalam tradisi islam disebut dengan kata indschil)
diwahyukan Allah kepada diriNya berdasarkan susunan kata-kata harafiah yang pernah termuat dalam sebuah Kitab Suci sebelumnya. Lebih lagi Ia pun tidak pernah mengklaim, bahwa Ia sendiri ataupun murid-muridNya akan menurunkan pesan ilahi yang dimengerti hanya dalam satu-satunya buku yang disebut indschil.

Proses „kanonisasi“ Kitab Suci, atau lebih tepat, proses hingga terbentuknya Kitab Suci, yang kemudian dikumpulkan sebagai „Perjanjian Baru“ yang adalah Kitab Suci resmi Gereja, dipaparkan secara kritis berdasarkan sebuah konsensus, sebagaimana yang ditulis oleh Teolog Katolik yang terkenal Otto Hermann Pesch:

„Yesus sendiri selalu merujuk atau mengacu pada ‚Kitab Suci’, pada ‚hukum dan para nabi’ (bdk. Mat 22,40), karena di dalamnya (demikianlah yang diajarkan oleh Yesus) tertera Sabda dan Kehendak Allah.

Tetapi dengan kehadiran Yesus, dengan hidup, kematian dan kebangkitanNya serta dengan sabda dan karyaNya kejadian yang sama seperti di masa Perjanjian Lama terulang kembali, demikian pun dengan sabda Moses dan para nabi. Pertama-tama orang menceritrakan secara lisan tentangNya. Dalam kebaktian dan dalam pewartaan sabdaNya diturun temurunkan. Baru kemudian orang menuliskan pertama-tama penggalan kata-kataNya, kemudian penjelasan dan interpretasi sabdaNya; orang menjelaskan pribadiNya dan juga menerangkan apa yang berarti bagi kehidupan imannya. Ceritra, sabda dan interpretasi kemudian mengalir dari tangan-tangan para penulis berbakat dan para teolog yang kemudian menjadikannya satu kesatuan ceritra yang kita namakan „Evangelium“ (kabar gembira), mengikuti kata dalam kalimat pertama dari penulis Injil tertua (bdk. Mk 1,1). Disamping itu masih terdapat „surat pastoral“ dari para rasul, para misionaris dan pemimpin jemaat, terutama dari Paulus.“

Dengan itu terdapat sebuah kumpulan buku baru yang dinamakan ‚Perjanjian Baru’. Sebagaimana umat Israel mempelajari dan menghidupi imannya akan kedekatan Allah kepada umatNya dalam sejarah dari kitab-kitab Perjanjian Lama, demikianpun orang-orang kristen mempelajari dan menghidupi imannya akan kedekatan Allah yang definitip kepada semua manusia dalam diri purtaNya, Yesus Kristus yang disalibkan dan bangkit  dari Perjanjian Baru. Karena itu Perjanjian Baru adalah juga ‚Kitab Suci’ seperti Perjanjian Lama. Di dalamnya kita mendengarkan Sabda Allah persis seperti kita mendengarnya dalam Perjanjian Lama. Maka Kitab Suci Perjanjian Lama tidak dihapuskan dengan adanya Perjanjian Baru. Allah yang berkarya dalam umat Israel adalah Allah yang satu dan sama, Dia yang menampakkan diriNya dalam diri Yesus Kristus yang kita imani. Kedua Kitab secara bersama-sama (yang satunya adalah Kitab Perjanjian dan yang lainnya adalah Kitab Pemenuhan) adalah satu Kitab Suci, sekaligus merupakan piagam iman dan Gereja. Dengan itu pertanyaan yang muncul: Apakah kita boleh percaya kepada Kitab Suci dengan sendirinya terjawab. Pertanyaan ini terjawab, karena Kitab Suci sendiri mengundang kita untuk percaya. Tanpa Kitab Suci kita bukanlah orang-orang kristen, karena tanpanya kita tidak akan pernah beriman. Ini bisa dibandingkan dengan situasi, bagaimana ketika kita bertanya kepada orang yang kita cintai: Apakah saya boleh mencintaimu? Kalau kita mencintai seseorang, kita memang mencintainya dan tidak perlu bertanya, apakah saya boleh mencintaimu? Hal yang sama pun berlaku untuk iman dan Kitab Suci: Sabda yang ada dakam Kitab Suci mengundang kita kepada iman. Kalau kita beriman akan Allah, kita memang sepatutnya beriman. Kitab Suci meyakinkan kita, bahwa kita tidak perlu bertanya lagi, apakah kita boleh beriman kepadaNya.

Kitab Suci sebagai buku yang manusiawi

[Tentu] … kita ingin tahu, apakah segalanya memang benar-benar terjadi seperti yang kita baca dalam Kitab Suci: Terutama ceritra-ceritra yang terkadang tidak dimengerti tentang campur tangan Tuhan secara ajaib dalam perjalanan sejarah.  Kita selalu mendengar dari ‘Kritik Kitab Suci’ atau dari “Ilmu Kitab Suci yang kritis’ yang coba membandingkan berita-berita Kitab Suci dengan pengetahuan-pengetahuan yang ditimba dari sumber-sumber lain tentang waktu dan situasi di zaman beredarnya ceritra-ceritra Kitab Suci. Mereka akhirnya sampai pada kesimpulan: Apa yang ditulis dalam Kitab Suci tidak sepadan dengan situasi saat-saat itu. Ada tumpang tindih antara ceritra dan legenda. Ada bumbu-bumbu tafsiran religius berhadapan dengan pembeberan kenyataan...“

„Di sini kita hendaknya mencamkan satu hal yang penting: Kitab Suci itu berisi Sabda Allah, tapi terbungkus dalam kata-kata manusia. Semakin kita menyimak dan memahami Kitab Suci pertama-tama sebagai kitab yang manusiawi, itu jauh lebih baik. Itu berarti: Penulis-penulis Kitab Suci adalah anak-anak zamannya. Ini diperjelas dengan kenyataan, bahwa mereka menulisnya dalam sebuah bahasa yang dipakai oleh orang-orang yang hidup di suatu tempat pada waktu itu: Bahasa Ibrani dan bahasa Yunani. Mereka menulis kitab-kitabnya sama seperti orang menulis buku pada zaman itu. Misalnya, karena orang-orang di „zaman itu“ lebih mencintai ceritra-ceritra naratip daripada zaman ini, para penulis Kitab Suci banyak mengadopsi ceritra-ceritra dalam kitabnya, bahkan ada banyak ceritra hasil penemuannya sendiri untuk memperjelas, apa yang mau disampaikannya. Tentu kiat yang ada di balik penulisan kitab-kitab itu ialah untuk mempromosikan panggilan akan Allah yang karya-karyanya diwartakan lewat tulisan itu. Apakah kita perlu heran, bahwa interpretasi iman itu berkembang bersama apa yang diwartakan dalam tulisan? Tidak perlu mengejutkan juga, bahwa ada banyak hal yang menurut perkiraan kita tidak ada hubungannya dengan iman diadopsi dalam kitab-kitab mereka, misalnya tentang struktur alam semesta, tentang akhir dunia dsb. Tetapi mereka tidak menulisnya seperti sebuah buku pelajaran moderen, dimana segala-galanya ditulis secara sistematis, juga tidak seperti berita-berita surat kabar yang ‚obyektip’ atau protokol kepolisian, karena memang mereka tidak mengetahui deteil-deteilnya. Dan seandainya disampaikan kepada mereka, bahwa tulisan-tulisannya penuh dengan legenda, mereka tentu tidak akan mengerti, mengapa sampai tudingan-tudingan seperti itu diarahkan kepada mereka.

Sabda Allah itu tidak dapat diperkenalkan secara lebih baik lagi, daripada seperti yang disampaikan para penulis Kitab Suci dalam segala cirikhas kemanusiaan dan sejarahnya. Kalau Kitab Suci itu lain daripada yang sekarang kita miliki, kalau misalnya ia ditulis seperti apa yang kita harapkan, pasti kehidupan iman kita tidak seperti yang kita harapkan, dan kita juga tentu tidak memiliki Kitab Suci sama sekali. Ini sangat gampang dijelaskan. Kalau para penulis Kitab Suci diilhami oleh Roh Kudus dan menulis kitab-kitabnya sesuai dengan roh dan semangat abad ke-20, pasti orang-orang di zamannya tidak akan mengerti. Pasti tidak ada orang yang merasa tersentuh dan disapah oleh tulisan-tuilisannya. Akibatnya tidak ada orang pun yang menaruh minat, tidak ada orang yang merekam dan menyimpannya serta mencatatnya, ya tidak ada orang yang menterjemahkannya ke dalam bahasa lain dan menyebarluaskannya – singkatnya sampai sekarang kita tidak tahu apa-apa tentang Kitab Suci. Maka ada alasan mendasar kalau Sabda Allah itu tersembunyi dalam kata-kata manusia. Kita hendaknya berterimakasih dan tidak perlu mengeluh, karena kita yang hidup kemudian dan lahir di tempat yang lain masih bisa diijinkan bukan hanya menerjemahkan Kitab Suci, tapi juga menjelaskan dan menginterpretasikannya untuk lebih memahami dan mengertinya.“ (Kleines katholisches Glaubensbuch.
Topos Taschenbuch nr. 29; Edisi ke-13, 1992.)

Dalam kuasa menjelaskan dan menginterpretasi Kitab Suci selama berabad-abad lamanya sesuai dengan zaman dan situasi yang baru, Gereja dijanjikan rahmat pendampingan oleh Roh Kudus. Berdasarkan ajaran katolik, Roh Kudus lewat kuasa mengajar (Magisterium) dari ahli waris Santu Petrus, Uskup Roma dalam persekutuan dengan para Uskup lah yang menjamin penafsiran-penafsiran itu dari kekeliruan-kekeliruan mendasar, terutama menyangkut ajaran iman dan moral.

Pertanyaan ke-95: Apa pendapatmu tentang buku „The Da Vinci Code“ karya Dan Brown? Apakah menurut pendapatmu buku ini menyerang anggota gerakan „Freemason“ dalam Gereja katolik? (TR)

Jawaban: Bukan tujuan dari Homepage ini untuk membicarakan dan menganalisa karya-karya fiktif. Setelah saya membacanya, terutama tentang apa yang dikatakan penulis perihal dirinya dan romannya, saya berkeberatan dengan orang yang mengatakan, bahwa Dan Brown bertujuan untuk menyerang Gereja  dan bahwa ia mengidentifikasikan dirinya dengan posisi yang diwakili oleh apa yang dinamakan „Freemason“ (Freimauer). Roman ini harus dibaca sebagai sebuah karya imaginatif/fiktif, bukan sebagai sebuah bentuk pemaparan historis. Dengan itu dibuka pintu yang lebar untuk interpretasi-interpretasi lepas. Siapa yaang ingin membangun sebuah opini pribadi yang handal tentang roman ini, hendaknya memperhatikan factor-faktor yang saya sebutkan di atas.  Informasi lebih lanjut bisa dilihat pada: : http://www.danbrown.com/novels/davinci_code/faqs.html

 

[Home] [KITAB SUCI] [KE-ALLAHAN YESUS] [SALIB, DOSA DAN PENEBUSAN] [MUHAMMAD SANG NABI?] [ALLAH TRITUNGGAL] [GEREJA] [EKARISTI KUDUS] [DOA] [HAL ROHANI DAN JASMANI] [SELIBAT] [KEANEKARAGAMAN AGAMAN] [JANTUNG KEKRISTENAN] [REGISTER CATATAN KAKI] [INDEKS TOPIK PERTANYAAN] [INDEKS PERTANYAAN] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 1] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 2] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 3] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 4] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 5] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 6] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 7] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 8] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 9] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 10] [IMPRESSUM]