deutsche fahne

Deutsch

us-eng-flag

English

Türkce

Frankreich02

Français

Italia02

Italiano

Spanien02

Español

russland3
Banner

Pertanyaan dan Jawaban 3

Pertanyaan ke-27: „Sejak saya mulai membaca Kitab Suci, pikiranku selalu diusik oleh pertanyaan ini: Bagaimana mungkin kisah yang diceritrakan oleh Kitab Suci perjanjian lama ini bisa terjadi, bahwa Putri Lot membuat ayahnya mabuk lalu tidur dengannya sampai ia mengandung? Apakah ada penjelasan lain untuk memperjelas ceritra ini? Terhadap pertanyaan: mengapa putrinya sampai berbuat demikian, dalam penjelasan lanjut dikatakan, bahwa dalam kota itu tidak terdapat lagi laki-laki yang subur secara biologis. Juga dijelaskan, bahwa setelah penghancuran Sodom dan Gomorra Abraham melihat debu dan asap membubung tinggi dari kota-kota yang dibumihanguskan. Mengapa putri Lot tega melakukan dosa yang senonoh ini? Bagaimana seorang yang manamakan dirinya nabi bisa terperosok masuk dalam perbuatan dosa seperti ini?“ (TR)

Jawaban: Teks Kitab Suci yang dimaksudkan oleh Penanya ialah Genesis 19:30-38. (Dalam Kitab Suci Jerusalem [Jerusalemer Bibel] diberi judul: Asal-usul orang Moab dan Amon).

a. Secara literar-historis teks ini dilihat sebagai sebuah apendix atau catatan tambahan yang diselipkan dalam Kitab Kejadian. Bisa jadi ia merupakan ceritra yang diturunkan oleh orang-orang Moab dan Ammon (bdk. Kitab Bilangan 20:23 dst.), yang bertujuan untuk meligitimasi keturunan mereka sebagai keturunan yang bermartabat tinggi (bdk. Kej 38). Sebagaimana Tamar (bdk. Kej 38,1, 1 Tawarikh 2:4 dan Mat 1:3) tindakan Putri Lot dalam perikop ini tidak dilihat sebagai perbuatan zinah. Yang diinginkan hanyalah kelanjutan keturunan, terutama keturunan dari sukunya. Alasan ini nampaknya legitim di mata penulis teks ini. Ayat 31 mengatakan bahwa Lot dan putrinya adalah satu-satunya yang luput dari bencana. Ceritra tentang Sodom yang dibumihanguskan karena dosa-dosa umat dan penduduknya, memiliki kesamaan dengan ceritra  yang berasal dari Yordan Timur tentang bencana air bah.

b. Kitab Suci – dan ini yang membedakannya dari al-Quran – menceritrakan tentang pengalaman-pengalaman yang dibuat oleh manusia dalam sejarahnya yang panjang bersama Allah, - Allah yang mewahyukan diriNya dalam Sabda dan perbuatan. Lebih jauh, ia juga memberikan kesaksian tentang proses pembelajaran umat Israel dalam hubungan dengan pengertian kebenaran tentang Allah dan manusia, tentang hubungan antara Allah dan manusia. Dalam konteks ini dapat dimengerti, kalau Kitab Suci mempresentasikan juga dalam ceritranya pribadi-pribadi yang handal dan berpengaruh dengan seluruh kelemahan-kelemahan manusiawinya, termasuk para bapa bangsa dan para nabi. Tetapi ini tidak melunturkan kepercayaan, bahwa kebaikan dan belaskasihan Allah tokh mengatasi kelemahan dan dosa-dosa manusia. Allah tetap merealisasikan rencana keselamatannya justru melalui manusia yang lemah dan berdosa. Dalam teologi kristen tidak terdapat ajaran yang mengatakan, bahwa para nabi itu adalah orang-orang yang bebas dari dosa. Satu contoh:  Kitab Suci menceritrakan secara blak-blakkan tentang dosa berat yang dibuat oleh Nabi Daud dalam hubungan dengan ceritra tentang Uriya dan Batseba (2 Sam 11). Tetapi ceritra ini tidak berhenti di sini. Ia juga menceritrakan tentang pertobatan pribadi dan penyesalan Daud di depan umum serta usahanya untuk „membayar“ dosa-dosa yang telah dilakukannya. Mazmur 51, salah satu mazmur tobat yang paling terkenal, adalah mazmur yang dialamatkan kepada Raja Daud.

Hanya Yesus dari Nazaret, Kristus lah yang tidak pernah berbuat dosa meurut kesaksian Kitab Suci Perjanjian Baru. ( Menarik untuk menyimak di sini sebuah tradisi dalam Islam, Sahih [Fadā’il, 146]  yang mengatakan: „Tak seorang pun dari makhluk terlahir yang tidak diserang kuasa setan, kecuali Yesus, putra Maria“). Maria, ibu Yesus – menurut iman kristen – adalah dia yang „penuh rahmat“ (Luk 1:28), karena ia memang terberkati oleh Allah atas dasar rahmat pilihan yang tak terselami. Ia juga „penuh rahmat“ karena ia dengan kepercayaan penuh menyerahkan seluruh dirinya bagi Allah, membiarkan dirinya dilingkupi oleh cinta dan rahmat Allah – rahmat yang juga dituangkan dan diwahyukan kepada kita lewat Yesus Kristus. Menurut ajaran Gereja katolik dan Gereja orthodox, dalam kehidupan selanjutnya pun, Maria sungguh hidup tak bercelah, tanpa dosa-dosa pribadi. Gereja timur memperjelasnya dengan ungkapan „Yang kudus dan suci dalam segala dimensi kehidupan“ (Ganz-Heilige). Yang dimaksudkan ialah kekudusan dan kesuciannya sejak awal mula dan dalam segala aspek kehidupan.

Pertanyaan ke-28: „Kalau Allah mencintai manusia, mengapa ia mengutus begitu banyak nabi? Mengapa Ia membiarkan manusia dari berbagai agama dan golongan saling berperang dan membunuh satu sama lain? Lebih lagi: Dalam Kitab Taurat (Perjanjian Lama) Allah justru memberikan perintah: „Bunuhlah semua manusia di kota ini!“ Bagaimana bisa dikatakan, bahwa Allah mencintai semua manusia?“ (TR)

Jawaban: (Sebagian besar jawaban atas pertanyaan ini diambil dari sebuah makalah perihal pertanyaan tentang kekerasan dalam Perjanjian Lama yang pernah dibawakan oleh Prof. Dr. Norbert Lohfink dari Sekolah tinggi Filsafat dan Teologi Sankt Georgen, Frankfurt).

1. Baik dalam al-Quran maupun dalam Injil, Pengutusan para nabi dilihat sebagai ungkapan belaskasihan Allah. Walaupun manusia sering melupakan Allah dan terus menerus melanggar perintahNya, Ia tetap mengutus para Nabi kepada manusia. Tugas yang diembannya ialah mengingatkan manusia akan Allah beserta seluruh hak dan kewajibannya. Disamping itu mereka juga menyadarkan manusia, bahwa sebagai makhluk ciptaan ia hendaknya berterimakasih kepada Allah dengan segenap hati dan budi, mengikuti segala petunjuk yang diberikan Allah dengan penuh ketaatan, dan pada akhirnya ia harus mempertanggungjawabkan sendiri segala perbuatannya di hadapan Allah pada pengadilan terakhir. Lebih lagi, mereka memiliki sebuah tugas mulia, yaitu mewartakan perintah Allah tentang hak atas kehidupan yang tidak dapat diganggu gugat sekaligus mengingatkan manusia atas kewajibannya untuk menggalang keadilan serta menghormati hak-hak kaum miskin dan orang-orang yang lemah dan terlupakan.

Kitab suci banyak berbicara juga tentang pengutusan para nabi. Perjanjian Baru mengetengahkan perutusan Yesus sebagai yang terakhir dan melampaui segala perutusan para nabi sebelumnya. Bdk. Ibr 1:1-4: “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada; Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi, jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka”. Allah mewahyukan cintanya kepada manusia dalam diri Yesus Kristus lewat sebuah cara yang mengatasi segala alur pemikiran manusia. Baca kembali Bab ke-12 buku ini, III, 2.

2. Pada bagian kedua pertanyaan disentil tentang peran dan pengaruh kekerasan dalam Kitab Suci dan bagaimana pesan dari ceritra-ceritra tentang tindakan tanpa kekerasan dalam Kitab Suci. Pada prinsipnya: Kitab Suci mewartakan perdamaian, bukan kekerasan. Inilah yang harus ditekankan pada tempat pertama, karena ada begitu banyak orang yang berpendapat, bahwa agama-agama monoteisme, terutama agama kristen adalah agama yang tidak toleran dan menjadi biang peperangan di dunia. Di sini harus ditarik sebuah distinksi yang jelas. Yang menjadi kewajiban kita, ialah mengutamakan dan mengejar perdamaian. Allah memang menjanjikan, bahwa perdamaian itu akan datang dalam sejarah dunia. Tetapi harus ditambahkan, bahwa janji perdamaian ini bukan berlaku bagi semua manusia secara serempak. Janji ini pertama-tama ditujukan untuk sebuah suku bangsa tertentu. Janji ini adalah suatu janji mesianis. Hanya lewat suku bangsa tertentu ini, perdamaian itu bisa merambat keseluruh penjuru manusia. Dengan itu sudah bisa dilihat suatu motif dari seluruh ceritra biblis tentang kekerasan dan perdamaian: Peran umat Allah tertentu bagi solusi permasalahan kekerasan. Inilah yang harus diperhatikan dalam usaha menyimak ceritra-ceritra itu.

        
Pemaparan kekerasan dalam ceritra-ceritra biblis purba, Genesis 1-11.

“Ceritra biblis purba” tidak didasarkan pada hypotese-hypotese tentang “Urknall” (penciptaan bumi yang berawal dari ledakan materi) atau evolusi manusia  dari binatang, ataupun penemuan api, melainkan pada gambar-gambar atau metafer-metafer naratif. Gambar-gambar naratif yang ditempatkan pada awal kisah penciptaan bukan menceritrakan sesuatu yang hanya terjadi sekali pada awal, melainkan “sesuatu yang terjadi selalu dan di mana-mana”. Inilah dasar keseluruhan ceritra yang berlaku bagi semua orang di segala zaman.

Kisah-kisah purba seperti ini terdapat di mana-mana. Kalau kita membandingkan ceritra-ceritra purba setiap bangsa, maka kita akan menemukan suatu perbedaan besar satu dari yang lainnya. Demikian misalnya dalam ceritra purba tentang Mesopotamia, sebagai tema utamanya adalah manusia yang sudah ditakdirkan untuk bekerja keras dan pertanyaan tentang ledakan penduduk. Dalam Kitab Suci, tema utamanya adalah kecendrungan kepada kekerasan. Ini mungkin mengejutkan kita. Seringkali kita kurang menyadari, bahwa ceritra tentang taman Firdaus dan kejatuhan manusia dalam dosa  tidak berakhir dengan pengusiran manusia dari Taman Firdaus, melainkan dengan ceritra tentang Kain. Dan bahwa ceritra tentang Kain tidak berakhir dengan pembunuhan adiknya Abel, melainkan dengan Kidung Lamekh pada akhir kitab Kejadian bab keempat. Dosa pusaka  manusia bukanlah „dosa pertama“, melainkan „dosa asal yang khas“ (urtypische Sünde). Sebagai „dosa asal yang khas“ ia memiliki dua aspek ganda: Aspek „Allah-Manusia“ dan aspek „Manusia-Manusia“. Aspek “Allah-Manusia” menggambarkan dosa taman Firdaus, sementara aspek “Manusia-Manusia” melukiskan apa yang diceritrakan dalam bab keempat tentang Kain dan Abel. Sebuah pembunuhan baru terjadi pada generasi kedua sejarah kemanusiaan. Ketidaksetiaan dan ketidaktaatan berhadapan dengan Allah dan pembunuhan saudara adalah dua sisi dari satu mata uang. Ketika tidak ada lagi kepercayaan terhadap Allah, pada saat itu akan hilang juga kepercayaan yang menjadi dasar bagi hubungan antar manusia. Konsekwensinya ialah munculnya persaingan yang bisa berujung ke usaha pemusnahan lawan lewat kekerasan.

Yang menjadi intisari dari ceritra tentang Kain bukanlah pembeberan fakta-fakta, melainkan apa yang terjadi setelahnya atau konsekwensi yang mengikutinya: Allah melindungi Kain dari konsekuensi perbuatan kekerasannya yang pertama. Konsekwensi-konsekwesi yang menyertainya bisa terjadi dalam bentuk munculnya kekerasan baru yang lebih brutal. Allah lalu membiarkan semacam sebuah institusi yang meredam kekerasan baru, yaitu pembalasan dendam kesumat. Pembalasan dendam ini adalah sebuah institusi preventif. Hukuman atas kekerasan lewat ancaman pembalasan dendam adalah sarana untuk membatasi dan menghalangi kekerasan itu sendiri. Menyimak institusi manusia pertama ini, ceritra Kain sebenarnya membeberkan secara singkat segala budaya dan sivilisasi manusia. Sayangnya kita tidak dapat menunjukkan di sini, bagaimana ceritra tentang air bah (Kej 6:11-13) dengan aktor utamanya Nuh yang bisa memperjelas lagi argumen ini.

Secara singkat dapat disimpulkan, bahwa dalam ceritra-ceritra biblis purba, kecendrungan untuk mengatasi permasalahan lewat penggunaan kekerasan merupakan hal yang biasa dan lumrah, malah sepertinya sudah menjadi takdir, dan bahwa penanggulangan kekerasan lewat ancaman serangan balik yang pada  zaman ini sudah menjadi alternatif satu-satunya untuk mengatasi permasalahan kekerasan demi tujuan perdamaian sudah menjadi suatu hal yang tak dapat dielakkan lagi, malah sudah menjadi sesuatu yang dikehendaki Allah. Dalam ceritra-ceritra purba ini diketengahkan sebuah pendasaran biblis, bahwa para penanggung jawab pemerintahan dan masyarakat serta para pakar etika yang memberikan nasihat dan pertimbangan kepada mereka hendaknya memikirkan, bagaimana kecendrungan-kecendrungan baru yang muncul sehubugan dengan kekerasan dapat diatasi atau dibatasi dengan ancaman balasan yang langgeng – ancaman balasan yang pada akhirnya tidak dilihat lagi sebagai sebuah aksi kekerasan. Itulah cara pemecahan masalah kekerasan yang ditunjukkan oleh ceritra Kain dan Nuh dalam Kitab Kejadian.

Apakah dengan ini kita sudah sampai pada sebuah pernyataan biblis definitip tentang kekerasan? Justru sebaliknya: Ini barulah pernyataan biblis awal yang sebenarnya tentang masalah kekerasan. Apakah Allah sungguh membiarkan dunia dikuasai oleh kekerasan yang tidak bertepi dan menjadikannya sebagai neraka kekerasan? Dalam ceritra tentang bencana air bah sudah terlihat sebuah motif ilahi tindakan Allah: Jika ciptaan Tuhan terjebak pada jalan yang keliru dan salah, Allah tidak berusaha untuk menghancurkannya secara serempak. Sebaliknya Ia hanya mengambil satu titik lemah sebagai dasar tindakanNya untuk memulai sesuatu yang baru. Seluruh bumi musnah oleh air bah, tetapi ia tidak membiarkan Nuh juga tenggelam. Ia mengambil dan menyelamatkannya dari bahaya air bah dan memulai sesuatu yang baru dengannya. Hal yang sama dapat kita lihat pada ceritra tentang Abraham. Lewat Abraham Allah membiarkan sebuah kelompok baru muncul – kelompok yang tidak lagi menjadikan kekerasan sebagai dasar kehidupan eksistensialnya, melainkan kelompok yang mengutamakan perdamaian. Perdamaian yang dicapai inilah merupakan perdamaian yang langgeng dalam arti sebenarnya. Allah menjadikan sebuah bangsa pilihan sebagai „locus“ perdamaian.

Masalah pokok yang kita hadapi ialah apa yang dinamakan jalan kusus (Sonderweg). Bukankah semua ciptaanNya berarti di mata Allah? Bukankah pada zaman sekarang, dimana kita semua terkait dalam jaringan pemikiran dan tindakan global, harus melihat kenyataan secara keseluruhan? Mengapa Allah justru memilih satu-satunya keluarga, lalu satu-satunya suku bangsa, dengannya Ia menjalin sebuah sejarah khusus? Dalam hubungan dengan pertanyaan-pertanyaan ini, penting untuk menyimak, bahwa langsung sebelum Kitab Suci memaparkan ceritra tentang panggilan Abraham, justru dibeberkan kisah menara Babel. Yang mau ditunjukkan di sini ialah aktus yang melibatkan seluruh umat manusia. Pertama-tama dipaparkan tentang tindakan melawan kekuasaan langit (surga), melawan Allah, dan berakhir dengan pengacaubalauan bahasa, ya dengan perselisihan dan pertengkaran. Permulaan baru yang dimulai bersama Abraham memang masih bersifat partikular, tetapi tujuannya sudah menyangkut seluruh umat manusia. Perikop-perikop dalam Kitab Yasaya bab 2 dan Mikha bab 2 yang berbicara tentang pedang-pedang yang ditempa menjadi mata bajak dan tombak-tombak menjadi pisau pemangkas menunjukkan sebuah titik akhir sebuah garis harapan yang sudah dimulai dengan ceritra Abraham. Kedua nabi, Yesaya dan Mikha juga menunjukkan gambar tentang Yerusalem yang dimenangkan bagi Allah di masa depan. Pada saat itu gunung Sion akan menjulang melampaui semua gunung gemunung di dunia. Lebih jelas: Keturunan Abraham akan menjadi sebuah bangsa yang disegani dan dikagumi oleh bangsa-bangsa yang lain. Mereka beranjak pergi menuju sebuah tempat yang telah ditunjukkan untuk belajar, bagaimana menjadi bangsa yang beradab. Dan memang mereka akhirnya mendapat petunjuk untuk tidak menggunakan kekerasan senjata demi mencapai martabat ini. Dan petunjuk ini disampaikan lewat bangsa pilihan Allah, sebuah bangsa yang menjadi bagian dari keseluruhan suku bangsa. Dalam penghayatan eksistensinya yang mencerminkan kehendak Allah, mereka akhirnya menunjukkan, bahwa petunjuk Allah yang merujuk pada  perdamaian itu mungkin.

Perikop-perikop Kitab Suci di atas yang berasal dari zaman yang berbeda menunjukkan, bahwa pencapaian perdamaian itu melewati sebuah sejarah yang panjang penuh liku. Pada prinsipnya, umat pilihan Allah yang dijadikan sebagai contoh bagi bangsa-bangsa lain, harus masuk dalam sebuah proses metamorfosa yang panjang dan penuh derita sampai pada perubahan sikapnya dalam hubungan dengan kekerasan. Pada tahap pertama, mereka harus melihat dan belajar, betapa dunia hidup manusia itu dikuasai oleh kekerasan. Kitab suci justru menghancurkan tabir yang melindungi kekerasan. Ia tidak membuang pandangannya dari tabir kekerasan, melainkan menyimaknya secara teliti. Dan semuanya ini tidak hanya diturunkan kepada bangsa-bangsa lain, melainkan kepada Israel. Eksistensi Israel tidak bisa dipisahkan dari kekerasan dan perang, dan betapa sulit baginya untuk mengelak dari kenyataan ini. Kekerasan dan perang tetap kembali dan menjadi tamu dalam  pengembaraannya. Kitab Suci tidak memanis-maniskan kenyataan ini, melainkan mengungkapkannya sebagai kenyataan yang tak dapat dipungkiri. Tidak mustahil kalau kita mendapat kesan, bahwa Kitab Suci Perjanjian Lama adalah Buku yang penuh dengan kekerasan dan darah. Pembaca yang tidak mengerti dan memahami latar belakang ini akan terkejut dan bisa tergoda untuk tidak membaca lagi ceritra ini dan mencari buku-buku lain yang lebih memanis-maniskan situasi. Yang terpenting ialah membiarkan diri dibimbing oleh kata-kata Kitab Suci, dan dengan bantuannya kita dapat menyimak sendiri kekerasan yang melekat pada kepribadian kita. Akan menjadi lebih sulit kalau kita menyimak kenyataan, bahwa dalam kitab-kitab Perjanjian Lama kita tidak dapat melihat kembali klimaks dari ceritra tentang kekerasan, melainkan bahwa dalam arti tertentu kita pun berjalan bersama bangsa Israel dalam sejarahnya yang tidak luput dari sejarah kekerasan. Lebih lagi, pemahaman kita tentang dunia hidup kita tidak terlepas dari pemahaman kita tentang gambar Allah yang menyertainya. Siapa yang dalam hati kecilnya mendewa-dewakan kekerasan, ia akan memproyeksikan juga pendewaannya dengan mengedepankan Allah sebagai Allah yang menghendaki kekerasan. Inilah kenyataan yang kita alami dalam sejarah bangsa Israel seperti yang dilukiskan dalam Perjanjian Lama. Menyimak kenyataan ini adalah suatu hal yang penting, karena sejarah kita zaman ini tidak berbeda dari sejarah bangsa Israel dalam Perjanjian Lama.

Supaya masyarakat manusia yang mempertahankan eksistensinya dengan mengedepankan kekerasan dapat berfungsi, adalah penting untuk sejauh mungkin membuka tabir kekerasan. Langkah pertama yang diambil oleh Perjanjian Lama untuk menuju sebuah dunia tanpa kekerasan adalah menunjukkan kenyataan secara kasat mata, bahwa  kekerasan merupakan suatu kenyataan yang sangat mendominasi kehidupan, juga kenyataan sejarah hidup bangsa Israel. Karena itu, dibandingkan dengan karya-karya sastra yang lain, baik nasional maupun religius, Kitab Suci Perjanjian Lama  adalah sebuah buku yang paling banyak berbicara tentang kenyataan kekerasan ini. Kekerasan yang secara de facto menjadi suatu hal yang inherent pada sejarah bangsa Israel diceritrakan oleh Kitab Suci tanpa tedeng aling-aling. Ini harus dilihat secara positip. Siapa yang melihatnya dari sisi lain, harus dapat juga bertanya diri, apakah ia dapat juga menjadi agen bagi stabilisasi struktur-struktur masyarakat yang penuh kekerasan, kalau ia sendiri menutup-nutupi fenomen kekerasan itu. Suatu langkah maju lagi untuk menelanjangi dan meminimalisasi kenyataan kekerasan dalam masyarakat dapat terjadi, kalau kita mampu menunjukkan kekerasan itu sebagai pusat segala dosa manusia.

Sementara langkah pedagogis pertama untuk mengantar bangsa Israel menuju suatu masyarakat yang damai adalah dengan menunjukkan kenyataan kekerasan itu apa adanya, langkah kedua yang ditempuh adalah dengan menjadikan kenyataan kekerasan sebagai suatu hal yang tak terpuji. Kekerasan dikecam, dikutuk, dan semua orang dihimbau untuk menghindar darinya. Kenyataan-kenyataan ini dapat dilihat dalam kitab nabi-nabi besar. Di sana ditunjukkan, bagaimana kekerasan itu berhubungan langsung dengan ketidakadilan dan kurangnya solidaritas. Dalam setiap masyarakat, selalu ada orang yang terlupakan dan orang-orang yang kalah dalam kehidupan. Bagaimana pun juga selalu ada kenyataan ketimpangan kondisi kehidupan dan kesempatan meraih masa depan. Menurut pandangan biblis, keadilan dan perdamaian dalam suatu masyarakat akan dicapai kalau orang yang kuat membantu yang lemah. Hanya dengan itu kehidupan masyarakat manusia akan menajdi „masyarakat yang adil“. Bersamaan dengan keadilan dan solidaritas harus ada keinginan dan kehendak untuk berdamai. Bahwa ketegangan dan perselisihan itu selalu ada, ini memang patut dipersalahkan, tetapi ini sering terjadi tanpa pembuktian kesalahan peribadi. Yang menjadi pertanyaan ialah bagaimana melihat secara jeli situasi yang ada, dan bagaimana berusaha untuk memupuk kehendak baru demi menciptakan perdamaian dalam masyasrakat.

Proses perdamaian seperti yang diuraikan di atas harus dilalui oleh umat pilihan dengan susah payah sambil terus belajar dan belajar. Umat Israel dituntun dalam sebuah proses panjang menuju perdamaian. Pengalaman demi pengalaman dialami, terutama pengalaman pembuangan Babilonia, saat mereka melihat dengan mata kepala sendiri, betapa kekuasaan dan martabat mulia negara diinjak-injak dan hancur berantakan. Dari pengalaman-pengalaman ini mereka belajar, bahwa lebih baik menjadi kurban daripada menjadi pemenang yang serakah dan kejam. Mereka juga akhirnya sadar, bahwa setiap perdamaian yang langgeng tidak pernah berasal dari para penguasa dan pemenang, melainkan dari para korban. Perdamaian yang sejati tidak dapat diciptakan oleh manusia. Ia hanya bisa mungkin sebagai mujizat dari Allah.

Pengalaman-penglaman ini adalah pengalaman kolektif dalam situasi pembuangan. Karena kesalahannya sendiri, bangsa Israel akhirnya tenggelam dan jatuh dalam pembuangan. Tetapi tiba saatnya dimana situasinya berbalik. Bangsa yang menjadi pemenang akhirnya berubah menjadi bangsa yang mengandalkan kekerasan dan bertindak tidak adil. Seluruh bangsa Israel menjadi kurban yang menantikan penyelamatan dari Allah. Dulu tersebar pandangan yang mengatakan, bahwa dalam perkembangan sejarah selanjutnya Allah akan melakukan tindakan yang sama bagi seluruh bangsa lewat bangsa Israel. Dan inilah kenyataan yang terlihat dalam kidung ke-4 nyanyian hamba Yahwe, sebuah perikop yang menakjubkan dalam Perjanjian Lama (Yesaya 52:13-53:12). Dalam kidung ini, teologi perdamaian dalam Perjanjian lama mencapai puncaknya, walaupun ia tetap tinggal sebagai perikop yang penuh nuansa teka-teki. Teologi ini baru mencapai kedalamannya yang penuh pada saat Perjanjian Baru dalam diri Yesus. „Hamba Allah“ yang dalam paruh ceritra kitab Nabi Yesaya selalu digambarkan dalam metafer, sekarang justru nampak dalam sebuah pribadi individual, walaupun dilihat dari sisi keseluruhan visi buku, metafer atau gambar-gambar itu adalah symbol bagi bangsa Israel yang dinyatakan dalam gambar wanita Sion – sebuah metafer/gambar yang selalu muncul dalam kitab ini. Pernyataan-pernyataan tentang figur hamba Allah dan juga perananNya bagi bangsa-bangsa adalah sebuah pernyataan mesianistis. Dalam diri Mesias masa depan inilah Israel akan memperoleh realaisasi eksistensinya tertinggi.

Dalam nyanyian hamba Allah ini dilukiskan, bahwa semua bangsa menentang dan mengeroyok hamba Allah. Mereka mencercah dan menyiksa, hingga akhirnya membunuhNya. Tetapi sebagaimana para peratap, Ia merasa nyaman dalam AllahNya. Ia tidak membalas cercahan, menerima kekerasan yang datang bertubi-tubi menimpaNya dan membiarkan diriNya ditindas tanpa berusaha untuk menghindar darinya. Tetapi tiba-tiba dalam Kidung ke-4 nyanyian hamba Allah kita mendengar pengakuan seluruh bangsa dan raja dunia. Mereka mengakui, bahwa mereka juga turut terlibat dalam segala kesengsaraan hamba Allah. Dia yang dibunuh telah dijadikan sebagai kambing hitam. Tetapi Allah menyelamatkanNya dan melalui Ia pulalah perdamaian yang sejati itu datang ke dalam dunia. MelaluiNya rencana Allah itu dapat terwujud. Lewat hamba Allah Israel ini, menjadi mungkin bagi segala bangsa yang lain untuk memulai sebuah jalan baru tanpa kekerasan, dipenuhi keadilan menuju perdamaian yang langgeng.

Dalam sejarah, klimaks dari keseluruhan proses ini tercapai dalam kematian dan kebangkitan Hamba Allah, Putra manusia: Yesus, sang Mesias. Dalam diriNya terpenuhi apa yang sudah dumulai dalam sejarah Israel. Lewat kematian dan kebangkitan Yesus Allah mewujudkan kehendak perdamaianNya dalam dunia – ya, lewat seorang yang tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, melainkan lewat aksiNya yang tanpa kekerasan Ia memungkinkan dimulainya sebuah awal baru dalam kehidupan masyarakat baru yang ditandai oleh perdamaian sejati, juga kalau untuk itu Ia mengorbankan hidupNya.

Singkatnya: Atas dasar kekebasan yang telah diberikan Allah kepada manusia, Ia memungkinkan sebuah perdaiman dalam dunia – sebagaimana lazimnya waktu itu – yang diwarnai oleh prinsip kekerasan melawan kekerasan. Tetapi Ia kemudian menawarkan kepada umatNya sebuah perdamaian baru dalam diri Mesias dan lewat GerejaNya. Perdamaian ini adalah sebuah perdamaian yang tidak dapat diberikan oleh dunia. Ia diwarnai oleh partisipasi yang bebas, penuh kepercayaan, harapan serta cinta dalam penderitaan, kematian dan kebangkitan Mesias, Yesus Kristus. Jalan ini dapat ditempuh dan dihidupi dalam kebebasan iman dan kepercayaan timbal balik. Semakin manusia berusaha menempuh jalan ini, semakin baik pula kesempatan bagi bertumbuhnya perdamaian dalam dunia secara keseluruhan.

Pertanyaan ke-29: „Kapan larangan makan daging itu dicabut?“ (TR)

Jawaban:
Bagi orang katolik, pengendalian diri untuk menikmati daging pada hari-hari tertentu merupakan sebuah latihan pantang dan mati raga. Pada dasarnya pantang atau abstinensi dalam kehidupan orang katolik berarti sebuah bentuk kehidupan, entah sementara atau permanen yang mengedepankan pengendalian diri terhadap pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup vital, terutama kebutuhan-kebutuhan hidup material dan indrawi. Motif yang menyertainya terletak pada penentuan skala nilai subyektip, dimana pemenuhan kebutuhan orang lain mendapat tempat utama atau didahulukan. Pengalaman manusia dalam hubungan dengan pantang ini justru menunjukkan kenyataan, bahwa tidak seorang pun yang berjuang untuk memiliki segala-galanya supaya kehidupannya menjadi lebih baik. Ia tidak dapat merangkul segala kemungkinan yang ada dan memilikinya serta menggunakannya. Bentuk-bentuk pilihan praktis dari pantang harus bisa dikawinkan dengan kepintaran serta „pembedaan roh“.

Menurut hukum Gereja, yang termasuk dalam abstinensi ialah pantang terhadap daging. Yang berlaku hingga saat ini ialah pantang atau abstinensi pada setiap hari jumad dalam tahun, kecuali pada hari itu ada perayaan besar. Dalam tata aturan hukum puasa, berpantang dari daging diwajibkan pada hari Rabu Abu dan Jumad Agung bagi setiap orang kristen yang beruur 14 tahun ke atas. Juga anak-anak hendaknya diberi pengertian tentang pertobatan. Ketentuan-ketentuan sebelumnya yang berlaku bagi seluruh Gereja universal sudah dihapus lewat Konstitusi Apostolis Paenitemini tertanggal 12.2.1966. Konferensi Para Uskup berwewenang untuk menggariskan kebijaksanaan dan bentuk-bentuk puasa berdasarkan norma-norma hukum pada umumnya, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat. Pada tahun 1986/87 Konferensi Para Uskup Jerman dan Austria menggambarkan bentuk-bentuk pantang dan puasa sebagai berikut: Berpantang terhadap daging (sebagai suatu tanda puasa yang penting, terutama dalam keluarga dan masyarakat), berusaha membatasi diri dalam hal konsumsi pada umumnya, berpantang terhadap barang-barang mewah dan perbuatan amal dan kasih serta praktek kesalehan (misalnya mengunjungi misa harian, membaca Kitab Suci).

Pertanyaan ke-30: „Apakah kita diijinkan untuk berpindah agama?“ (TR)

Jawaban:
Yang perlu diperhatikan di sini ialah diferensiasi terhadap dua aspek penting:

1. Aspek politis keagamaan: Dalam negara-negara demokrasi yang bebas berlaku prinsip kebebasan beragama. Setiap warga negara berhak untuk secara bebas memilih salah satu agama, bebas untuk meninggalkan agama yang telah dipilih dan bebas untuk berpindah agama. Dalam banyak negara yang perpenduduk mayoritas muslim, kebebasan beragama seperti ini belum mendapat pengakuan dan tidak diberi pengayoman.

Pasal 18 „Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia“ (1948) mengatakan:“Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama; hak ini meliputi kebebasan untuk mengubah agama atau keyakinannya, serta kebebasan secara pribadi atau bersama-sama dengan orang-orang lain dan secara terbuka atau pribadi, untuk menjalankan agama atau keyakinannya dalam pengajaran, praktek, ibadah dan ketaatan“.

2. Aspek religius: Pandangan agama katolik terhadap permasalahan ini, lihat penjelasan kami di Bab ke-11, IV,4 tentang kebebasan beragama.

Pertanyaan ke-31: „Dalam penjelasan terhadap pertanyaan ke-4 tertulis: ‚Persatuan seperti ini adalah persatuan yang diwujudkan dalam keanekaragaman, dan keanekaragaman yang dilebur dalam persatuan’. Beraneka ragam tetapi tokh bersatu. Bagaimana ini bisa terjadi?“ (TR)

Jawaban:
Tema sentral penjelasan saya tentang Trinitas ialah bahwa kita tidak boleh melihat keesaan dan persatuan Allah Tritunggal ini dari sudut pandang matematis, atau persatuan antara tiga titik berbeda. Allah itu adalah Roh dan Cinta. PersatuanNya adalah sebuah persatuan dalam kebersamaan. Dalam persatuan Allah Tritunggal terdapat sebuah relasi atau jalinan, suatu relasi timbal balik antara satu dengan yang lain sebagai bentuk tertinggi dari persatuan. Dengan kata lain:  Bentuk tertinggi dari persatuan  adalah komunikasi antara semua yang berada dalam satu jalinan relasi dan keanekaragaman yang dipupuk dalam sebuah jalinan relasi, dalam suatu hubungan timbal balik yang tak terpisahkan. Dalam hubungan dengan ini pancaran kata-kata Perjanjian Baru ini mendapat kepenuhan artinya: „Allah adalah Cinta“ (1 Yoh 4:16). Kalau Allah yang esa itu adalah cinta, saling memberi satu terhadap yang lain, maka tiga pribadi itu secara bersama-sama menjadi „titik jalin“, dimana ritme cinta itu berjalan: Memberi – Menerima – Menyerahkan kembali. Ketiga pribadi adalah cinta yang satu dan sama dalam tiga cara keberadaan yang tak terpungkiri. Inilah yang memungkinkan pemahaman, bahwa Allah itu adalah cinta – „cinta yang tertinggi dan tidak ingat diri“. Allah yang esa adalah Allah dalam kebersamaan. Ia adalah permainan cinta yang terjadi antara tiga pribadi: Cinta, Dicintai, Berpartisipasi dalam Cinta.

Semuanya ini tentu bukanlah hasil dari pikiran kami yang alami, melainkan pikiran yang diberikan oleh Allah dalam diri Yesus yang tercurah dalam Roh Kudus.

[Home] [KITAB SUCI] [KE-ALLAHAN YESUS] [SALIB, DOSA DAN PENEBUSAN] [MUHAMMAD SANG NABI?] [ALLAH TRITUNGGAL] [GEREJA] [EKARISTI KUDUS] [DOA] [HAL ROHANI DAN JASMANI] [SELIBAT] [KEANEKARAGAMAN AGAMAN] [JANTUNG KEKRISTENAN] [REGISTER CATATAN KAKI] [INDEKS TOPIK PERTANYAAN] [INDEKS PERTANYAAN] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 1] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 2] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 3] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 4] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 5] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 6] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 7] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 8] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 9] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 10] [IMPRESSUM]