deutsche fahne

Deutsch

us-eng-flag

English

Türkce

Frankreich02

Français

Italia02

Italiano

Spanien02

Español

russland3
Banner

Pertanyaan dan Jawaban 6

Pertanyaan ke-50: Mengapa saya harus menjadi kristen? Apa gunanya untuk saya, dan apa yang dijanjikan oleh agama kristen buatku untuk kehidupan kelak sesudah kematian? Orang-orang islam menjelek-jelekkan agama kristen, dan agama kristen menjelek-jelekkan agama Yahudi. Bagaimana saya bisa memilih agama yang benar? Agama yang satu menganggap agama yang lain sebagai sebuah dongeng. Bagaimana anda dapat membuktikan kebenaran? Bukti nyata mana yang anda bisa berikan? Dalam kenyataan memang ada seorang Allah pencipta. Tetapi agama mana yang mpunya kebenaran dalam mewartakan tentangNya? (TR)

Jawaban: Dari uraian-uraian dalam buku ini dan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan kiranya menjadi jelas, bahwa di satu pihak iman kristiani itu mengklaim dirinya sebagai iman yang benar, sementara di lain pihak ia tidak serta merta mengambil kesimpulan, bahwa iman agama-agama lain seperti iman agama Yahudi ataupun Islam adalah iman yang salah sama sekali dan tidak mempunyai arti. Karena itu, yang bertanya dipersilahkan  untuk membaca lagi secara teliti bab ke-11 dan bab ke-14, juga jawaban terhadap pertanyaan ke-42.
Mengapa seseorang mau menjadi kristen? Seorang kristen yang sungguh-sungguh beriman akan menjawab: Karena menjadi kristen berarti berjumpa dengan Yesus Kristus yang adalah jalan, kebenaran dan hidup (bdk. Yoh 14,6). Iman inilah yang memberikan jawaban kepada semua yang sungguh-sungguh mencari dan ingin mendapatkan apa yang sebenranya dicari dalam hidup. Apa keuntungannya menjadi seorang kristen? Keuntungan yang diperoleh ialah mengenal Yesus Kristus yang adalah „Putera Allah“, mengikutiNya  serta mengambil bagian dalam kegembiraan dan kepenuhan dalam persekutuan jemaatNya, ya dalam Gereja di sini dan sekarang – sebuah kegembiraan dan kepenuhan yang hanya dapat dihadiahkan oleh Allah yang benar secara kontinu.
Orang-orang kristen dan seluruh Gereja kristen percaya, bahwa Allah, pencipta  yang berbelaskasih, mewahyukan diriNya dan kebenaranNya dalam Yesus Kristus, PutraNya. Karena itu sangat penting bagi mereka untuk mengenal apa yang dikehendaki Yesus dan pribadiNya serta berkomitmen denganNya secara jujur. Tema ini sudah diuraikan dalam bab ke-2 buku ini. Uraian tambahan dibawah ini dikutip dari sebuah buku kecil Teolog Otto Hermann Pesch, Kleines Glaubensbuch (Sebuah Brosur Tentang Iman) (Topos Taschenbuch 29), bab ke-2:

    „Putra Manusia“

...  Jika kita ingin mengerti, apa artinya beriman kepada Yesus sebagai Putera Allah, kita hendaknya pertama-tama menyimak kehidupan duniawiNya. Dia menghidupi hidupNya sebagaimana seorang manusia biasa di zamanNya... Ia adalah manusia dari darah dan daging, seorang manusia yang bertabiat baik dan berbudi pekerti luhur. Tetapi apa sebenarnya yang berada di balik kemanusiaanNya ini?
Pertama-tama Ia memaklumkan sebuah kabar gembira yang belum pernah dimaklumkan sebelumnya, sekalipun oleh nabi terbesar yang mendahuluiNya. Ia mengajarkan: „Kerajaan Allah sudah dekat“ (MK 1,15). Itu berarti: Allah dekat dengan semua manusia – ya, semua
manusia tanpa kecuali. Semua orang hendaknya tahu dan percaya, bahwa Allah adalah Allah untuk manusia. Sebuah ketakpastian atau kebimbangan berhubungan dengan kedekatan Allah terhadap manusia hendaknya disingkirkan jauh-jauh.
Dari kabar gembira yang diwartakan ini, Yesus menarik konsekuensi yang jelas bagi kehidupan manusia. Mereka hendaknya mengusir segala rasa takut, baik terhadap Allah maupun terhadap manusia. Mereka hendaknya tidak merasa kuatir lagi akan kehidupannya – kekuatiran mendalam yang lahir dari rasa takut, bahwa pada akhirnya segalanya sia-sia dan tidak berguna. Juga segala kesalahan/dosa dan kegagalan bukannya menjadi batu sandungan bagi Allah untuk berjumpa dengan manusia dalam cinta. Semua manusia hendaknya tahu dan mengerti, bahwa mereka sementara beranjak menuju kegembiraan yang penuh dan tak terbayangkan – dan bahwa saat sekarang pun mereka hendaknya sudah bisa menghidupinya, sehingga semua orang melihatnya.
Karena Allah mencintai semua mausia, maka walaupun masih tetap terdapat perbedaan di antara mereka, baik itu perbedaan dalam profesi atau pengetahuan, maupun dalam talenta atau kebajikan, tokh ini bukan menjadi hambatan. Bahkan semua yang merasa terbeban karena dosa-dosanya pun diterima sebagaimana adanya, karena tak seorang pun hidup tanpa dosa dan kesalahan. Keadilan, perdamaian dan cinta hendaknya menguasai komunitas kehidupan bersama manusia dan mengantarnya kepada keselamatan, karena inilah yang mencerminkan perdamaian antara Allah dan manusia yang berdosa.

    Lebih dari para nabi

Yesus mengejawantahkan kabar gembira yang diwartakanNya ini dalam sikap dan tindakan-tindakanNya. Ia mengumpulkan murid-muridNya dan menjadikan mereka sebagai mitra kerja dalam pewartaan kabar gembira. Perbedaannya, Ia melakukan ini tidak seperti seorang ahli taurat yang mencari mitra kerjanya dari kalangan yang sepadan dalam tingkatan pendidikan. Yesus justru memilih para nelayan, kaum sederhana dan terlupakan dari perkampungan dan desa. Ia malah makan bersama dengan orang-orang yang disingkirkan dalam masyarakat: dengan perempuan-perempuan yang tidak jelas statusnya, dengan kaum pria yang bekerja pada pos-pos yang korup (pemungut cukai). Ia pun menghendaki, supaya orang bisa melakukan apa seperti yang dilakukanNya. Ia mempertanyakan kembali (melukai) hukum dan aturan-aturan yang berlaku, terutama hukum dan aturan yang merugikan orang-orang kecil dan miskin, misalnya orang sakit yang tidak boleh ditelantarkan dan harus ditolong, walau pada hari Sabbat sekalipun. Ia pergi ke Bait Allah dan memporakporandakan segala aturan dan sistem religiositas Yahudi yang sudah biasa dipraktekkan dan dihidupi waktu itu, tetapi menurutNya bertentangan dengan kehendak Allah. Kasih Sayang Allah tidak dapat dibeli. Manusia hendaknya tahu dan mengerti, bahwa Allah dekat dengannya, tanpa ia harus melakukan sesuatu atau berusaha untuk itu.
Apa yang dilakukanNya ini memang mengatasi segala apa yang sudah dilakukan oleh nabi-nabi besar Israel, tetapi tokh masih berada dalam jalur atau koridor pemetaannya. Banyak orang yang hidup di zaman Yesus melihat Yesus pertama-tama sebagai seorang nabi baru yang berkuasa. Tetapi bukan hanya sekedar ini... Yesus mengklaim diriNya sebagai yang lebih dari semua nabi dan para ahli taurat. Seorang ahli taurat mengatakan: Musa
telah berkata... Seorang nabi mengatakan: Demikianlah sabda Tuhan... Tetapi Yesus mengatakan sesuatu dari diriNya sendiri, tanpa merujuk pada suatu kekuatan yang melebihi diriNya: Sungguh, Aku berkata kepadamu.
Lebih lanjut: Apakah seorang bisa masuk dalam kekuasaan atau lebih tepat dalam „kerajaan Allah“ seperti yang diwartakan Yesus, tergantung dari bagaimana sikap dan pandangannya tentang Yesus. Ini dapat disimak secara lebih jelas dalam kotbah Yesus di kampung halamannya Nasaret (Luk 4,14-30). Dalam kotbahNya ini Yesus menjelaskan: Aku adalah Dia yang menjadi pemenuhan ramalan para nabi.  Para pendengar tidak mempedulikannya. Yang terpancar di mata Yesus hanyalah ketakberimanan mereka, hal mana yang menjadi batu sandungan bagi Yesus untuk melakukan hal-hal besar seperti yang Ia lakukan di kota-kota lain. Hanya siapa yang berkomitmen dengan Yesus – sekurang-kurangnya dalam iman dan tidak jarang dalam hal mengikutiNya dalam pengertian harafiah (ikut mengambil bagian dalam pengembaraanNya) – ia dapat megalami kedekatan Allah yang tercurah saat demi saat.
Akhirnya: Kalau Yesus berbicara tentang Allah, Bapa, Ia tidak pernah menggunakan pernyataan “Bapa kami” dalam pengertian yang sama antara diriNya dan para pendengar.
Ia selalu membuat distinksi yang jelas antara pernyataan Bapa “kamu” dan “BapaKu”. Manusia adalah anak-anak Bapa, hanya Ia sendiri adalah “Putra” Bapa.

    “Putra Allah”

Tak dinyana para pendengar kotbah Yesus begitu cepat mengerti dan memahami, bahwa hanya ada dua alternatip berhadapan dengan klaim dan pernyataan Yesus tentang diriNya yang sering tak terdengar: Antara menerima dan menganggapnya sebagai benar, lantas percaya sepenuhnya pada Dia dan apa yang dikatakan, atau kalau bukan demikian berarti Yesus adalah seorang penghujat Allah dan seorang penipu lihai yang tidak ada tandingannya. Konsekuensinya, bagi mereka yang tidak percaya kepadaNya, mereka membiarkan Ia disandra dan dibawa ke pengadilan kekuasaan Romawi atas dasar tuduhan terhadap diriNya sebagai  penghujat Allah dan pengacaubalau perdamaian, hingga akhirnya dipaku pada palang penghinaan. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi, ketika mereka mengejekNya dari kaki salib: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!” (Mk 15,31).
Kita tahu, apa yang terjadi sesudahnya. Kebimbangan yang menyelimuti para rasul hingga akhirnya mereka kehilangan segala harapan (Luk 24,21) hanya berlangsung sekejap. Ia akhirnya menampakkan diriNya kepada mereka sebagai orang hidup yang bangkit dari alam maut dan mengalahkan kematian. Maka mereka yang telah mendengar pewartaanNya dan percaya kepadaNya mulai berpikir, bagaimana mengungkapkan kembali dalam kata-kata, apa yang telah dialami bersama Yesus dan siapa diriNya. Mereka lalu menamakanNya “Putra Allah” dan mengakui serta menghormatiNya sebagai “Putra Allah”. Apa yang tersirat di balik nama ini, tentu dapat diungkapkan secara lain, terutama pada saat sekarang ini. Tetapi justru nama dan gelar inilah yang dirasa paling cocok waktu itu untuk pengakuan dan pewartaan iman, juga sampai saat ini.
Camkanlah: Kepada para pendengarNya Yesus sudah menyatakan, bahwa nama atau gelar ini benar dan tepat. Dalam Injil kita menjumpai banyak perikop yang berbicara tentang Yesus sebagai “Putra” atau juga yang mempresentasikan pertanyaan orang lain tentang diriNya, apakah Ia adalah “Putra Allah” (bdk. Mat 16,16; Mk 14,61, Luk 1,32). Dan kalau Ia sendiri sudah menekankan dan menyebut Allah sebagai “BapaNya”, apa salahnya kalau Ia disebut „Putra Allah“?
Camkan lagi: Nama atau gelar inilah yang menarik perhatian, baik bangsa Yahudi maupun bangsa-bangsa kafir – orang-orang yang hidup dalam dunia helenis dan budaya Romawi. Waktu mendengar nama atau gelar ini, pikiran dan perhatian orang-orang Yahudi langsung terarah pada raja agung dan penuh misteri – raja yang akan berkuasa di masa depan (saat keselamatan) seperti yang diwartakan oleh para nabi – suatu masa, dimana Allah membersihkan segala yang jahat dari muka bumi dan menjadikan segalanya baik dan baru. Orang-orang Yunani teringat akan kisah dan ceritra para dewa, terutama ceritra tentang “putra-putra dewa” dan tentang para dewa yang datang ke dalam dunia dan mengenakan figur kemanusiaan manusia. Memang: baik gagasan Yahudi maupun gagasan Yunani tentang “Putra Allah” tidak dapat dikenakan begitu saja pada pribadi Yesus Sebagai “Putra Allah”.  Seyogyanya, jika Yesus disebut sebagai “Putera Allah”, yang dimaksudkan adalah suatu yang istimewa: Ia lebih dari sekedar manusia. Karena itu penggunaan gelar ini pada pribadi Yesus merupakan suatu hal yang istimewa sekaligus suatu tantangan besar. Karena dengan penggunaan gelar ini, iman Kristen mementahkan segala gambaran yahudi dan yunani yang indah-indah tentang “Putra Allah”. Menurut iman Kristen, “Putra Allah” itu tidak lain adalah Yesus yang kontradiktoris, yang ditertawakan, dianiaya dan disalibkan. Tidak mustahil, kalau ini menjadi batu sandungan bagi orang-orang yang kuat dan berkuasa.
Hal yang sama berlaku kalau dikatakan, bahwa Yesus adalah „Tuhan“. Terjemahan Yunani kuno (sebelum masa Yesus) menerjemahkan kata yang sama dalam Perjanjian Lama dengan kata Allah. Ini bisa dimengerti, karena bagi orang Yunani waktu itu, „Tuhan“ adalah sebuah gelar ilahi. Kaiser Romawi malah menyebut dirinya „Tuhan“, karena ia menghendaki supaya dirinya dihormati sebagaimana layaknya Tuhan dan membiarkan orang-orang kristen dihukum dan dianiaya, kalau mereka mengatakan, bahwa hanya Yesuslah „Tuhan“.

    Misteri Yesus

Bukan hanya dulu! Zaman sekarang pun gelar „Putra Allah“ yang kontradiktoris masih tetap relevan dan tepat untuk mengungkapkan iman kepadaNya. Sejauh manusia masih bisa membuat perbandingan, dapat dikatakan, bahwa Yesus dan bapaNya setara dalam hakekat. Tetapi harus pula dibedakan, bahwa Bapa dan Yesus bukanlah sebuah pribadi yang sama, seolah-olah Bapa mengenakan juga kemanusiaan kita yang fana dalam diri Yesus. Para pengarang Perjanjian Baru mengungkapkannya secara lebih jelas dan tepat, daripada yang sering kita lakukan. Kalau mereka mengatakan „Allah“, yang dimaksudkan adalah selalu Bapa. Yesus adalah „Putra“, „Yang terurapi“ (=Kristus), „Hamba“ Allah. Bagi orang kristen Ia adalah „Tuhan“. Walaupun Ia berada dalam „persatuan“ yang erat dengan Bapa, Ia tokh tetap terpisah dari Bapa, Yang berdoa kepadaNya. Pada salah satu perikop, Ia malah menggunakan sebuah kata yang bagi kebanyakan orang kristen yang mengakuiNya sebagai Putra yang lahir dari Allah menjadi batu sandungan: „Bapa lebih besar dari pada Aku.“ (Yoh 14,28).

Pada akhirnya gelar „Putra Allah“ berarti: Antara Yesus dan BapaNya terdapat sebuah hubungan saling percaya, saling memberikan diri dan saling menyokong satu sama lain secara istimewa. Karena itu Yesus dapat juga bertindak dalam nama BapaNya. Apa yang Ia katakan dan lakukan, adalah juga apa yang dikatakan dan dilakukan oleh BapaNya. Apa yang direncanakan oleh BapaNya dalam hubungan dengan manusia, terpenuhi dalam diri Yesus – sebagaimana di zaman dulu para penguasa dan raja menamakan wali dan wakil/penggantinya „putra“. Dengan ini Yesus ingin memanggil semua orang yang percaya kepadaNya untuk mengambil bagian dalam status keputraanNya. Tetapi bagaimana pun juga statusNya sebagai Putra Allah berdasarkan hakekat ilahiNya tidak akan pernah dicapai oleh manusia. Perbedaan antara “BapaKu” dan “Bapa kamu” tetap ada dan tidak dihapuskan oleh karenanya. Yang terpenting ialah, bahwa manusia tetap mengarahkan diri kepadaNya dan  mengikutiNya, terutama menyangkut hubunganNya yang hidup dengan BapaNya. Santu Paulus berkata: “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” (Gal 3,26). Ketika suatu waktu Yesus dituduh, bahwa Ia menghujat Allah dengan menjadikan diriNya Allah, Ia membela diriNya dengan mengutip Mazmur yang berbicara tentang manusia: “Aku telah berfirman: Kamu adalah allah” (Yoh 10,34; bdk. Mz 82,6).

Gelar “Putra Allah” ternyata menjadi ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang kita maksudkan dengan pribadi Kristus. Dibandingkan dengan gelar lain, gelar “Putra Allah” ini menyajikan kesan yang lebih mendalam, bahwa kita tidak akan pernah menyelami rahasia Yesus. “Putra Allah” tidak lain adalah Yesus sebagai  “Putra manusia”, Yesus yang tersalib. Muncul pertanyaan: bukankah pada zaman sekarang gelar “Putra Allah” ini menimbulkan lebih banyak kesalahpahaman? Benar! Tetapi dimana tidak terdapat kesalahpahaman, kalau sesuatu yang khusus dan istimewa ingin diangkat ke permukaan? Pertama-tama yang harus dilakukan untuk menghindarkan kesalahpahaman ini bukannya dengan menghapus dan tidak memakai lagi gelar ini, melainkan dengan memberikan penjelasan yang komprehensip tentang gelar yang digunakan itu. Siapa yang tetap tidak mengerti penjelasan ini karena minimnya interes, atau karena daya jangkau pikiran yang terbatas, ia juga tidak berhak untuk mengeluh tentang kesalahpahaman gelar ini. Jalan terbaik untuk menghindar dari kesalahpahaman ini, ialah terus menerus memikirkan dan memilah-milah, betapa banyaknya hal-hal dalam pengakuan iman yang tidak sanggup dimengerti berdasarkan akal sehat, misalnya perihal Yesus dari Nasaret, Putra Manusia, satu-satunya Putra Tunggal Allah. Sampai saat ini belum bisa didapatkan sebuah gelar yang lebih baik, gelar yang tidak terlalu terancam oleh kesalahpahaman dari gelar ini. Karena itu tidak ada sesuatu pun yang menghalangi kita untuk terus menerus berdoa dalam pengakuan/syahadat iman: “Aku percaya akan Yesus Kristus, PutraNya yang tunggal Tuhan kita…. Dilahirkan oleh perawan Maria.”

    “Sabda sudah menjadi daging”

Perjanjian Baru menawarkan sebuah bantuan untuk kita. Dalam pengantar Injil Yohanes, Yesus disebut sebagai “Sabda Allah yang sudah menjadi daging” (Yoh 1,14). Di sini muncul kembali sesuatu yang sangat kontradiktoris dalam hubungan dengan pernyataan gelar Yesus sebagai “Putra Allah”: Putra Allah ini tidak lain adalah Yesus yang tersalib. Sabda Allah adalah Manusia Yesus dari Nasaret yang rela menjadi “daging” dan menyerah pada suratan maut. Di sinilah tersingkap sebuah misteri yang dalam: Allah yang mengatasi segala dunia, Tuhan dari segala ciptaan, tidak hanya berpaling kepada manusia yang memberontak dengan cintaNya yang besar – inipun sebenarnya sudah cukup –, melainkah lebih dari itu Ia masuk dalam sejarahnya dan membagi kehidupanNya bersama mereka sembari tidak kehilangan keAllahanNya dan tetap tinggal sebagai Allah yang mengatasi segala dunia. “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” (Ibr 1,1-2). Allah rela mengenakan figur hamba kemanusiaan dan keberadaan kita, Ia menjadi manusia, taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib (bdk. Filipi 2,6-8).
Yang paling penting dalam hubungan dengan pertanyaan ini bukanlah untuk menentukan agama mana yang benar, melainkan bagaimana orang yang melontarkan pertanyaan ini memberikan reaksi terhadap pernyataan dan klaim Yesus tentang diriNya. Dalam Injil Yohanes Ia mengatakan tentang diriNya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup" (Yoh 8,12); "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku“ (Yoh 14,6); „Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku" (Yoh 18,37). Inilah pengakuan Gereja akan Yesus Kristus sebagai kebenaran terakhir tentang Allah, manusia dan dunia.
„Di antara terang-terang palsu dan karya-karya yang membutakan, Ia adalah terang dunia, terang yang memelekkan mata kita untuk melihat segala macam hal dan sesama, terang yang menuntun kita dalam menelusuri kegelapan yang membutakan sebagai akibat dari dosa dan tanda ketidakselamatan manusia, ya terang yang membuka mata kita untuk melihat arti keberadaan dan nilai penderitaan yang kita alami. Sebagai nabi, Yesus Kristus adalah kunci menuju pengertian tentang manusia; tanpa Yesus Kristus, manusia tidak mungkin mengerti diri dan dunia hidupnya. Dalam diri Yesus Kristus, Allah mewahyukan diriNya ‚kepada manusia dan bagi segala manusia’ (GS 22)“ (Katekismus Gereja Katolik, hal. 211).

Pertanyaan ke-51: Apakah dalam Injil terdapat juga perikop atau ayat-ayat tentang  toleransi, persaudaraan dan cinta kasih terhadap sesama? Apakah anda bisa menjabarkannya? (TR)

Jawaban: Pada dasarnya Injil adalah sebuah buku tentang cinta tanpa syarat dari Allah terhadap manusia yang tersingkap dalam hidup dan ajaran Yesus, sang Mesias. Cinta inilah yang memampukan dan memberanikan kita menuju toleransi, persaudaraan dan cintakasih terhadap sesama. Kotbah di bukit (Mat, bab 5-7) adalah sebuah ringkasan/ikhtisar yang paling menyolok dari apa yang dihidupi dan diajarkan oleh Yesus. Di sini kami hanya ingin mengemukakan beberapa perikop dari begitu banyak perikop yang berbicara tentang toleransi, persaudaraan dan cinta sebagai contoh: Rom 12,9-21 dan 1 Kor 13.

    „Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih“ (1 Kor 13).
    „Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!“ (Rom 12,9-21).

Pertanyaan ke-52: Bagaimana seseorang dapat menjadi kristen? (TR)

Jawaban: „Orang menjadi Kristen - sudah sejak zaman para Rasul - dengan mengikuti jalan inisiasi dalam beberapa tahap. Jalan ini dapat ditempuh cepat atau perlahan. Tetapi ia harus selalu mempunyai beberapa unsur hakiki: pewartaan Sabda, penerimaan Injil yang menuntut pertobatan, pengakuan iman, Pembaptisan itu sendiri, pemberian Roh Kudus, dan penerimaan ke dalam persekutuan Ekaristi... Sejak awal Gereja, Pembaptisan orang-orang dewasa diberikan paling sering di tempat, di mana Injil belum lama diwartakan. Karena itu katekumenat [persiapan Pembaptisan] mendapat tempat yang penting. Sebagai bimbingan ke dalam iman dan kehidupan Kristen, ia harus mempersiapkan orang untuk menerima rahmat Allah di dalam Pembaptisan, Penguatan, dan Ekaristi. Waktu persiapan ini, bertujuan membantu katekumen untuk memberi jawaban kepada tawaran keselamatan ilahi dan untuk mematangkan pertobatan dan imannya dalam kesatuan dengan persekutuan Gereja. Yang dipentingkan di sini ialah suatu ‚pembinaan dalam seluruh hidup kristiani..., yang membantu para murid untuk bersatu dengan Kristus Guru mereka. Maka hendaknya para katekumen diantar... untuk memasuki rahasia keselamatan, menghayati cara hidup menurut Injil, dan ikut serta dalam upacara-upacara suci, yang harus dirayakan dari masa ke masa. Hendaknya mereka diajak memulai hidup dalam iman, merayakan liturgi dan mengamalkan cinta kasih Umat Allah’. Para katekumen ‚sudah termasuk rumah (keluarga) Kristus, dan tidak jarang sudah menghayati kehidupan iman, harapan, dan cinta kasih’“ (Katekismus Gereja Katolik Nr. 1229, 1247-1249).

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Katekismus Gereja Katolik, seseorang menjadi kristen berkat pembaptisan. Dalam pembaptisan ini, yang bersangkutan akan dibaptis dengan air dalam nama Allah Tritunggal Kudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus. Sebelum masuk dapam pembaptisan ini, terdapat sebuah masa persiapan yang dinamakan masa katekumenat. Katekumenat adalah masa persiapan untuk menerima sakramen pembaptisan. Lamanya masa katekumenat ini bisa bervariasi tergantung dari calon baptis. Ia bisa berlangsung cukup lama. Selama masa katekumenat ini, calon babptis diharapkan bisa lebih mengenal pribadi Yesus Kristus dan pewartaanNya. Ia juga hendaknya terbiasa dan merasa akrab dengan iman dan kehidupan iman kristiani, supaya ia dapat mengatur dan mengarahkan kehidupannya berdasarkan ajaraan dan contoh hidup Kristus. Yang menjadi bagian penting dalam program masa persiapan ini, ialah mengenal, merasa akrab dan beradaptasi dengan isi ajaran kristiani. Calon baptis hendaknya secara sadar dan bertanggung jawab mengatur dan membentuk kehidupannya dalam terang ajaran-ajaran dasar kristiani serta menghormati dan menyembah Allah bukan hanya dalam doa-doa dan kebaktian, melainkan juga dalam seluruh dimensi kehidupan hariannya, melayaniNya dan memberi kesaksian tentangNya.

Pertanyaan ke-53: Kalau saya dapat membuktikan kepadamu dan meyakinkanmu, bahwa Kitab Sucimu sebenarnya tidak berlaku lagi di hadapan Allah – Dia yang menciptakanmu dan menciptakanku, apakah anda pada akhirnya bisa menerima Islam sebagai agamamu demi kebaikanmu? (TR)

Jawaban: Kitab Suci itu ada dan sudah berabad-abad lamanya dibaca dan diterima oleh orang-orang yang tak terhitung banyaknya sebagai sebuah Kitab yang diinspirasi oleh Roh Allah. Tentang ini kami telah menguraikannya dalam bab pertama buku ini, dan bisa dibaca juga dalam homepage ini. Kitab Suci itu pada dasarnya adalah sebuah perpustakaan yang menyimpan tulisan-tulisan yang berkembang berabad-abad lamanya, diwarnai oleh situasi yang beraneka ragam, dan ditulis oleh para pengarang serta kelompok para pengarang dengan menggunakan genre sastra yang beraneka ragam pula. Tulisan-tulisan ini kemudian dikumpulkan dalam satu kitab. Pertama-tama dikumpulkan tulisan-tulisan yang memuat dokumentasi tentang sejarah dan pengalaman religius bangsa Yahudi, menyusul tulisan-tulisan yang sudah ada pada tahap paling awal sejarah Gereja kristen. Tentang validitas tulisan-tulisan ini tidak diragukan. Menyangkut keabsahan teks kitab-kitab biblis, generasi peneliti-peniliti kritis telah berusaha untuk mencari pendasaran yang memadai. Hasil penelitian-penelitian ini telah memenuhi rak-rak buku. Pertanyaan yang paling penting untukku, ialah bagaimana saya memberikan reaksi dan bersikap terhadap warta serta kabar gembira yang dimaklumkan oleh Kitab Suci. Orang-orang beriman Yahudi menginterpretasikan tulisan-tulisan Kitab Pertama (Perjanjian Lama) menurut caranya. Kami orang kristen membaca Kitab Pertama (Perjanjian Lama) ini dalam terang kehidupan dan ajaran Yesus – Dia yang kami akui sebagai Mesias dan Putra Allah yang benar. Berdasarkan pemahaman dan pengertian kristiani, pewahyuan diri Allah itu secara kronologis sudah terpenuhi secara definitip dalam Kitab Kedua (Perjanjian Baru), yang bersama-sama dengan Perjanjian Lama menjadi Kitab Suci orang kristen. Berdasarkan keyakinan yang kami anuti, bahwa Allah secara definitip mewahyukan diriNya dalam Yesus Kristus, atau dengan kata lain, bahwa dalam Diri Yesus Kristus Allah menjadi manusia, maka konsekuensi logis yang menyertainya, ialah berdasarkan iman kristiani tidak akan ada lagi pewahyuan diri Allah setelah Yesus Kristus. (Lihat dan bandingkan juga jawaban terhadap pertanyaan 39, 28 dan 47).

Pertanyaan ke-54: Kalau saya tidak keliru, berdasarkan ajaran kristiani bunuh diri merupakan sebuah dosa berat. Malah bagi pelaku bunuh diri Gereja menolak untuk menguburkannya secara kristen dan tidak membiarkannya untuk dimakamkan di penguburan kristen. Bagaimana mungkin terjadi, bahwa Hannelore Kohl, istri dari mantan Kanslelir Helmut Kohl yang terang-terang menghabiskan hidupnya dengan jalan membunuh diri dikuburkan secara kristen? (DE)

Jawaban: Berdasarkan Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik (Codex Iuris Canonici=CIC) yang keabsahannya berlangsung dari tahun 1917 sampai 1983, orang yang meninggal dengan cara bunuh diri tidak diperbolehkan untuk dikuburkan secara katolik/gerejani. Alasan yang melatarbelakanginya adalah karena orang-orang seperti itu dianggap sebagai „para pendosa yang tidak lagi menjadi rahasia umum“. Berhadapan dengan ketentuan hukum yang digariskan oleh CIC 1917 ini, dalam Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik yang baru (CIC 1983) ditetapkan sebuah kriteria baru untuk memutuskan, apakah seorang yang mati dengan cara bunuh diri bisa dikuburkan secara katolik/gerejani atau tidak. Kriteria yang dimaksudkan adalah membuat sebuah penelitian yang perlu, apakah dalam hubungan dengan situasi kehidupan pribadi dan situasi kehidupan moral dan religius dari orang bersangkutan ada sesuatu yang bisa menimbulkan amarah dan pelecehan perasaan dari anggota paroki/jemaatnya, sehingga sebuah penguburan katolik /gerejani dapat menjadi sebuah skandal yang tak terhindarkan. Kalaupun paroki setempat mengijinkan sebuah penguburan katolik/gerejani bagi orang yang meninggal dengan cara bunuh diri, itu dilakukan atas dasar pelayanan cinta manusiawi, cinta persaudaraan. Dalam kasus seperti ini para uskup dan pastor paroki sebagai penanggung jawab kehidupan paroki – dalam tahapan tertentu – memiliki hak untuk memutuskan.

Latarbelakang dari penetapan aturan ini ialah pemahaman Gereja tentang bunuh diri (suizid) itu sendiri. Menghabiskan nyawa sendiri secara sadar dan bebas, juga kalau ini dilatarbelakangi oleh sebuah motif yang argumentatip, tidak dapat dibenarkan secara moral. Pembunuhan diri secara tahu dan mau, dimana seseorang secara sadar mendokumentasi dan menonjolkan otonomi pribadinya, pada hakekatnya merupakan sebuah penolakan terhadap jawaban YA dari Allah terhadap manusia. Ia juga merupakan sebuah negasi terhadap cinta bagi dirinya sendiri, terhadap keinginan alamiah akan kehidupan dan terhadap kewajiban keadilan dan cintanya berhadapan dengan sesama dan kehidupan bersama.

Iman kristiani memandang pemujaan terhadap bunuh diri sebagai sesuatu yang bertentangan dengan kehidupan yang didasarkan atas iman. Iman kami mengajarkan untuk percaya, bahwa Allah sendirilah yang akan mengambil kehidupan itu dalam segala situasi, baik karena kesalahan dan dosa pribadi maupun karena kegagalan dalam hubungan dengan dunia hidup yang mengitarinya.

Diskusi filosofis tentang kebebasan dan tentang keabsahan moral dalam hubungan dengan keputusan bebas dalam kasus bunuh diri terkondisi oleh kenyataan, bahwa keputusan bebas ini juga harus bisa mungkin secara konkrit. Usaha-usaha teologis untuk menjernihkan fenomen ini pada dasarnya tidak menutup kemungkinan-kemungkinan seperti itu. Karena itu, praktek-praktek pastoral di zaman dulu tidak mengijinkan orang yang mati dengan cara bunuh diri untuk dikuburkan secara katolik/gerejani. Dalam Kitab Hukum Kanonik Gereja Katolik yang baru, larangan ini tidak dicantumkan lagi, karena tidak dapat dibuktikan, apakah seorang yang melakukan bunuh diri sungguh-sungguh menolak dirinya dan menolak Allah; dan karena Gereja memang pada prinsipnya mengutuk tindakan bunuh diri itu sebagai dosa, dan bukan orangnya sebagai persona. Tambahan lagi, orang yang mati dengan cara demikian, belum tentu sungguh-sungguh pelaku bunuh diri.

Penjelasan seperti ini didasarkan atas hasil penelitian yang baru tentang suizid atau bunuh diri. Penelitian ini berhasil membuktikan secara empiris, bahwa bunuh diri atau suizid kadang merupakan suatu proses akhir dari sebuah perkembangan yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan yang sangat tertekan dan sekaligus merupakan ungkapan dari sebuah krisis hidup yang tak teratasi atau sebuah harga diri yang semakin tak berarti. Kebanyakan mereka yang melakukan suizid masuk dalam suatu situasi, dimana mereka tidak secara bebas melakukan apa yang diperbuatnya. Mereka justru masuk dalam sebuah situasi khusus, dimana mereka dipaksa oleh situasi dan kondisinya  untuk melakukan bunuh diri. Karena itu tidaklah bijaksana untuk membebankan seluruh tanggung jawab atas perbuatan ini ke atas pundak mereka yang melakukan suizid. (bdk. Katekismus Gereja Katolik, jilid 2: Hidup dari iman. Freiburg, 1995, hal. 282-284).

Pertanyaan ke-55: Bagaimana pendapat orang Yahudi tentang kelahiran Yesus? Kalau Yesus itu adalah anak yang lahir di luar pernikahan, mengapa Maria tidak dirajam dengan batu dan bersama anaknya diusir dari Bait Allah? Mengapa kemudian Yesus sebagai orang dewasa sangat dihargai di mata orang farisi, malah mengajar dan berbicara kepada ribuan orang dan dipanggil Rabbi/guru? Apakah Ia menyembunyikan identitas diriNya yang sebenarnya? Apakah manusia tidak mengenalNya? Bagaimana pertanyaan ini bisa dijawab dan dijelaskan berdasarkan ajaran Injil atau Perjanjian  Baru? (DE)

Jawaban: Tentang Yesus dari Nasaret terdapat begitu banyak gambaran yang bervariasi yang tak ada sangkut paut satu dengan yang lain, baik itu berdasarkan sumber-sumber rabinik maupun berdasarkan pandangan dan gambaran Yahudi pada masa-masa sesudahnya (juga saat ini). Suatu penjelasan singkat bisa dibaca dalam artikel: Jesus Christus 1. Jüdisch, dalam: Lexikon religiöser Grundbegriffe: Judentum, Christentum, Islam, disunting oleh Adel Th. Khoury (Graz, Wien, Köln: Styria, 1987), kolom 528-531. Pandangan-pandangan yang tendensius dalam sumber-sumber rabinik menekankan, bahwa Yesus adalah anak haram dari seorang pelacur (Risalah Kallah 51a, dan empat puluh hari sebelum peristiwa penyalibanNya ada seorang yang membeberkan alasan penghukuman diriNya untuk umum, dengan harapan, bahwa lewat kesaksiannya ia akan dibebaskan: „Tetapi orang tidak mendapatkan alasan cukup untuk pembebasannya“ (b Sanhedrin 43a). Salah satu dari sekian banyak pandangan yang cukup obyektip tentang kehidupan dan ajaran Yesus dari perspektif Yahudi bisa dilihat dalam karya Pinchas Lapide berjudul Der Rabbi von Nazareth (Rabbi/Guru dari Nasaret), 1974.

Pertanyaan ke-56: Apakah berdasarkan ajaran agama kita, mereka yang sudah menikah akan tetap hidup bersama kelak di surga ataukah kebersamaan mereka juga berakhir dengan kematian? Apakah mereka juga tetap hidup bersama setelah kematian ini memisahkan? Apakah ini benar, bahwa setelah kematian kita memperoleh sebuah tubuh yang baru sama sekali? (DE)

Jawaban: Apa yang akan terjadi denganku, jika aku meninggal? Kemanusiaan sejagat kurang lebih ditempa oleh kerinduan akan suatu kehidupan baru setelah kematian. Para filsuf berpendapat, bahwa jiwa manusia itu tidak akan mati, karena ia adalah suatu yang rohaniah. Juga pikiran dan pendapat ini berada pada tatanan logika yang dapat dimengerti, bahwa kerinduan kita akan kepenuhan dan keadilan akan bermuara pada ketiadaan, kalau dengan kematian segalanya berlalu, hilang ditelan kefanaan.

Dari Kitab Suci kita mengetahui dan mengalami, bagaimana dalam peredaran zaman, jawaban terhadap pertanyaan dasar keberadaan kita ini akhirnya terkristalisasi. Yang menarik, ialah bahwa jawaban ini tidak bermula dari manusia dan kerinduannya, melainkan dari Allah sendiri. Seorang yang beriman tidak akan pernah puas dengan gagasan asali, bahwa setelah kematian ia akan masuk dalam bayang-bayang eksistensi tanpa harapan.
Tokh Allah adalah sumber kehiduan yang senantiasa setia. Ia tidak akan pernah membiarkan kita binasa. Dari sinilah bertumbuh dan berkembang keyakinan iman: Juga kematian tidak dapat memisahkan kita dari cintaNya. Kita diterima dan dicintai olehNya hingga keabadian. Gagasan ini dijernihkan lagi dalam Perjanjian Baru: Kristus adalah hidup kita. Kita tidak akan mati, karena kita hidup dariNya dan akan menuju kepadaNya pula.

Kematian kita berarti: Menghadap Allah yang adalah kebenaran kekal. Pada saat itu segala topeng kita dibuka. Dusta dan penipuan terhadap diri sendiri pun berakhir. Tak dinyana, mata kita pun terbuka dan melihat secara transparan, apakah kita sungguh berada di dekat Allah atau dituntun menuju kegelapan yang jauh dari Allah. Maka kematian itu sendiri adalah pengadilan atas kehidupan kita. Camkanlah: Tubuh kita yang fana akan binasa oleh kematian. Jiwa kita, keakuan kita, titik tengah persona/pribadi kita tidak akan binasa. Gereja mengajarkan, bahwa semua orang kudus akan langsung menuju ke surga setelah kematian. Siapa yang masih menyandang cacat/celah dan dosa dalam dirinya hanya akan memandang Allah setelah cacat/celah dan dosa-dosanya dimurnikan atau dihapuskan (Api pencucian). Karena tubuh kita bukanlah „suatu yang sekunder“ yang melekat pada pribadi kita, melainkan merupakan suatu yang inherent dan tak terpisahkan dari pribadi kita, maka kita pun mengharapkan sebuah kebangkitan badan. Kristus tokh telah menebus kita dalam keutuhan persona kita. Karena itu pada akhir zaman kita pun mengharapkan sebuah transfigurasi badan dan jiwa sebagaimana yang sudah dikatakan dan diajarkan oleh Gereja dalam hubungan dengan Maria, Bunda Allah.

Tidak terlalu penting untuk memperdebatkan tentang apa dan bagaimana kebangkitan yang dimaksudkan, terutama tentang apakah tubuh kita setelah kebangkitan tetap terbentuk dari unsur-unsur sebagaimana halnya dengan tubuh kita selama masih hidup di bumi? Kebangkitan yang dimaksudkan berhubungan erat dengan sesuatu yang mengatasi segala pikiran kita. Tokh pada akhirnya Allah sendirilah yang akan menggenapkan semuanya ini. Segala kemungkinan-kemungkinan yang tersembunyi dalam diri kita akan dituntun olehNya kepada kematangan hingga kita sampai pada janjiNya, yaitu bersatu erat dengan Allah dan dengan semua yang percaya! Dapat dilihat, bahwa harapan akan kehidupan abadi bukanlah sebuah hiburan murahan. Harapan ini justru mengingatkan kita akan status dan martabat kita. Siapa yang sangat menghargai manusia, Ia pun pasti perduli terhadap martabatnya di dunia dan memperjuangkan kebebasan dan hak-haknya. Bersama dengan kita manusia, segala ciptaan yang lain pun akan meunju kepada kemuliaan Allah. Ini adalah sebuah gagasan yang brilian dan menakjubkan. Tetapi gagasan seperti ini pun dapat membuat orang bertanya: Segala ciptaan – juga termasuk segala yang jahat yang sudah merasuk ke dalamnya? Bukankah segala ambiguitas dalam dunia harus terlebih dahulu disingkirkan, sehingga pada akhirnya yang berkuasa hanyalah kerajaan Allah tanpa bayang-bayang kejahatan dan dosa? Justru inilah yang dimaksudkan oleh Gereja ketika ia mengajarkan tentang pengadilah terakhir (lihat: Winfried Henze, Glauben ist schön. Ein katholischer Familien-Katechismus [Berimanitu indah. Sebuah Katekismus Keluarga Katolik].
Harsum 2001, hal. 173 dst. ISBN 3-7698-0887-8).

 

[Home] [KITAB SUCI] [KE-ALLAHAN YESUS] [SALIB, DOSA DAN PENEBUSAN] [MUHAMMAD SANG NABI?] [ALLAH TRITUNGGAL] [GEREJA] [EKARISTI KUDUS] [DOA] [HAL ROHANI DAN JASMANI] [SELIBAT] [KEANEKARAGAMAN AGAMAN] [JANTUNG KEKRISTENAN] [REGISTER CATATAN KAKI] [INDEKS TOPIK PERTANYAAN] [INDEKS PERTANYAAN] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 1] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 2] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 3] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 4] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 5] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 6] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 7] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 8] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 9] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 10] [IMPRESSUM]