deutsche fahne

Deutsch

us-eng-flag

English

Türkce

Frankreich02

Français

Italia02

Italiano

Spanien02

Español

russland3
Banner

Pertanyaan dan Jawaban 5

Pertanyaan ke-41: Mengapa selama Perang Salib, prajurit-prajurit yang bernaung di bawah panji ini membantai begitu banyak orang yang tak bersalah? Bagaimana cinta Allah dan toleransi dapat dimengerti dalam kejadian ini? (TR)

Jawaban:
Pertama-tama saya ingin memaparkan sebuah penjelasan singkat tentang Perang Salib dalam arti sempit (perang salib di Tanah Suci) sesuai dengan tulisan Ludwig Hagemann dalam: Was glauben Christen? Die Grundaussagen einer Weltreligion, Herder-Taschenbuch nr. 1729, Freiburg 1991, 126 dst. Ketika pada tahun 1071 M tentara Turki menguasai Yerusalem, orang-orang kristen yang kembali dari ziarah di Yerusalem memberitakan tentang pelecehan dan halangan-halangan yang datang dari penguasa baru (Turki). Berita-berita ini akhirnya mendapat tanggapan luas. Ketika Konstantinopel di bawah Kaiser Alexius  I (1081-1118) mendapat ancaman dari penguasa baru ini, ia berpaling kepada Paus Urban II untuk meminta bantuan. Alhasil, pada tanggal 27 nopember 1095, dalam Synode Clermont Paus menyeruhkan dan meminta semua orang kristen untuk membantu sama saudaranya di Timur Tengah sekaligus untuk membebaskan Tanah Suci dari kungkungan penguasa Islam. Inilah awal yang menyulut gerakan masal di seluruh Eropa melewati batas-batas nasionalisme untuk bersatu mewujudkan tujuan yang diseruhkan oleh Paus.

„Deus lo volt“, Allah menghendakinya – itulah parole yang mendominasi situasi waktu itu. Paus sendiri menempatkan diri sebagai pucuk pimpinan gerakan ini.

Tetapi tujuan yang sebenarnya tidak tercapai dengan gerakan ini. Yang terjadi justru sebaliknya. Segala usaha untuk menguasai kembali Tanah Suci hanya berlangsung sesaat. Pada akhirnya tokh gagal total. Motivasi-motivasi religius yang pertama-tama melatarbelakangi gerakan ini semakin sirna ditelan nafsu untuk berperang dan membunuh, nafsu untuk merampas dan menguasai. Hubungan antara agama kristen dan islam semakin terbebani. Sebagai reaksi ialah dikumandangkannya seruan dari pihak islam untuk bersolider dengan sesamanya melawan pasukan kristen. Gereja Timur pun semakin sakit hati dan kecewa karenanya. Usaha untuk menciptakan persatuan dalam kubuh agama kristen antara Gereja Barat dan Timur semakin jauh dari impian. Kesenggangan antara Gereja Barat dan Timur semakin terasa menyusul didirikannya „Kekaiseran Latin“ di Konstantinopel (1204-1261), juga kalau ini tidak berlangsung lama.

Pada tahun 2004 diadakan sebuah pameran yang sungguh mengesankan dan obyektip tentang tema: „Tidak ada perang yang suci. Perang Salib“ di museum keuskupan Mainz. Pameran ini mendapatkan apresiasi dan interes yang besar dari pihak luar. Prolog dari pameran ini dilukiskan dengan kata-kata berikut:

    „Sejarah dari Perang Salib terkadang sangat kuat diidealisir dan sering diinstrumentalisir baik oleh Gereja maupun negara secara politis dan religius. Abad ke-19 yang diwarnai oleh antusiasme kecendrungan terhadap heroisme melihat aksi yang dilancarkan oleh para tentara Perang Salib sebagai suatu kebajikan berupa keberanian, alkarim dan takut terhadap Allah. Contoh dari antusiasme ini adalah lukisan di dinding pada Katedral Speyer, dimana digambarkan pengkotbah Perang Salib yang terkenal Bernhard von Clairvaux. Ini adalah sebuah saksi nyata dari lukisan yang romantis dan tidak kritis terhadap sebuah kejadian historis yang terkenal. Lukisan-lukisan historis seperti ini kebanyakan tidak berhubungan secara langsung dengan realitas atau kenyataan sebenarnya.

    Perang Salib adalah sebuah invasi berdarah yang brutal dan menjadi penyebab begitu banyak penderitaan dan kesengsaraan.

    Tokh harus dilihat, bahwa bagi mereka yang hidup pada zaman itu (sesudah tahun 1095) tindakan mereka dilihat sebagai langkah yang benar seturut patokan-patokan nilai zamannya; sementara bagi kita yang hidup di zaman ini, tindakanitu merupakan suatu hal yang tak dapat dimengerti berdasarkan akal sehat. Bagi prajurit-prajurit Perang Salib, „tindakan pembebasan Tanah Suci dari tangan-tangan kaum kafir“ merupakan sebuah „perang adil“ yang dimandatkan Allah lewat tangan Paus.  Konsekwensi dari „iman yang saleh“ ini tak dapat diukir dengan kata-kata.

    Di samping ratusan ribu korban yang jatuh dalam peristiwa berdarah ini, perang salib menyebabkan juga jurang pemisah yang semakin dalam antara dunia muslim orientalis dan dunia kristen barat yang masih tetap terasa hingga saat ini.

    Gereja Katolik Roma memainkan peranan terbesar dalam peristiwa berdarah ini, hal mana yang mendorong Paus Yohanes Paulus II untuk memberikan sebuah tindakan yang nyata dan jelas: Pada tanggal 5 Mai (2001) ia memohon pengampunan atas salah dan dosa-dosa yang dilakukan oleh  para „putra dan putri Gereja Katolik Roma“ terhadap Gereja kristen Orthodox. Tanpa tedeng aling-aling ia mengakui invasi/perebutan Konstantinoel yang dilakukan oleh para prajurit Pernag Salib pada tahun 1204. Ini adalah kunjungan pertama seorang Paus ke Yunani sejak seribu tahun terakhir.

    Pada tanggal 6 Mai 2001, Bapa suci mengunjungi Mesjid Omajjaden di Damaskus. Dengan itu ia ingin membangkitkan harapan, bahwa „para pemimpin agama dan ulama dari kedua agama besar di masa datang diharapkan tetap berusaha berdialog penuh rasa hormat satu sama lain dan dengan itu konflik-konflik bisa dihindarkan“. Ini adalah kejadian pertama dalam sejarah, dimana seorang Paus memasuki sebuah mesjid.

    Pengakuan dan permohonan maaf serta pengampunan atas dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh Gereja katolik dalam kurun perang Salib secara terbuka seperti ini hendaknya menjadi langkah awal yang berani untuk terus menerus memperbaiki hubungan antara ketiga agama monoteis: Kristen, Yahudi dan Islam“ (Dikutip dari Prolog pameran di Mainz: „Tidak ada perang yang suci. Perang Salib, Teks penjelasan pameran. Mainz: Museum katedral dan keuskupan Mainz, 2004).

Paus Yohanes Paulus II menetapkan  Minggu Pertama masa puasa pada tahun jubileum 2000 (12 Maret) sebagai „hari pengampunan“. Tahun 2000 ditetapkan sebagai tahun jubileum, dimana orang kristen merayakan hari ulang tahun Yesus dari Nasaret yang ke-2000 sekaligus awal dari milenium ketiga. Dalam kotbahnya pada Minggu pertama masa puasa (12 Maret 2000) ia antara lainmengatakan:

    “Di hadapan Kristus yang memikul segala kesalahan dan dosa kita atas dasar cinta, kita semua diundang untuk melakukan pemeriksaan bathin secara mendalam. Sebuah elemen yang karakteristik dari jubileum agung ini ialah apa yang saya namakan “pembersihan dan pemurnian pikiran”. Sebagai alih waris Santu Petrus saya menghendaki supaya „Gereja – dikuatkan oleh kekudusan yang diterima dari Tuannya – dalam tahun kerahiman Allah ini berlutut dan meminta pengampunan atas segala dosa yang dilakukan oleh anak-anaknya baik di masa lalu maupun di masa sekarang“ (Incarnationis mysterium, 11). Minggu pertama masa puasa tahun ini adalah sebuah kesempatan yang cocok, dimana Gereja yang dilambangkan oleh umat tertebus yang berkumpul sekeliling alih waris Santu Petrus memohon pengampunan Allah atas segala kesalahan dan kekurangan yang dilakukannya terhadap para penganut agama lain... Mengakui segala kesalahan dan kekhilafan di masa lalu berarti membangkitkan dan mengasah hati nurani berhadapan dengan kompromi masa kini sekaligus membuka jalan bagi setiap orang kepada perdamaian.

    Kita memberikan pengampunan sekaligus memohon pengampunan: Sementara kita memuji dan memuliakan Allah yang dalam cintaNya yang berbelaskasih menganugerahkan kekayaan yang tak terbatas akan kekudusan, semangat misioner, pengorbanan yang penuh kepada Kristus dan sesama di dalam Gereja, kita tidak boleh menghindar untuk mengakui ketidaksetiaan kita terhadap Kabar Gembira yang terwakili dalam diri sama saudara kita yang telah melakukan kesalahan terutama dalam milenium kedua ini. Kita memohon pengampunan atas keterpecahan dan pemisahan di antara umat kristen, atas penggunaan kekerasan yang diterapkan oleh para pelayan kebenaran, yang olehnya sampai saat ini sama saudara kita dari golongan dan agama lain membangun sikap tidak percaya dan kebencian terhadap kita.

    Lebih lagi kita mengakui tanggung jawab kita sebagai orang Kristen terhadap apa yang tidak berkenan di hati saat ini: Terhadap Atheisme, terhadap orang-orang yang tidak perduli lagi terhadap agama, terhadap sekularisme, terhadap relativisme ethik, terhadap pelecehan hak-hak atas kehidupan, terhadap sikap masa bodoh berhadapan dengan kemiskinan di banyak negara. Berhadapan dengan semuanya ini kita hendaknya bertanya diri, apa yang menjadi tanggung jawab kita. Terhadap segala pelecehan tanggung jawab yang mengaburkan wajah Gereja, hendaklah kita menepuk dada dan memohon pengampunan.

    Sambil kita mengakui kesalahan dan dosa, kita juga hendaknya sekaligus mengampuni segala kesalahan dan kekeliruan yang dibuat oleh umat dari golongan dan agama lain terhadap kita. Dalam perjalanan sejarah tidak sedikit orang kristen mengalami cemoohan, kekerasan dan penganiayaan karena imannya. Sebagaimana para korban telah mengampuni, demikian kita pun hendaknya mengampuni. Gereja zaman ini, sebagaimana juga Gereja segala zaman merasa berkewajiban untuk memurnikan segala kenangan akan hal-hal jahat yang menimpanya sekaligus menjauhkan diri dari perasaan sakit hati dan balas dendam. Jubileum ini menjadi kesempatan emas bagi setiap kita untuk berbalik secara radikal sesuai dengan Injil. Dengan menerima pengampunan Allah kita pun akan dimampukan untuk berusaha memberi pengampunan kepada sama saudara kita sekaligus membawa perdamaian bagi sesama“.

Pertanyaan ke-42: „Agama macam apa kekristenan itu, kalau orang-orang protestan tidak mengakui orang-orang katolik sebagai orang kristen; malah mereka berpendapat bahwa orang-orang katolik akan masuk ke neraka? Bukankah agama protestan dan katolik sama-sama percaya pada nabi dan injil yang sama? Apakah Kitab Sucimu tidak berbicara tentang toleransi? Bukankah ini adalah suatu kenyataan yang keji dan sangat disayangkan? Apakah hanya orang-orang protestan yang masuk ke surga? Apakah ajaran seperti ini terdapat juga dalam Kitab Sucimu? (TR)

Pertanyaan ke-43: „Apakah anda bisa memaparkan pemikiranmu secara singkat tentang agama kristen evangelis (atau biasa disebut agama protestan)? Apakah berdasarkan ajaran agama katolik mereka memang ditakdirkan untuk masuk ke dalam neraka? (TR)

Jawaban terhadap pertanyaan 42 dan 43:
Dalam kedua pertanyaan ini ada beberapa bagian pertanyaan yang mesti dijelaskan secara khusus:

    a. Bagaimana pandangan ajaran katolik tentang persatuan Gereja?
    b. Bagaimana sehingga dalam perjalanan sejarah persatuan ini dilukai dan ternoda?
    c. Jalan mana yang harus ditempuh Gereja untuk mencapai persatuan kembali?
    d. Bagaimana Gereja katolik melihat hubungannya dengan orang-orang kristen bukan katolik?

Saya ingin menjawab pertanyaan ini atas dasar ajaran Konsili Vatikan II (1962-1965), khususnya berdasarkan konstitusi dogmatis tentang Gereja Lumen Gentium (LG) dan dekrit tentang ekumenisme „Unitatis Reintegratio“ (=UR), juga berdasarkan publikasi resmi Katekese Gereja Katolik (=KK) (München dll.: 1993). ISBN 3 486-56005 atau 3 486 55999 0.

Ad a) Bagaimana pandangan ajaran katolik tentang persatuan Gereja?

Pada hakekatnya, sejak awal mula Gereja adalah satu kesatuan dari Allah yang esa, Bapa, Putra dan Roh Kudus – persatuan dalam kebhinekaan tiga pribadi. Fundasi dan pendirinya adalah Yesus Kristus, sementara yang menjadi jiwanya adalah Roh Kudus yang tinggal dan menetap dalam hati umat beriman serta memenuhi dan menuntun seluruh Gereja.

Sejak awal mula Gereja diwarnai oleh kebhinekaan/kemajemukan. Ini memang dapat dimengerti karena anugerah-anugerah Allah itu pun beraneka ragam sementara manusia yang menerimanya pun berbeda-beda. “Dalam kesatuan Umat Allah berhimpunlah perbedaan bangsa dan budaya. Di antara anggota-anggota Gereja ada keaneka-ragaman anugerah, tugas, syarat-syarat hidup dan cara hidup; "maka dalam persekutuan Gereja selayaknya pula terdapat Gereja-gereja khusus, yang memiliki tradisi mereka sendiri" (LG 13). Kekayaan yang luar biasa akan perbedaan tidak menghalang-halangi kesatuan Gereja, tetapi dosa dan akibat-akibatnya membebani dan mengancam anugerah kesatuan ini secara terus-menerus” (KK 814).

Apa yang menjadi pengikat persatuan Gereja? Yang menjadi tali pengikat persatuan Gereja terutama adalah cinta sebagai “pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan” (Kol 3,14). Persatuan Gereja dapat juga dijamin dengan pengikat yang mempersatukan sebagai suatu persekutuan seperti:

    - Pengakuan iman yang satu dan sama, yang diwariskan secara turun temurun oleh para rasul;
    - Perayaan kebaktian bersama, terutama perayaan sakramen;
    - Suksesi apostolis (rantai alih waris uskup dan para imam  yang tak terputuskan sejak zaman para Rasul), yang terus menerus dipertahankan lewat sakramen tahbisan – sakramen yang menjadikan kaum tertabis menjadi satu keluarga Allah yang rukun dan damai.

“Sesudah kebangkitan-Nya Penebus kita menyerahkan satu-satunya Gereja Kristus kepada Petrus untuk digembalakan. Ia mempercayakannya kepada Petrus dan para rasul lainnya untuk diperluaskan dan dibimbing … Gereja itu, yang didunia ini disusun dan diatur sebagai serikat, berada [lat.: subsistit in] dalam Gereja katolik, yang dipimpin oleh pengganti Petrus dan para Uskup dalam persekutuan dengannya” (LG 8).

Ad b) Bagaimana sehingga dalam perjalanan sejarah persatuan ini dilukai dan ternoda?

“Dalam satu dan satu-satunya Gereja Allah itu sejak awalmula telah timbul berbagai perpecahan, yang oleh Rasul [Paulus] dikecam dengan tajam sebagai hal yang layak di hukum. Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja katolik, kadang-kadang bukan karena kesalahan kedua belah pihak” (UR 3).

Yang termasuk dalam persekutuan-persekutuan yang memisahkan dirinya dari Gereja Katolik adalah persekutuan „protestan“, yang lebih sering menamakan dirinya agama kristen evangelis atau juga Gereja-Gereja evangelis.

“Tetapi mereka, yang sekarang lahir dan di besarkan dalam iman akan Kristus di jemaat-jemaat itu, tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa karena memisahkan diri. Gereja katolik merangkul mereka dengan sikap bersaudara penuh hormat dan cinta kasih... Sungguhpun begitu, karena mereka dalam Baptis  dibenarkan berdasarkan iman, mereka disaturagakan dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memang dengan tepat menyandang nama kristen, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan“ (UR 3).

Selain itu, di luar batas Gereja Katolik yang kelihatan terdapat juga „banyak unsur pengudusan dan kebenaran“ (LG 8): „Sabda Allah dalam Kitab suci, kehidupan rahmat, iman, harapan dan cinta kasih, begitu pula kurnia-kurnia Roh kudus lainnya yang bersifat batiniah dan unsur-unsur lahiriah“ (UR 3). Roh Kristus berhembus dalam Gereja-Gereja dan persekutuan-persekutuan ini sebagai sarana menuju keselamatan. Kekuatannya bersumber dari kepenuhan rahmat dan kebenaran yang diamanatkan Kristus kepada Gereja Katolik. Semuanya datang dari Kristus, menuju kepadaNya dan dengan itu dengan sendirinya terarah pada „persatuan yang universal (katolik)“ (Lumen Gentium 3).

Ad c) . Jalan mana yang harus ditempuh Gereja untuk mencapai persatuan kembali?

Kristus tak henti-hentinya menganugerhkan kepada GerejaNya rahmat persatuan, tetapi Gereja pun dituntut untuk terus menerus berdoa dan berkarya, supaya persatuan yang dikehendaki Kristus ini dapat terwujud, semakin dikuatkan dan menggapai kepenuhan. Untuk maksud ini, yang dibutuhkan adalah:

    - Suatu pembaharuan Gereja yang berkesinambungan dalam loyalitas yang penuh terhadap panggilannya. Pembaharuan inilah yangmenjadi motor atau penggerak menuju persatuan;
    - Pertobatan hati untuk mencapai sebuah kehidupan yang murni seturut injil, karena bagaimanapun juga ketidaksetiaan para anggota Gerejalah yang menyebabkan perpecahan dalam tubuh Gereja;
    - Doa bersama, karena „pertobatan hati dan kesucian hidup itu, disertai doa-doa permohonan perorangan maupun bersama untuk kesatuan umat kristen, harus dipandang sebagai jiwa seluruh gerakan ekumenis, dan memang tepat juga disebut ekumenisme rohani“ (UR 8);
    - Saling pengertian dalam roh persaudaraan timbal balik;
    - Pendidikan dan pembentukan ekumenis, terutama untuk para imam;
    - Dialog antara para teolog dan pertemuan umat kristen dari Gereja-Gereja dan persekutuan yang berbeda;
    - Kerjasama antara orang-orang kristen dalam lingkup pelayanan yang berbeda terhadap sesama manusia.

Ad d) Bagaimana Gereja katolik melihat hubungannya dengan orang-orang kristen bukan katolik?

„Jadi kepada kesatuan katolik Umat Allah itulah, ... semua orang dipanggil. Mereka termasuk kesatuan itu atau terarahkan kepadanya dengan aneka cara, baik kaum beriman katolik, umat lainnya yang beriman akan Kristus, maupun semua orang tanpa kecuali, yang karena rahmat Allah dipanggil kepada keselamatan“ (LG 13).

„Dimasukkan sepenuhnya kedalam sertifikat Gereja mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata-susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan didalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabunggkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejani serta persekutuan. Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalm cinta-kasih;  jadi yang ‚dengan badan’ memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak ‚dengan hatinya’“ (LG 14). Persekutuan dengan Gereja Orthodox itu begitu berakar dalam, „sehingga hanya tinggal selangkah lagi menuju kepenuhan bersama, terutama dalam hubungan dengan perayaan ekaristi bersama“ (Paulus VI, kotbah pada tanggal 14 Desember 1975) (Bdk. Juga KK 836-838).

Pertanyaan ke-44: „Kalau saya tidak salah mengerti, orang protestan berpendapat, bahwa Yesus telah menghapus segala dosa-dosamu dan menjanjikan surga kepadamu. Kalian bisa berbuat dosa dan kejahatan sebanyak mungkin sesuai keinginanmu, karena toh kalian sudah diselamatkan. Bagaimana mungkin ajaran Injil seperti ini dianggap sebagai benar? Apakah kalian tidak keliru dalam hal ini? Apakah Injil sungguh-sungguh berbicara tentang iman yang membiarkan manusia melakukan kejahatan? Tolong kemukakan, bagaimana pendapatmu. (Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri [Ef 2,8-9]) (TR)

Jawaban:
Bahaya kesalahpahaman ajaran seperti ini sudah diperingatkan oleh Perjanjian Baru. Tolong baca secara teliti Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma 5,12-6,23 dan suratnya kepada Jemaat di Galatia 6,1-10. Surat Yakobus yang bagi Gereja katolik memiliki arti yang tinggi sebagaimana surat-surat gembala yang lain justru mementahkan kesalahpahaman ini. Tolong baca juga Surat Yakobus 1,14-26.

Adalah tugas konsili Gereja untuk memperjelas satuan-satuan ajarannya yang dapat mengantar orang kepada kesalahpahaman dengan menyimak kesaksian-kesaksian yang menyeluruh dari Kitab Suci dan Teologi. Konstitusi dogmatis Konsili Vatikan II tentang Gereja (Lumen Gentium 40) mentematisir pertanyaan tentang rahmat, karya dan pengudusan sebagai berikut:

    „Tuhan Yesuslah Guru dan Teladan ilahi segala kesempurnaan. Dengan kesucian hidup, yang dikerjakan dan dipenuhi-Nya sendiri, Ia mewartakan kepada semua dan masing-masing murid-Nya, bagaimanapun juga corak hidup mereka: “Kamu harus sempurna, seperti Bapamu yang di sorga sempurna adanya” (Mat 5:48). Sebab kepada semua diutus-Nya Roh Kudus, untuk menggerakkan mereka dari dalam, supaya mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap tenaga mereka (lih. Mrk 12:30), dan saling mencintai seperti Kristus telah mencintai mereka (lih. Yoh 13:34; 15:12). Para pengikut Kristus dipanggil oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka, melainkan berdasarkan rencana dan rahmat-Nya. Mereka dibenarkan dalam tuhan Yesus, dan dalam babtis iman sungguh-sungguh dijadikan anak-anak Allah dan ikut serta dalam kodrat ilahi, maka sungguh menjadi suci. Maka dengan bantuan Allah mereka wajib mempertahankan dan mengembangkan dalam hidup mereka kesucian yang telah mereka terima. Oleh rasul mereka dinasehati, supaya hidup “sebagaimana layak bagi orang-orang kudus” (Ef 5:3); supaya “sebagai kaum pilihan Allah, sebagai orang-orang Kudus yang tercinta, mengenakan sikap belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran” (Kol 3:12); dan supaya menghasilakn buah-buah Roh yang membawa kepada kesucian (lih. Gal 5:22; Rom 6:22). Akan tetapi karena dalam banyak hal kita semua bersalah (lih. Yak 3:2), kita terus-menerus mebutuhkan belaskasihan Allah dan wajib berdoa setiap hari: “Dan ampunilah kesalahan kami” (Mat 6:12)”.

Pertanyaan ke-45: „Apa yang dikatakan oleh Mesiasmu yang kamu sebut Allah? Berapa ilah-ilah yang kamu miliki? Di samping Allah yang mana Mesias itu Allah? Bagi saya, apa yang seperti kamu paparkan tidak jelas, apakah ia (Mesias) itu hanya pengantara (pembela) atau Allah. „Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita?“ (Rom 8:33-34; bdk. Ibr 7,25). „Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil“ (1 Yoh 2,1)“ (TR).

Jawaban:
Saya coba memperjelas lagi pertanyaan yang masih kabur ini dengan kutipan-kutipan Kitab Suci dalam beberapa pertanyaan-pertanyaan dasar: (a) “Ada berapa banyak ilah-ilah yang kamu miliki (berhadapan dengan kepercayaanmu akan keAllahan Yesus Kristus)? (b) Lebih jauh: Dalam arti mana Yesus itu bertindak sebagai „pengacara“ (pengantara) bagimu di hadapan Allah dan sekaligus menjadi satu pribadi dari tiga „pribadi“ ilahi dalam rahasia Allah Tritunggal?

Ad a)

Terhadap pertanyaan ini tolong lihat lagi penjelasan-penjelasan bab ke-2 dan ke-5 buku ini dengan tambahan-tambahan di bawah ini.

Tambahan ini saya ambil dari penggalan-penggalan penjelasan dalam KK no. 232-234:

    “232 Orang Kristen dibaptis atas "nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus" (Mat 28:19). Sebelumnya mereka menjawab pertanyaan tiga ganda, apakah mereka percaya akan Bapa, Putera, dan Roh Kudus dengan: "Aku percaya". "Inti iman semua orang Kristen adalah Allah Tritunggal" (Sesarius dari Arles, symb.).“

    233 Orang Kristen dibaptis atas "nama" (tunggal) dan bukan atas "nama-nama" (jamak) Bapa, Putera, dan Roh Kudus, karena ada hanya satu Allah, Bapa yang maha kuasa dan Putera-Nya yang tunggal dan Roh Kudus: Tritunggal Maha Kudus.

    234 Misteri Tritunggal Maha Kudus adalah rahasia sentral iman dan kehidupan Kristen. Itulah misteri kehidupan batin ilahi, dasar pokok segala misteri iman yang lain dan cahaya yang meneranginya. Itulah yang paling mendasar dan hakiki dalam "hierarki kebenaran iman". (DCG 43). "Seluruh sejarah keselamatan tidak lain dari sejarah jalan dan upaya, yang dengan perantaraannya Allah yang satu dan benar - Bapa, Putera, dan Roh Kudus - mewahyukan Diri, memperdamaikan diri-Nya dengan manusia yang berbalik dari dosa, dan mempersatukan mereka dengan diri-Nya" (DCG 47).

Ad b)

Dalam Injil Yohanes (14,16.26), bukan hanya Yesus yang disebut sebagai „pengantara“, „penolong“ (yunani: paraklêtos) melainkan juga Roh Kudus. „Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu“ (14,26). Itu berarti, setelah kepergian Yesus ke rumah Bapa, Roh Kuduslah yang mengambil alih peranNya dalam kehidupan umat beriman, Yoh 14,16.17; 16,7, bdk. 1,33. Ia adalah „Paraklet“ (penghibur), penasihat, penolong yang menjadi pengantara bagi manusia di hadapan Allah, atau juga yang menjadi „pengacara“ bagi manusia dalam pengadilan di bumi, 15,26.27, bdk. Luk 12,11-12; Mat 10,19-20; Kis 5,32. Ia adalah Roh Kebenaran, 8,32, yang menuntun manusia kepada kepenuhan kebenaran dan menuntunnya kepada pengertian akan pribadi Kristus yang penuh rahasia: bagaimana ia memenuhi Kitab Suci, 5,39, apa yang menjadi arti kata-kata Kitab Suci, 2,19, perbuatan dan „tanda-tanda“Nya, 14,16; 16,13; 1 Yoh 2,20dst. 27. Sebelumnya, semuanya ini belum dimengerti oleh murid-murid Yesus, 2,22; 12,16; 13,7; 20,9. Dengan demikian Roh akan memberikan kesaksian tentang Kristus 15,26; 1 Yoh 5,6-7, dan menuntun orang-orang dunia yang tidak percaya, 16,8-11.

Suatu kesalahpahaman besar yang terjadi ialah bahwa perikop Injil Yohanes yang disebut di atas dan juga kata paraklêtos tidak dikenakan pada Roh Kudus, melainkan pada Muhammad bin Abdullah, nabi dalam agama Islam, seperti yang tertera dalam penjelasan atau komentar Maulana Muhammad Ali, The Holy Qur’an, Lahore, 1951, n. 2496 dalam hubungan dengan penjelasan terhadap Sura 61,6. Bandingkan: Adel Theodore Khoury, Der Koran. Arabisch-Deutsch. Übersetzung und wissenschaftlicher Kommentar, Jilid 12 (Gütersloh 2001), hal. 97. Catatan tambahan 3 untuk Sura 61,6.

Dalam surat Paulus kepada Jemaat di Ibrani Yesus disebut sebagai „Pengantara Perjanjian Baru“ (Ibr 9,15; 12,24), - sebuah perjanjian yang mengatasi Perjanjian Lama (Ibr 8,6). Semua orang yang menghadap Allah dengan pengantaraan Kristus akan diselamatkan sampai selama-lamanya (Ibr 7,25). Yesus adalah „pengantara“, karena untuk itulah Allah telah memangilNya (Ibr 5,5) dan Ia telah mengikuti panggilan ini sepenuhnya (Ibr 10,7 dst). Juga dalam 1 Tim 2,5 Yesus dinamakan pengantara dalam kapasitasnya sebagai manusia, tetapi inilah yang memungkinkanNya untuk menjadi „Penyelamat“ semua orang (ayat 4), dengan kematianNya Ia menjadi penebus bagi mereka (ayat 6). Dengan itu Yesus mendamaikan Allah dan manusia dengan diriNya sendiri.

Pertanyaan ke-46: „Apapah anda mengakui Islam dan Muhammad? Kalau ‚ya’, agama mana adalah agama terakhir? Agama kristen atau agama islam? Kalau jawabanmu adalah ‚islam’, dengan itu anda sebenarnya mengakui berakhirnya era kekristenan. Kalau begitu, mengapa orang-orang kristen tidak masuk saja menjadi islam?“ (TR)

Jawaban: ‚Yang bertanya dipersilahkan untuk membaca kembali apa yang diulas dalam bab ke-4 dari buku ini tentang Muhammad – Nabi: Juga untuk orang kristen? Lebih khusus lagi bacalah bagian IV, 3-5 dan lampiran pada bagian akhir bab ini. Bab ke-12 buku ini tentang Jantung kekristenan menunjukkan, apa yang menjadi titik tengah iman orang kristen. Yang menjadi titik tengah adalah cinta Allah yang tanpa syarat dan cuma-cuma – cinta yang tersingkap dalam ajaran, kehidupan, penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus, Mesias. Orang kristen berjumpa dengan Yesus dan merasakan kekuatan cintaNya dalam persekutuan doa, iman dan karya amal, ya dalam Gereja. Setiap orang kristen dipanggil untuk menjadi saksi cinta lewat pelayanan dan pengorbanannya bagi sesama manusia. Di manapun orang kristen menemukan jejak cinta Allah dalam Yesus Kristus, juga dalam diri dan kehidupan orang-orang muslim yang melayani Allah dan sesamanya dengan ikhlas, mereka akan tetap berterimakasih dan bersyukur kepada Allah yang telah menawarkan rahmatNya kepada seluruh umat manusia. Orang-orang kristen akan berusaha sedapat bisa untuk bekerjasama dengan orang-orang yang berkehendak baik ini. Dalam konteks ini Gereja mendorong para putranya „supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka“ (NA  2). Secara khusus Gereja mendorong juga orang-orang kristen dan islam, „supaya dengan tulus hati melatih diri untuk saling memahami, dan supaya bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan“ (NA 3).

Pertanyaan ke-47: „Kekhasan Injil adalah bahasanya yang indah menawan dan isinya yang padat bernas. Sebaliknya Perjanjian Lama banyak berbicara tentang kejahatan dan kekerasan. Bagaimana kita bisa mengerti dan menginterpretasi ayat-ayat Perjanjian Lama yang penuh dengan kekerasan (misalnya Dtn 13,15; Exodus 32,27)?“ (TR)

Jawaban:
Yang bertanya dipersilahkan untuk membaca bagian kedua dari jawaban terhadap pertanyaan ke-28.

Sekedar tambahan (dikutip dari buku: Glaubensverkündigung für Erwachsene. Deutsche Ausgabe des Holländischen Katechismus, Nijmwegen-Utrecht, 1966). „Siapa yang membolak-balik halaman Kitab suci Perjanjian Lama, dia akan berjumpa dengan keindahan yang menawan di satu pihak, dan kekalutan penuh onak dan duri bagai pegunungan yang tandus di lain pihak.

Yang membingungkan dan menjadi masalah, ialah bahwa dalam membaca [Kitab Suci Perjanjian Lama] sangat sering kita hanya mengharapkan perjumpaan kita dengan sebuah buku yang hanya ditaburi hal-hal indah dan menyokong – sebuah buku, dimana di dalamnya hanya digambarkan hal yang baik dan indah. Padahal justru dalam ceritra-ceritra tentang para leluhur seperti yang terdapat dalam Kitab Kejadian, tindakan-tindakan kekerasan yang bagi indra mausiawi kita saat ini tersa janggal digambarkan secara gamblang. Kita yang membaca ceritra-ceritra ini hendaknya menyadari, bahwa Kitab Suci itu tidak hanya menceritrakan hal-hal yang indah dan meneguhkan, tetapi membeberkan kenyataan apa adanya. Allah berjalan bersama sebuah kelompok manusia yang masih primitif. Baru dalam perjalanan waktu, kehidupan moral atau sekurang-kurangnya idealisme tentang kehidupan moral semakin ditempa menuju  ke arah yang lebih baik. Maksud yang berada di balik ceritra Abraham, bukan supaya kita mengikuti semua apa yang pernah dilakukannya, melainkan berusaha menyimaknya dalam konteks yang lebih luas, bagaimana ia dalam segala-galanya tetap setia kepada Allah. Yang dibutuhkan adalah pandangan atau horison yang  luas untuk bisa membaca Perjanjian Lama secara lebih seksama. Dalam hal ini harus dapat dibayangkan, bahwa bagi banyak orang di luar lingkup situasi kita, berlaku sebuah filsafat hidup yang lain pula.

Materi bacaan akan menjadi lebih dipahami, kalau tindakan tindakan kekerasan itu sungguh dilihat sebagai suatu yang buruk, misalnya dalam ceritra tentang Sodom dan Gomora, ataupun dalam ceritra tentang penipuan putri Lot (Kej 19). Masalahnya, kadang-kadang kelihatan seperti Allah sendiri berada di balik tindakan kekerasan, sebagaimana terlihat pada ceritra tentang kelicikan dan penipuan Yakob (Kej 27), atau lebih jelas lagi pada ceritra tentang pemusnahan penduduk Kanaan (Yos 8). Di sana tertulis, bahwa Yahwe sendirilah yang memerintahkannya (bdk. Jawaban atas pertanyaan ke 27).

Tetapi kasus-kasus seperti ini harus juga dilihat dalam konteks ketaksempurnaan primitif manusia di zamannya. Pada zaman itu manusia belum bisa memilah-milah kejadian secara jernih, atau lebih tepat ia hanya menggunakan metode-metode yang berlaku di zamannya untuk bisa membuktikan pelayanannya bagi Yahwe. Mentalitas yang dikehendaki Allah belum merasuk sepenuhnya hingga ke dasar jiwanya. Mujur dan patut ditonjolkan, bahwa dalam situasi seperti itu Yahwe tetap setia.

Ketaksempurnaan sivilisasi dan ciri kemanusiaan zaman dalam Perjanjian lama juga mendapat perhatian Yesus ketika ia membeberkan kenyataan, bahwa dalam Perjanjian Lama seorang suami dapat dengan mudah menceraikan istrinya. Semua ini terjadi, demikian kata Yesus, „karena ketegaran hati mereka“ (bdk. Mat 19,8), bukan karena Allah menghendakinya. Demikian juga dengan kisah pembunuhan dalam Kitab Yosua (kejadian itu sendiri dan korban yang jatuh jauh lebih sedikit dibandingkan dengan apa yang digambarkan di dalamnya; ya, jauh lebih sedikit daripada pemusnahan suku Indian di Amerika Serikat atau pembantaian orang-orang Yahudi di masa kekuasaan Hitler).

Pertanyaan ke-48: Para nabi adalah utusan Allah dan hendaknya menjadi contoh dan teladan. Tetapi kalau kita membaca ceritra David dan Salomo, bisa dilihat, betapa keduanya melakukan dosa besar. Bagaimana mungkin kedua orang ini bisa disebut nabi? (TR)

Jawaban: Yang bertanya dipersilahkan untuk membaca bagian pertama jawaban atas pertanyaan ke-27. Para leluhur, para nabi dan pribadi pribadi terkemuka dalam Perjanjian Lama, diantaranya juga para wanita kudus seperti Sara, Rebekka, Rahel, Miryam, Debora, Hanna, Yudit dan Esther dihormati oleh Gereja sebagai orang kudus. Orang kudus dalam ajaran Gereja katolik adalah mereka yang menghidupi imannya secara meyakinkan dan heroik. Kekudusan seperti ini tidak mengelak dari kenyataan, bahwa orang-orang kudus itu juga bisa berbuat dosa dan kesalahan. Yang paling penting dan terutama bukanlah perbuatan-perbuatan mereka yang menyolok mata dan hebat, melainkan kesetiaan, cinta dan kesabarannya yang kokoh dalam kehidupan harian, dalam kebaktiannya untuk memuji Tuhan, dalam cinta dan pelayanannya kepada sesama, terutama dalam memikul penderitaan, penganiayaan dan aneka kesulitan. Semuanya ini adalah buah dari keterbukaannya terhadap karya Roh Allah yang bekerja dalam diri mereka. Dalam Kitab suci dan ajaran kristiani tidak dikenal adanya ajaran tentang ketidakberdosaan (‘isma) para nabi, seperti yang dikenal dalam ajaran Islam. Ajaran Islam mengatakan, “bahwa para utusan Allah tidak dapat berbuat dosa dan dalam hubungan dengan iman dan kesetiaan iman, mereka tidak dapat keliru maupun mengkhianati imannya. Sunnah mengenakan istilah ma’sûm kepada setiap nabi, yang berarti bahwa mereka adalah manusia yang dilengkapi dengan privilese untuk terhindar dari segala kejahatan dan kekeliruan. Allah telah mengampuni dosa-dosa mereka yang telah diperbuat atas dasar hakekatnya sebagai manusia atau dosa yang pernah dibuatnya sebelum mereka dipilih oleh Allah sebagai nabi” (Cheikh Si Hamza Boubakeur, Traité Moderne de Théologie Islamique. Paris, 1985, S. 127).

Pertanyaan ke-49: Apakah orang islam yang ingin menjadi kristen mendapat privilese khusus? (TR)

Jawaban:
Komunitas-komunitas kristen di berbagai daerah di dunia berkewajiban untuk menampung, menerima dan menghargai keinginan orang-orang islam dewasa untuk menjadi kristen. Tetapi bersamaan dengan itu, Gereja juga tetap berpegang teguh untuk memperhatikan secara teliti, bahwa keputusan untuk menjadi kristen sungguh berasal dari keputusan yang bebas tanpa paksaan dari luar atau dari dalam, dan bahwa motivasi untuk mengambil langkah ini hanya datang dari keinginan satu-satunya untuk hidup seturut ajaran Kristus dan masuk dalam deretan pengikut-pengikutNya. Dengan ini menjadi jelas, bahwa komunitas-komunitas kristen tidak diperbolehkan untuk memberikan privilese khusus baik secara material maupun dukungan lain kepada mereka yang meminta untuk mempelajari iman kristiani untuk kemudian menerima permandian. Karena kalau ini dibuat, maka kebebasan seperti yang diutarakan diatas dipangkas dan motovasinya pun semakin dinodai dan kabur.

Penerimaan sakramen permandian adalah langkah akhir dari sebuah proses inisiasi dalam beberapa tahap. Pengantar kepada kehidupan iman kristiani serta seluruh persiapan ke arah ini (pembaptisan) disebut katekumenat.

Lewat masa persiapan [katekumenat] para katekumen yang mempersiapkan diri untuk menerima sakramen pembaptisan diberikan kesempatan untuk memberikan jawaban terhadap tawaran keselamatan Allah sekaligus untuk mematangkan rahmat pertobatan dan imannya dalam persatuannya dengan sebuah persekutuan gerejani. Yang ditekankan di sini ialah sebuah pengantar dan ... tuntunan menuju ke kepenuhan kehidupan kristiani, dimana semua yang menamakan dirinya pengikut Kristus bersatu dengan Dia yang adalah gurunya. Para katekumen harus dituntun langkah demi langkah menuju rahasia keselamatan lewat latihan metanoia seturut Injil. Disamping itu lewat sebuah upacara ritus sakral, mereka juga dituntun tahap demi tahap menuju kehidupan iman, kehidupan liturgis dan kehidupan dalam sebuah persekutuan penuh cinta sebagai umat Allah (bdk. Katekismus Gereja Katolik, no. 1247-1248).

„Para katekumen "sudah termasuk rumah (keluarga) Kristus, dan tidak jarang sudah menghayati kehidupan iman, harapan, dan cinta kasih" (AG 14). ‘Bunda Gereja sudah memeluk mereka sebagai putera-puteranya dengan cinta kasih dan perhatiannya’ (LG 14)” Katekismus Gereja Katolik, no. 1249).

[Home] [KITAB SUCI] [KE-ALLAHAN YESUS] [SALIB, DOSA DAN PENEBUSAN] [MUHAMMAD SANG NABI?] [ALLAH TRITUNGGAL] [GEREJA] [EKARISTI KUDUS] [DOA] [HAL ROHANI DAN JASMANI] [SELIBAT] [KEANEKARAGAMAN AGAMAN] [JANTUNG KEKRISTENAN] [REGISTER CATATAN KAKI] [INDEKS TOPIK PERTANYAAN] [INDEKS PERTANYAAN] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 1] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 2] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 3] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 4] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 5] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 6] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 7] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 8] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 9] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 10] [IMPRESSUM]