deutsche fahne

Deutsch

us-eng-flag

English

Türkce

Frankreich02

Français

Italia02

Italiano

Spanien02

Español

russland3
Banner

Pertanyaan dan Jawaban 4

Pertanyaan ke-32: „Sampai tahun 1960-an orang-orang katolik harus berdoa dalam bahasa Latin (sebagaimana semua orang islam berdoa dalam bahasa Arab). Orang-orang protestan sudah tidak menggunakan bahasa Latin lagi sejak abad ke-16. Kalau memang itu salah, mengapa orang katolik menunggu begitu lama untuk melepaskan bahasa Latin, dan kalau memang benar, mengapa bahasa Latin yang mungkin bisa mendorong persatuan tidak digunakan lagi?” (TR)

Jawaban: Jesus dan murid-muridNya serta umat kristen perdana di Palestina berdoa dalam bahasa Aram. Kitab Suci ditulis dalam bahasa Ibrani dan bahaya Yunani. Keaslian dan kesatuan iman kristen tidak bergantung pada penggunaan bahasa tertentu. Roh Kudus yang menurut iman kristiani selalu hadir dalam Gereja, memungkinkan dan menciptakan persatuan dalam Gereja dalam dan melalui keanekaragaman bahasa dan kebudayaan, di dalamnya iman kristiani hidup dan berkembang. Setiap orang kristen hendaknya berdoa dalam bahasa yang paling dikenal dan menyentuh hatinya. Bahasa perayaan liturgi bersama dalam komunitas-komunitas kristen selalu mengalami perubahan dan disesuaikan, seiring dengan penyebaran iman kristiani ke dalam kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Di Gereja-Gereja Timur misalnya, bahasa-bahasa yang berlaku di sana adalah: Bahasa Aram, bahasa Syria, bahasa Koptik, bahasa Ge’ez (=bahasa Etiopia), bahasa Armenia, bahasa Slavia Gerejani, bahasa Rumania dan lain-lain.

Bahasa utama, juga bahasa liturgi resmi yang digunakan oleh umat kristen perdana di pusat Gereja Timur dan Barat kekaiseran Romawi pada abad-abad pertama dan kedua kekristenan bukanlah bahasa Latin, melainkan bahasa „Koine-Yunani“ atas alasan-alasan sosiologis (Kebanyakan orang kristen waktu itu adalah orang-orang yang dari segi kemasyarakatan „orang yang tertindas dan penuh beban hidup“). Sejak akhir abad kedua, die Gereja-Gereja barat bahasa ini semakin terdesak oleh penggunaan bahasa Latin. Sejak abad ketiga misalnya, tulisan-tulisan pada batu nisan orang kristen sudah dalam bahasa Latin. Pada abad keempat, liturgi perayaan ekaristi dalam Gereja-Gereja di bawah kekaiseran Romawi sudah dutulis dalam bahasa latin. Pada akhir abad keempat, Hieronymus berhasil membuat sebuah terjemahan standar Kitab Suci dalam bahasa Latin (versio vulgata). Sudah sejak Apologi Tertulian (+ k.l 230) terdapat sebuah karya sastra dalam bahasa Latin. Ketika agama kristen mencapai kemenangan politis, muncul banyak karya-karya tulis dari Bapa-Bapa Gereja dalam bahasa Latin. Juga saat keruntuhan kerajaan Romawi, bahasa Latin masih tetap digunakan. Walaupun setidaknya sejak masa Carolingian, bahasa Latin tidak lagi menjadi „bahasa ibu“ satu kelompok masyarakat pun, ia tetap menjadi „bahasa Bapa“ internasional yang hidup, terutama untuk kebudayaan, ilmu-ilmu dan karya-karya sastra, walaupun dengan struktur-strukturnya yang berbeda. Di semenanjung atau belahan Eropa, bahasa ini hanya digunakan oleh sebagian kecil masyarakat berpendidikan (Clerici). Tetapi bagaimana pun juga ia berperanan penting (relatif) bagi persatuan Eropa.

Sejak akhir abad pertengahan, teks-teks dan doa-doa penting diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman (misalnya doa Bapa kami, pengakuan iman [credo], teks-teks perkawinan dan lain-lain). Dengan penggunaan bahasa lokal dalam teks-teks liturgi dan karya-karya tulis, reformasi mulai mempertanyakan praktek-praktek penggunaan bahasa Latin dalam Gereja, juga kalau waktu itu di beberapa tempat dalam Gereja-Gereja protestan, bahasa Latin masih mendapat tempat. Dengan Luther (Jerman) dan Th. Cranmers (Inggris) dimulailah sekularisasi. Gereja katolik Roma menjawabi tantangan reformasi dengan tetap menggunakan bahasa Latin dalam perayaan ekaristi. Pada abad ke-18 bahasa Latin ditetapkan sebagai bahasa pemimpin liturgi, tetapi teks-teks doa yang lain, terutama lagu-lagu sudah mulai didaraskan dalam bahasa-bahasa setempat. Di abad ke-20 penggunaan bahasa-bahasa setempat semakin mendapat tempat apresiasi. Sejak Konsili Vatikan Kedua (1962-1965) dan sejak pembaharuan liturgi yang menyertainya, liturgi, terutama ekaristi mulai dirayakan dalam bahasa-bahasa setempat. Teks-teks liturgi diterjemahkan menurut model buku-buku berbahasa Latin, yang kemudian mendapat pengesahan resmi dari Roma.

Pertanyaan ke-33: „Apa arti dari simbol 12 bintang yang terdapat pada bendera Uni-Eropa?“ (TR)

Jawaban:
Juga setelah pengembangan teritorial Uni-Eropa dengan penambahan sepuluh anggota baru pada tanggal 1 Mei 2004, bendera Uni-Eropa tidak mengalami perubahan. Juga di masa datang, pada birunya langit dunia barat hanya terpancar 12 bintang kecil keemasan yang berkedip cemerlang. Berbeda dengan bendera USA, bintang-bintang yang terdapat pada bendera Uni-Eropa bukan hanya melambangkan keanggotaan. Angka magis 12 melambangkan terutama kesempurnaan, kepenuhan dan persatuan. Bendera Uni-Eropa (ini sudah dibahas dalam bab IV – 1 tentang „Perjanjian bagi suatu konstitusi Eropa“) berhubungan dengan 12 suku Israel, 12 rasul, 12 bulan dan 12 jam. Dengan itu terpampang sebuah visi, bahwa Eropa adalah sebuah kelompok yang penting dan terpilih – sebuah visi tersembunyi tetapi tokh dapat terbaca dengan jelas pada bendera Uni-Eropa. Lingkaran dari 12 bintang emas yang menyimbolkan masyarakat Eropa terinspirasi oleh tradisi bangsa pilihan dalam tradisi yahudi-kristen. Bangsa Israel memiliki 12 suku, Yesus mempunyai 12 rasul, Yerusalem surgawi memiliki 12 gerbang. 12 Bintang yang membentuk sebuah lingkaran bagaikan cincin adalah lambang mahkota wanita apokalipsis. Dalam Kitab Wahyu 12,1-2 terbaca: „Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan.“ Tegantung bagaimana menafsirkan, dalam perikop di atas tersingkap juga kelahiran Mesias dalam tanda mahkota dari 12 bintang, ya kelahiran umat Allah atau sebuah awal baru dari sebuah sejarah yang komprehensip. Bendera Uni-Eropa memancarkan sebuah janji keselamatan dan rahmat pilihan.

Bendera Uni-Eropa diperkenalkan pada tahun 1955 oleh Dewan Perwakilan Eropa. Kemudian ia diambil alih oleh Parlemen Eropa pada tahun 1983, dan sejak tahun 1986 berkibar di seluruh pos-pos penting Eropa. Uni-Eropa tidak akan menjadi Uni-Eropa, kalau mereka tidak secara akurat memikirkan bentuk dan simbol bendera yang menjadi lambangnya. „Setiap bintang memiliki lima sudut yang ujungnya menyentuh sebuah lingkaran yang tak tampak dengan jari-jari sekitar 1/18 persegi panjang“, demikianlah rumusan yang terdapat dalam „Buku pegangan atau panduan grafik“ dari Uni-Eropa. Dalam kehidupan harian, lambang Eropa ini sudah lazim dan mendapat pengakuan. Ia tidak hanya berkibar di gedung-gedung pemerintahan, tetapi juga pada bungkusan mie Italia dan pada tanda pengenal mobil Jerman. Bendera Uni-Eropa memiliki peranan penting bagi pembentukanidentitas Eropa.

Pertanyaan ke-34: „Di mana terdapat apa yang dinamakan „Christendom“ (bah. Inggris = kekristenan) dan apa yang dimaksudkan dengannya? Mengapa justru istilah ini yang digunakan?“ (TR)

Jawaban:
Bahasa inggris mengenal dua padanan kata: christianity (kekristenan) dan christendom (kerajaan kekristenan). Dalam bahasa inggris kedua kata ini kadang-kadang digunakan dalam pengertian dan arti yang sama. Tetapi seringkali kata christendom digunakan dalam pengertian khusus yang merujuk pada daerah-daerah tertentu dimana agama kristen memainkan peran khusus atau menjadi agama mayoritas. Dalam bahasa Jerman dibedakan antara kata Christentum (agama kristen) dan Christenheit (kekristenan). Christentum (agama kristen) bisa mencerminkan apa yang dalam bahasa inggris disebut christianity, yaitu agama yang didaraskan dari kata „Christus“ yang mendasarkan ajarannya pada Kitab Suci serta terbagi dalam tiga kategori dasar: Orthodox, Katolik-Roma dan Protestan. Kata „Christenheit“ memang tidak mencerminkan sepenuhnya kata „Christendom“ dalam bahasa inggris, tetapi sangat sepadan dengannya. Ia merujuk pada keseluruhan kelompok manusia dan institusi-institusi yang berurusan dengan iman kristiani. Dalam arti yang lebih sempit, kata “Christendom“ menggambarkan realitas dunia kekristenan abad pertengahan (periode sejarah Eropa sejak Kaiser Konstantinus). Ciri khas yang menyertainya, ialah pada kurun waktu ini terdapat hubungan yang erat antara kekuasaan duniawi (bahasa latin: imperium) dan Gereja hirarkis struktural (bahasa Latin: sacerdotium). Tetapi yang perlu ditekankan di sini ialah: Juga kalau pada kurun waktu ini ada hubungan yang erat antara dua kekuasaan ini, tokh keduanya merupakan satuan-satuan yang berbeda satu dari yang lain.

Pertanyaan ke-35: „Apa itu persatuan para Bruder atau Ordo Salib Mawar?“ (TR)

Jawaban:
Menurut ajaran „Rosenkreuzerbewegung“ (Gerakan atau Ordo Salib Mawar) (bah. Inggris: Rosicrucians), persenyawaan antara mawar dan salib merupakan simbol bagi kebangkitan dan penebusan. Para pengikut Ordo Golden-Dawn mengenakan salib mawar di dadanya, yang terdiri dari 22 kelopak bunga mawar dengan warna yang berbeda-beda. Ini menandakan 22 huruf dalam alfabet ibrani dan 22 jalan dalam pohon kehidupan yang mengikat sepuluh Sephirot. Dari kelopak-kelopak bunga terbentuklah sebuah bentuk geometris yang masing-masingnya melambangkan kekuatan mental dan spiritual. Pertama-tama nama itu ditulis dalam huruf ibrani. Setelahnya terbentuklah sebuah figur yang mempersatukan semua huruf-huruf itu, yang nantinya dikenakan pada mawar.

Pendiri legendaris Ordo ini adalah Christian Rosenkreuz (1378-1484) yang dari namanya lah terbentuk nama Ordo Salib Mawar. Saat ini sudah terbukti, bahwa nama dan pribadi ini hanyalah sebuah figur legendaris yang ditemukan oleh J.V. Andreae (1586-1654). Pernyataan, bahwa pernah ada sebuah perkumpulan Para Bruder tak tampak (rahasia) yang jejaknya bisa ditelusuri sampai pada pribadi Rosenkreuz sampai sekarang masih tetap dianut oleh Ordo Golden-Down. Pada abad ke-18 Ordo Golden-Dawn dan Ordo Salib Mawar mengukuhkan eksistensinya dengan nama ini (Rosenkreuzer). Yang pasti, sampai abad ke-17 tidak pernah ada „Rosenkreuzer“ (Ordo Salib Mawar).

Gagasan dari Ordo Salib Mawar berawal dari kerinduan kelompok-kelompok protestan yang aktif akan sebuah reformasi kedua yang lebih menyeluruh. Dalam tahun-tahun sesudahnya Andreae mengambil jarak dari apa yang sudah dumulainya waktu masih muda – apa yang ia mengerti sebagai sebuah sindiran terhadap kekaguman-kekaguman alkimia-teosofis bagi para tukang sulap, para Astrolog serta sekte-sekte di zamannya. Tetapi setelah adanya gagasan atau isu yang muncul, bahwa pernah ada sebuah persatuan Para Bruder tak tampak (rahasia), banyak ilmuwan terkenal di zamannya mulai berusaha untuk mencari kebenaran isu ini – suatu usaha yang sampai hari ini tidak membawa hasil.

Banyak ilmuwan yang berkecimpung dalam usaha ini melihat segala peluh dan keringatnya sebagai dorongan bagi revolusi ilmu pengetahuan di abad ke-17. Pendasarannya ialah, bahwa dalam kelompok ini terdapat banyak alternatip pemikiran yang dikembangkan, pemikiran yang mulai mengambil jarak dari pandangan-pandangan abad pertengahan pada umumnya dan berusaha untuk mencari jalan baru bagi penjelasan-penjelasan dunia. Anggota-anggota kelompok ini adalah “pemikir-pemikir lepas” (Freigeister) yang ingin memberikan pendasaran bagi rahasia alam. Dalam usahanya ini mereka menemukan ciri-ciri khas serta kekuatan-kekuatan alam yang baru yang tidak dapat dimasukan dalam logika pemikiran yang biasa, sehingga mereka memasukannya dalam dunia okultismus. Unsur-unsur mithis-magis dari pemikiran alternatip ini pelan-pelan mulai ditanggalkan, ketika dalam perjalanan waktu dipelajari dan ditemukan kekuatan-kekuatan baru yang penuh rahasia dari alam lewat penelitian-penelitian ilmiah.

Pertanyaan ke-36: „Mengapa dalam kalangan orang-orang kristen tersebar luas pemikiran-pemiiran yang berhubungan dengan Kabbalisme dan Gnostisisme?“ (TR)

Jawaban:
Kata Kabbalisme berasal dari kata bahasa Ibrani „Kabbala“, yang berarti „warisan atau tradisi“. Yang dimaksudkan adalah sebuah aliran Theosofi Yahudi yang berpendapat bahwa dengan menggunakan metode-metode esoteris untuk menginterpretasi Kitab Suci Perjanjian Lama, orang dapat sampai pada pengetahuan tentang apa yang tersembunyi di balik ajaran-ajaran yang penuh rahasia, misalnya penciptaan alam dunia lewat emanasi keberadaan ilahi. Ini adalah sebuah sistem ajaran yang hampir sama dengan Gnostisisme. Pengaruh dari sistem-sistem ajaran ini mencapai puncaknya pada akhir abad pertengahan dan pada masa pencerahan (rennaisance). Pada abad ke-15 dan ke-16 sebuah bentuk dari sistem ajaran ini populer juga di kalangan orang-orang kristen. Wakil-wakilnya yang terkenal adalah Reuchlin dan Paracelsus. Mereka berpendapat, bahwa dengan metode-metode khussus yang dikembangkan, mereka dapat membuka tabir rahasia Trinitas, rekonsiliasi (penebusan) dan keAllahan Yesus Kristus.

Ajaran Gereja Katolik secara jelas mengambil jarak dari sistem-sistem ajaran seperti ini.

Pertanyaan ke-37: „Siapa itu ‚Maria Hitam’ (Schwarze Maria?) (TR)

Jawaban:
Yang dimaksudkan dalam pertanyaan ini ialah „Schwarze Madonna“ (Madona hitam) dari Tschentstochau (bah. Polandia: Czestochowa). Patung „Schwarze Madona“ ini dibuat dari kayu linden dan sampai sekarang berada di tempat ziarah yang terkenal sebelah utara kota Krakow di Polandia. Ada kemungkinan gambar atau patung ini berubah menjadi hitam dalam perjalanan waktu karena asap lilin-lilin yang dipasang pada altar gambar.

Pada tahun 1382 pangeran Ladislaus dari Opole menyumbangkan dan memberikan izin bagi berdirinya sebuah biara di bukit Jasna Góra, sekaligus menyerahkan kepada biara ini (pada tahun 1384) sebuah ikon/gambar Maria bersama Anak di pangkuannya yang terbuat dari kayu Linden berwarna tempera – sebuah gambar yang motifnya berorientasi pada ikon bizantium („Schwarze Madonna“). Sejak abad ke-15 Jasna Góra berkembang menjadi sebuah tempat ziarah yang terkenal di Polandia. Mulai abad ke-17 Maria dinobatkan dan dihormati sebagai „Ratu Polandia“.

Dalam pandangan iman katolik, penghormatan terhadap Maria, bunda Yesus memiliki dasar yang kuat dalam Perjanjian Baru. Bagi agama kristen Orthodox dan Katolik, Maria adalah figur simbolis iman. Dalam dan melalui Maria, Allah yang menjadi manusia dalam diri Yesus Christus, Dia yang berkenan di hati Allah menjadi konkrit. Himne dalam Luk 1,42-45 memuji Maria berkat rahmat pilihannya yang istimewa dan berkat jawabannya atas dasar kesetiaan iman (Luk 1,38). Inilah yang menjadi dasar kesediaanya yang murni (perawan), bukan hanya dalam „tatanan biologis“, melainkan terutama kesediaannya yang murni dan tulus (perawan) dalam „hatinya“ untuk menerima dan mengandung Sabda. Dalam keibuannya yang ganda ini, Maria menjadi teladan utama dalam Gereja (Yoh 19,27; Kis 1,14) dan sekaligus menjadi pengantara serta penunjuk jalan yang bijaksana bagi semua orang yang mendengar dan menerima Sabda Alah serta melaksanakannya. Dalam diri orang-orang inilah Kristus nampak dan menjadikan mereka anak-anak Allah (Gal 4,19).

Konsili Nicea ke-2 (tahun 787) mengijinkan juga penghormatan (bah. Yunani: timè) terhadap gambar/ikon Maria disampaing penghormatan terhadap gambar Yesus yang sudah lazim, tetapi sekaligus membedakannya secara tegas dari penyembahan (bah. Yunani: latreia) yang hanya diperuntukkan bagi Allah.

Pertanyaan ke-38: „Siapa yang dimaksudkan dengan raja dalam Kitab Suci, yang dalam mimpinya melihat sebuah patung: ‚Adapun patung itu, kepalanya dari emas tua, dada dan lengannya dari perak, perut dan pinggangnya dari tembaga, sedang pahanya dari besi dengan kakinya sebagian dari besi dan sebagian lagi dari tanah liat’, dan kerajaan apa saja yang dimaksudkan dengan empat kerajaan dalam pengertian Kitab Daniel? Apakah segalanya akan terjadi seperti yang tertera dalam Kitab Daniel?“ (TR)

Jawaban:
Kitab Daniel dalam Perjanjian Lama terdiri dari dua bagian utama.

(I) Bagian naratip yang menggambarkan pengalaman-pengalaman Daniel dan para sahabatnya di bawah raja-raja Babilon: Nebukadnezar (1-4) dan Belsyatzar (5) serta raja Media, Darius (6). Isinya adalah penolakan untuk menyantap daging haram (1), interpretasi Daniel tentang mimpi Nebukadnezar yang berhasil (2),  pembebasan yang ajaib tiga sahabat dari tanur api (3), gangguan mental Nebukadnezar (4), tulisan yang bernuansa metafisis pada dinding (‚Meine, meine tekel u-parsin’)pada pesta perjamuan Belsyatzar (5) dan selamatnya Daniel dari kebuasan singa di gua (6).

(II) Serangkaian visi yang diperoleh Daniel semasa pemerintahan Belsyatzar (7,8), Darius raja dari Media (9, dan Cyrus (10-12) – visi yang menyingkapkan nasib bangsa Yahudi di masa depan. Bagian-bagian yang berbeda dari bab-bab selanajutnya ini memiliki karakter genre apokaliptis.

Pendapat tradisional yang mengatakan, bahwa Kitab Daniel dikarang oleh Daniel (seorang pengungsi Yahudi di Babilon)  pada abad ke-6 sebelum Masehi, sudah ditolak oleh para ahli dan tidak mendapat keabsahan lagi. Banyak kesalahan dan kekeliruan historis yang terdapat dalam kitab ini menjadi bukti, bahwa Kitab ini tidak berasal dari zaman pembuangan. Dari sudut posisi doktrinal teks, bisa dipastikan, bahwa kitab ini ditulis sangat kemudian, misalnya dari sudut bahasa (banyak kata bahasa Yunani yang digunakan) dan juga dari sudut posisi Kitab ini dalam keseluruhan kanonisasi Kitab Perjanjian Lama. Pendapat-pendapat modern yang diilhami oleh metode historis kritis kebanyakan merujuk tahun antara 168 dan 165 sebelum Masehi sebagai tahun ditulisnya Kitab ini. Mengikuti tese dan pendapat ini, dapat ditarik kesimpulan, bahwa tujuan penulisan Kitab ini adalah untuk menguatkan  pembaca berhadapan dengan penganiayaan orang-orang Yahudi oleh raja Antiochus Epiphanes (Raja Syria, 175-163 sebelum Masehi).  Bagian 2.4-7.28 ditulis dalam bahasa Aram, bukan bahasa Ibrani.

Hanya ada satu teks dalam Perjanjian Baru yang mengutip Daniel secara langsung, yaitu teks tentang „pemusnahan keji“ (Dan 9,27) dalam Mk 13,14 dan paralelnya. Tetapi dalam banyak perikop Perjanjian Baru, isi dari Kitab Daniel itu diambil alih dan dikembangkan, misalnya penggunaan pengulangan kata-kata seperti „Anak Manusia“ (Dan 7,13), gambaran tentang malaekat-malaekat yang menjadi penengah antara manusia dan Allah yang transenden, dan terutama ajaran tentang „kebangkitan orang-orang mati“ ( dalam Dan 12,2).

Tentang perikop Dan 2,29-45 dapat dijelaskan secara singkat demikian: Perikop ini mengetengahkan alegori-alegori awal Kitab Daniel yang menggambarkan secara misterius kerajaan-kerajaan historis (Babilonia Baru, Media dan Persia, Yunani sebagai alih waris kerajaan Asia Alexander). Gambaran ini digariskan menurut spekulasi lama tentang usia dunia lewat logam atau besi yang semakin kehilangan nilainya. Gambaran berakhir dengan kedatangan kerajaan mesianis. Segala kerajaan duniawi akan hancur dan lenyap untuk memberikan tempat bagi sebuah kerajaan baru, kerajaan yang kekal, karena ia dibangun dalam dan atas nama Allah. Inilah yang dinamakan kerajaan Allah (bdk. Mat 4,17). Yesus yang menyebut diriNya anak manusia (bdk. Dan 7,13 dan Mat 8,20) tidak segan-segan mengenakan gambar batu yang dibuang oleh tukang bangunan pada diriNya (Mz 118,22 – bdk. Mat 21,42-44; Luk 20,17-18), tetapi justru batu ini akan menjadi batu penjuru (Yes 28,16). Gambar ini merujuk secara jelas pada batu yang terungkit lepas dari gunung dan meremukkan segala apa yang ditindihnya. (Lihat: Kitab Daniel bab ke-2, ayat 34.44-45).

Pertanyaan ke-39: „Mengapa sebagian besar ceritra Injil (yang dimaksudkan adalah ceritra Kitab Suci pada umumnya) dibaca seperti sebuah buku sejarah?“ (TR)

Jawaban:
Berpatokan pada buku Katekisme untuk orang dewasa katolik, hal. 38 dst., pertama-tama saya ingin menjelaskan pengertian kristiani tentang wahyu. Sejak awal mula Allah mewahyukan dirinya lewat ciptaanNya, terutama lewat suara hati manusia dan kepemimpinannya dalam sejarah. Di sinilah kita bisa berbicara tentang sebuah sejarah umum pewahyuan diri Allah. Konsili Vatikan II mengajarkan:Sudah sejak dahulu kala hingga sekarang ini diantara pelbagai bangsa terdapat suatu kesadaran tentang daya-kekuatan yang gaib, yang hadir pada perjalanan sejarah dan peristiwa-peristiwa hidup manusia; bahkan kadang-kadang ada pengakuan  terhadap Kuasa ilahi yang tertinggi atau pun Bapa...“ (NA 2).

Allah mewahyukan diriNya kepada manusia bukan hanya secara pribadi, melainkan juga kepada manusia yang berhakekat sosial dan menyejarah. Ia ingin mengumpulkan semua manusia sebagai satu bangsa dan menjadikannya sebagai terang bagi bangsa-bangsa (bdk. Yes 42,6). Dengan demikian, disamping ada sejarah umum pewahyuan diri Allah terhadap manusia, ada juga sejarah khusus pewahyuan diriNya. Yang dimaksudkan dengan sejarah khusus pewahyuan diri Allah ini ialah kenyataan, bahwa Allah mewahyukan diriNya pada saat, tempat dan terhadap orang-orang tertentu dalam cara tertentu pula (khusus). Sejarah khusus pewahyuan diri Allah ini dimulai dengan panggilan Abraham dan bapa-bapa bangsa. Lewat bangsa Israel dan pembebasannya dari Mesir, sejarah khusus ini memasuki babak baru. Lewat para nabi bangsa Israel semakin menyerahkan dirinya dalam kepercayaan akan tangan Allah yang menolong dan semakin mempersiapkan dirinya bagi pewahyuan diri Allah secara definitip dalam diri Yesus Kristus.

    „Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya...“ (Ibr 1,1-2).

Alkitab – kata ini diterjemahkan dari kata bahasa Yunani bìblos yang berarti buku – adalah Kitab Suci umat kristen. Dalam Kitab Suci ini digambarkan pengalaman-pengalaman yang dibuat oleh manusia dalam sejarahnya yang panjang bersama Allah dan dalam kisah pewahyuan diriNya lewat kata dan perbuatan.

Alkitab yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah sekaligus „Sertifikat Perjanjian“ yang diadakan oleh Allah dan manusia. Karena kata bahasa ibrani berít (=Perjanjian) diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dengan testamentum, maka sampai sekarang dikenal adanya Perjanjian Lama (Altes Testament) sebagai Kitab Suci orang-orang Yahudi (dalam bahasa al-Quran: at-taurát) dan Perjanjian Baru (Neues Testament) untuk surat-surat gembala dan Injil (dalam bahasa al-Quran: indschíl).

Perjanjian Lama berisi ceritra bangsa Israel bersama Allah („Israel“ yang dimaksudkan di sini bukalah negara Israel  yang sekarang/aktual). Dalam segala keanekaragaman tulisan-tulisan yang diturun temurunkan, juga dalam segala keanekaragaman genus-genus literarisnya (termasuk di dalamnya literatur dan sastra sejarah) selalu nampak jelas eksistensi beriman dari sebuah bangsa yang tahu dan sadar akan perjanjiannya dengan Allah dan dalam perjalanan sejarahnya yang panjang selalu mengalami kekuatan Allah yang menyelamatkan.

Perjanjian Baru memberikan kesaksian tentang pengalaman-pengalaman murid Yesus dan pengalaman-penglaman umat kristen perdana bersama Yesus Kristus. Kitab-kitab Perjanjian Baru adalah kesaksian iman akan Yedsus Kristus. Ya, mereka adalah kesaksian tentangNya yang adalah Mesias terjanji seperti yang diwartakan oleh Perjanjian Lama.

Para pengarang Kitab Suci Perjanjian Baru mengerti Perjanjian Lama sebagai kesaksian tentang tindakan dari „seorang“ Allah yang sama – Allah yang juga diwartakan oleh Yesus Kristus. Ini bukanlah mustahil, karena memang Yesus adalah seorang Yahudi. Imannya adalah iman orang-orang Yahudi pada zamanNya, „iman nenek moyangNya“. Kitab Suci Perjanjian Lama adalah kumpulan-kumpulan tulisan/sastra, di dalamnya karya agung Allah yang khusus tercermin kembali dalam umat pilihanNya. Ia adalah buku perjanjian yang memperoleh pemenuhannya dalam diri Yesus Kristus. Inilah ungkapan iman kristiani. Karena itu bagi umat kristen Kitab Suci Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak dapat dipisahkan satu dari yang lainnya.

Kitab suci adalah kumpulan aneka macam tulisan yang mencerminkan kembali kehidupan religius dan kehidupan iman umat pilihan Allah. Di dalamnya tercermin juga kehidupan begitu banyak orang dan kelompok. Rentang waktu hingga masa kanonisasinya berkisar seribu tahun: Kitab suci Perjanjian Lama mulai ditulis kurang lebih seribu tahun sebelum Kristus lahir, sementara Kitab Suci Perjanjian baru baru ditulis sekitar seratus tahun sesudah kelahiran Yesus. Justru dalam sebuah rentang waktu yang panjang seperti ini terlihat, betapa kuat dan kuasanya Sabda Allah: Diinspirasi oleh Sabda ini, manusia dari segala macam ras, golongan dan pendidikan berusaha untuk mewartakanNya lebih lanjut kepada sesama manusianya sebagai sabda yang berdaya menyelamatkan sesuai dengan konteks kehidupan dan keadaan sosial politisnya masing-masing.

Pertanyaan ke-40: „Mengapa para ulama kristen dan yahudi mengembangkan sebuah teks/tulisan dalam bahasa sandi?“ (TR)

Jawaban: Saya tidak pernah mendengar tulisan/teks dalam bahasa sandi tersebut.

[Home] [KITAB SUCI] [KE-ALLAHAN YESUS] [SALIB, DOSA DAN PENEBUSAN] [MUHAMMAD SANG NABI?] [ALLAH TRITUNGGAL] [GEREJA] [EKARISTI KUDUS] [DOA] [HAL ROHANI DAN JASMANI] [SELIBAT] [KEANEKARAGAMAN AGAMAN] [JANTUNG KEKRISTENAN] [REGISTER CATATAN KAKI] [INDEKS TOPIK PERTANYAAN] [INDEKS PERTANYAAN] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 1] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 2] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 3] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 4] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 5] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 6] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 7] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 8] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 9] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 10] [IMPRESSUM]