deutsche fahne

Deutsch

us-eng-flag

English

Türkce

Frankreich02

Français

Italia02

Italiano

Spanien02

Español

russland3
Banner

Pertanyaan dan Jawaban 7

Pertanyaan ke-57: Yoh 3,13 menyatakan, bahwa hanya Yesus yang naik ke surga.  Sementara itu Kitab kedua Raja-Raja (2,11) memberitakan juga tentang nabi Elia yang naik surga. 2 Kor 12, 2-4 berceritra tentang seseorang di Firdaus yang tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari surga. Dan dalam Kitab Ibr 11,5 diberitakan, bahwa karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian. Injil berbicara tentang satu-satunya pribadi, yaitu Yesus yang naik ke surga. Tetapi dalam Kitab Suci yang sama masih disebutkan tiga nama lain yang juga naik ke surga. Bagaimana anda bisa menjelaskannya? (TR)

Jawaban: Dalam agama-agama arkhais, langit/surga dilihat sebagai tempat tinggal dewa-dewi atau kekuatan supranatural. Langit/surga juga adalah metafora bagi Yang tak terselami dan Yang tak terbatas, symbol dari Transendensi. Dalam rana pemetaan teologi biblis hendaknya dibuat suatu diferensiasi makna/arti: Gambaran kosmologis dalam Perjanjian Lama tentang langit/surga dilatarbelakangi oleh pandangan kuno yang melihatnya sebagai bagian dari universum. Ia adalah cakrawala, sebuah belahan bumi raksasa yang membentang di atas permukaan bumi. Secara teologis, langit/surga adalah tempat tinggal Allah. Cakrawala adalah singgahsanaNya. Dari sini Ia mengatur seluruh nasib manusia. Tetapi Perjanjian Lama sendiri kemudian mendemitologisasi pengertian ini: Langit dan bumi tidak dapat memahami Allah; takhta di surga adalah transendensiNya, tak terjamah dan tak terjangkau (Yer 23,23dst.) Pada saat yang sama, Ia juga adalah Allah yang dekat dan selalu berada bersama manusia, Allah yang kemuliaanNya memenuhi bumi (Yes 6,3): Ia mendengar dan mengabulkan permohonan umatNya, bahkan permohonan setiap pribadi. Juga kalau langit/surga dilihat sebagai tempat tinggal Allah, ia juga sering mempresentasikan Allah itu sendiri secara sinonim. Nama Allah sering diganti dengan Langit/surga. „Dari Langit“ identis dengan „dari Allah“ (bdk. Dan 4,23; Yoh 3,27); „di dalam Surga“ berarti „dalam Allah“ (Mat 16,19; 18,18; Luk 19,38).

Baru dalam tulisan-tulisan Kitab Perjanjian Lama sesudahnya terdapat pemahaman yang lebih antropologis dan eskatologis tentang langit/surga, dimana dikatakan, bahwa orang-orang yang jujur dan adil akan tinggal bersama Allah („dalam Surga“) selama-lamanya. Dari pemahaman inilah gambar tentang „kenaikan ke surga“ bagi seorang yang adil dan jujur dapat dimegnerti. Kenaikan ke surga berarti meniti jalan pemberian Allah menuju kedekatan dan persatuan denganNya. Hal mendasar yang dibawa oleh Perjanjian Baru ialah perpespektif kristologis yang khas: Sesuai dengan hakikatNya Kristus turun dari Surga (Yoh 3,13; 6,38.41 dst. 50dst) dan setelah kematian dan kiebangkitanNya ia kembali lagi ke sana dan duduk di sebelah kanan Allah (Mk 16,19; Kis 3,21; Ef 1,20; 2,6; Ibr 8,1; 1 Petr 3,22). Kembalinya Kristus ke Surga digambarkan lewat kenaikan ke Surga. Dengan itu Ia pergi ke tempat tinggal Allah (Ibr 9,11dst. 24) dan pada akhir zaman Ia akan kembali lagi (Ibr 9,28). Dalam konteks ini Paulus menggambarkan sikap hidup kristiani sebagai tatapan penuh harap akan kedatangan kembali Kristus dari Surga (1 Tes 1,10; 4,16; 2 Tes 1,7; Filipi 3,20). Pada saat itu akan ada langit dan bumi yang baru (2 Petr 3,12).

Singkatnya dapat dikatakan: Dalam pandangan kristiani, langit/surga adalah sebuah gambaran teologis tentang keadaan keselamatan yang definitip dari manusia yang bersatu selamanya dengan Allah dalam damai berkat kematian dan kebangkitan Kristus. Di sini, langit/surga itu bukanlah sebuah tempat yang berada di luar waktu, bukanlah suatu yang melampaui ruang, melainkan sebuah kenyataan personal: Sebuah persatuan abadi antara Allah dan manusia, suatu kebersamaan timbal balik antara Allah dan manusia yang dimungkinkan lewat Kristus (Mk 1,10; Mat 3,16; Luk 3,21) (bdk. L. Hagemann, art. Himmel 2. Christlich, dalam: Adel Th. Lhoury (Ed.) Lexikon religiöser Grundbegriffe. Judentum. Christentum. Islam.
Graz: Styria, 1987. Kolom 486-488.)

Pertanyaan ke-58: Dalam Injil Mat 16,18 Yesus menyebut Petrus batu karang, dan di atas batu karang ini Ia ingin mendirikan GerejaNya. Lebih lanjut Ia malah mengatakan, bahwa Ia memberikan kepadanya kunci kerajaan surga. Tetapi selang beberapa ayat kemudian, Ia mengatakan kepada Petrus: „Enyahlah engkau iblis. Engkau menjadi batu sandungan bagiKu“. Mana yang sekarang mesti dipercaya? Apakah Petrus ini Iblis atau pemegang kunci kerajaan surga? (TR)

Jawaban: Mat 16,18: „Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya“. Alam maut dalam terjemahan harafiah berarti: Gerbang maut/neraka. Lewat personifikasi „gerbang“ terbersitlah pemikiran tentang kuasa kejahatan – kuasa yang membawa manusia kepada kematian dosa dan akhirnya mengantarnya pula kepada kematian kekal. Yang menjadi tugas Gereja adalah melindungi kaum pilihan dari kuasa kematian, baik kematian yang sementara maupun kematian kekal, supaya kelak mereka dapat masuk ke dalam kerajaan surga (bdk. Kol 1,13; 1 Kor 15,26; Wahyu 6,8; 20,13). Sebagaimana dengan kota kematian, kota Allah juga memiliki gerbang. Gerbang ini hanya membuka pintunya bagi mereka yang layak untuk memasukinya (bdk. Mat 23,13). Kepada Petrus diserahkan kunci gerbang ini. Yang menjadi tugasnya adalah membukakan ataupun menutup gerbang surga dengan perantaraan Gereja.

Mat 16,23: „....“ Dalam Mat 16,21 untuk pertama kalinya Yesus memaklumkan penderitaanNya dan menjelaskan, bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem  dan akan banyak menderita; ya, Ia akan dibunuh, tetapi pada hari ketiga akan bangkit kembali. Di sini Yesus menghubungkan tugas dan peran  istimewa seorang Mesias (bdk. Ha 3,13; 1 Sam 2,10; Mz 2) dengan peran dan tugas penuh derita seorang Hamba Allah yang menderita (bdk. Yes 42, 1-9; 49, 1-6; 50, 4-9; 52, 13-52, 12). Yesus mempersiapkan para muridNya untuk menghadapi krisis yang akan datang berhubungan dengan kematian dan kebangkitanNya. Engkau akan menjatuhkanKu. Secara harafiah: „Engkau adalah batu sandungan (kemarahan) bagiKu“. Kenyataan, bahwa Petrus ingin merintangi jalan penderitaan dan kematian yang keji dari Yesus, bahwa ia tidak mengerti jalan Yesus, jalan yang harus dilalui oleh sang Mesias, ini menunjukkan, bahwa ia adalah „biang penjatuh“ (arti mendasar kata bahasa Yunani skandalon) atau secara tak sadar menjadi perpanjangan tangan Setan. Dalam Mat 4, 1-10 penginjil sudah memberitakan tentang usaha setan yang ingin mencobai Yesus di padang gurun dengan mengalihkanNya dari jalan penderitaan dan kerendahan hati seorang Hamba Allah. Petrus, sebagaimana juga murid-muridNya yang lain, tetap menaruh harapan, bahwa hingga akhir masa hidupNya, Yesus akan menunjukkan kekuasaanNya dan mengatasi serta mengalahkan musuh-musuh duniawiNya. Lewat pencurahan Roh Kudus Petrus dan murid-murid yang lain akhirnya memperoleh rahmat pengertian tentang arti kematian tragis Yesus dan rahmat pengertian yang benar tentang salib dan kebangkitan. Semua yang mengikuti Yesus akan berjalan pada jalan bebatuan penuh liku seperti Petrus, karena jalan Mesias adalah sebuah jalan pelayanan dan jalan penderitaan. Kenyataan ini secara khusus akan menimpa para suksesor santu Petrus dalam tugas kegembalaan Gereja.

Pertanyaan ke-59: Ceritra tentang Yudas Iskariot digambarkan dalam dua versi yang berbeda. Berdasarkan Mat 27,3-7, Yudas membunuh diri dan imam-imam kepala membeli Tanah Tukang Periuk. Sedangkan berdasarkan Kis 1,16-19 Yudaslah yang membelih sebidang tanah dan mati di sana, bukan lewat bunuh diri. Ceritra mana yang benar? (TR)

Jawaban: Dalam Perjanjian baru terdapat dua versi tentang kematian Yudas, Mat 27,3-10 dan Kis 1,18-19, yang berbeda satu dari yang lainnya. Berdasarkan Kisah Para Rasul Yudas bukannya mati dengan cara menggantung diri seperti Ahitofel dalam 2 Sam 17,23, melainkan lewat peristiwa kejatuhan (?) sebagaimana para pendosa dalam Kitab Kebijaksamaan 4,19 dan lewat mencruatnya isi perut/usus sebagaimana kebanyakan para penjahat dalam legenda dan ceritra-ceritra rakyat. Pernyataan „Blutacker“ (darah bumi) tidak lagi dihubungkan dengan darah Yesus, melainkan dengan darah Yudas. Dengan adanya penyimpangan dalam tradisi ceritra rakyat dapat diperkirakan, bahwa yang sebenarnya terjadi pada diri Yudas, sang Penyangkal Yesus adalah sebuah kematian tiba-tiba yang tragis. Kejadian ini kemudian dihubungkan dengan Hakeldamach, sebuah tempat yang terkenal dengan konotasi negatipnya di Jerusalem. Tetapi ini lebih merupakan sesuatu hal sekunder.

Pertanyaan ke-60: Kalau agama kristen seperti yang sekarang diyakini sebagai agama yang benar, mengapa terdapat empat Injil yang berbeda? (TR)

Jawaban: Perjanjian Lama adalah kitab/buku pertama Gereja. Tidak lama sesudahnya muncul kebutuhan akan kitab-kitab lain yang menceritrakan tentang „apa yang telah terjadi di antara kita“. Maka muncullah apa yang kita kenal sampai sekarang: keempat Injil.

Sesungguhnya kita mengenal kehidupan Yesus bukan hanya dari satu tulisan, melainkan dari empat tulisan paralel – suatu yang langkah dalam sejarah kesusastraan. Setiap tulisan/kitab berisi kabar gembira dalam seluruh kepenuhannya (das eu-angelion).
Inilah awal mula atau asal dari nama Injil. Nama Injil itu kemudian ditetapkan berdasarkan nama pengarangnya: Mateus, seorang pemungut cukai yang kemudian menjadi rasul – Markus, seorang pengikut muda dari Yerusalem; di rumah ibunya lah jemaat-jemaat berkumpul (Kis 12, 12) [mungkin dalam sebuah ruangan di rumah ini juga diadakan malam perjamuan terakhir] – Lukas, seorang rekan seperjuangan Paulus, “seorang dokter yang terkasih” (Kol 4, 14) – dan tidak lupa pula “murid yang dikasihi Yesus”, Yohanes yang mencapai usia lanjut.

Berdasarkan sebuah tradisi awal, Mateus lah yang pertama-tama menulis Injilnya. Ini terjadi sekitar tahun 50 di Palestina atau Syria. Tetapi tulisan ini baru mencapai bentuknya seperti yang sekarang di tahun-tahun sesudahnya. Dengan itu yang menjadi Injil tertua adalah Injil Markus, yang ditulis sekitar tahun 63, sebuah tulisan seperti yang kita kenal sampai sekarang. Bentuk akhir Injil Mateus dan Injil Lukas yang ditulis di Yunani berasal dari tahun 70 sampai 80. Injil Yohanes ditulis sekitar tahun 100 di Asia kecil. Ketiga Injil pertama (yang dinamakan Injil sinoptik) memiliki kemiripan satu sama lain. Ini menjadi bukti, bahwa bagaimanapun juga mereka saling terkait satu dengan yang lain.

Keempat Injil memberikan kesaksian tentang keprihatinan Gereja terhadap kelangsungan kabar gembira, tetapi juga terutama pada bagaimana mewartakan kabar gembira ini dalam cara berpikir masyarakat yang terikat pada sebuah kebudayaan. Setiap Injil menaruh perhatian terutama kepada apa yang dianggap paling penting oleh sebuah persekutuan tertentu. Mateus misalnya, yang menulis Injilnya untuk orang yahudi, menghubungkan lima kotbah/pembicaraan utama Yesus dengan  lima Kitab Nabi Musa, sebagai tanda bahwa Yesus adalah Pemberi Hukum Baru. Interes Markus lebih tertuju pada pewahyuan diri Yesus sebagai Mesias dan Putra Allah. Lukas menulis Injilnya untuk kaum cendekiawan Yunani. Ia mempresentasikan sebuah kronologi sejarah (karena itu ia menulis juga Kisah Para Rasul) dan memberikan penekanan terutama pada  kaum miskin dan papa, pada kaum pendosa dan kaum wanita yang terlupakan. Ia juga banyak berbicara tentang Roh Kudus dan doa.

Kadang-kadang orang berusaha untuk menentukan, di mana kabar gembira itu pertama-tama dikotbahkan sebelum ia diabadikan dalam tulisan berdasarkan penggunaan kata-kata. Karena walaupun orang selalu berusaha untuk memelihara dan menyimpan kata-kata Yesus dalam bentuknya yang asli, walaupun kerja otak itu dipermudah dengan cara bicara Yesus yang ritmis dan penuh gambar-gambar simbolis, tokh tak dapat dipungkiri, bahwa kata-kata Yesus ini terus dituruntemurunkan dari generasi ke generasi. Konsekwensinya, bahwa dalam tradisi turun temurun ini, ada banyak hal yang diubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Kita lihat misalnya, bagaimana Mateus menggantikan kata „kerajaan Allah“ dengan „kerajaan surga“. Paling transparan kalau kita lihat kenyataan ini dalam Injil Yohanes. Dalam banyak pernyataan-pernyataan Yesus bisa dilihat ciri-ciri khas bahasa atau penggunaan kata-kata dalam milieu Asia kecil, dimana Yohanes berkotbah. Sebuah contoh: Ia hampir tidak pernah menggunakan kata „kerajaan Allah“. Kata ini tidak banyak mempunyai arti untuk orang-orang di sana. Kata-kata yang banyak digunakan adalah „terang“ dan „hidup“. Demikianlah, dalam banyak kata-kata Yesus yang dipresentasikan oleh Yohanes, terdapat ungkapan „terang“ dan „hidup“. Bagi Yohanes, kata-kata ini mempresentasikan secara lebih tepat, apa yang dimaksudkan dengan „kerajaan Allah“.

Itu tidak berarti, bahwa orang hanya berfantasi dan berkata tentang Kristus berdasarkan selera pribadinya. Yang paling penting bagi para penginjil bukanlah memberikan sebuah laporan yang akurat, bulan demi bulan. Tujuan mereka adalah menjadikan Injil mereka sebagai Kabar Gembira. Yang paling menentukan dan ingin dikatakan, ialah bahwa kejadian memang sungguh-sungguh terjadi, dan kata-kata memang diucapkan. Seandainya sesuatu tidak terjadi, pasti tidak akan ada juga Kabar Gembira.

Dalam Injil keempat – terutama yang berhubungan dengan peristiwa/kejadian – sepertinya dijelaskan secara mendetail dan tepat. Inilah yang menjadi dasar bagi argumentasi, bahwa kesaksian yang kemudian diabadikan dalam tulisan ini, sungguh berasal dari rasul Yohanes.

Bukan semata-mata, bahwa apa yang terjadi itulah yang paling penting, melainkan juga apa yang sungguh memberi arti: peristiwa munculnya Yesus di depan umum. Ilmu-ilmu Kitab Suci kontemporer menemukan, bagaimana keprihatinan inilah yang menjadi titik berat para penginijil. Dalam suatu masa, dimana para saksi mata pelan-pelan hilang dari peredaran hidup, dimana gagasan-gagasan tambahan dan hasil permenungan sendiri mulai pelan-pelan menyusup masuk dalam tradisi lisan, Gereja justru berusaha untuk menetapkan apa yang menjadi tradisi yang sebenarnya: Siapa itu Yesus yang sesungguhnya.
Inilah awal mula Injil dan kitab-kitab lain dalam Perjanjian Baru.

Usaha jemaat/persekutuan untuk memelihara dan melindungi gambaran tentang Yesus yang benar serta iman yang sesungguhnya dituntun oleh Roh Kudus yang hidup dalam Gereja. Roh Kudus ini bukannya bekerja di luar kemampuan menulis manusia, melainkan bekerja didalamnya. Tulisan-tulisan itu ada berkat Roh Kudus, tetapi Ia bekerja tanpa mematikan kreativitas serta talenta manusia. Betapapun berbedanya Injil- Injil menulis tentang seorang pribadi yang sama, dapat dilihat, betapa mata mereka tertuju pada sebuah asal-muasal yang sama seperti yang dapat dilihat dalam keempat Injil. Mereka memiliki satu sumber yang sama: Pribadi Yesus dari Nasaret.

Keempat Injil bukanlah satu-satunya sumber yang berbicara tentang Yesus. Dalam Gereja perdana, disaming menulis Injilnya,  Lukas juga menulis Kisah para rasul sebagai kelanjutan dari apa yang sudah ditulis dalam Injil. Juga ada banyak surat yang ditulis. Surat-surat ini berasal dari tulisan tangan Paulus (maupun „orang-orangnya Paulus) [empatbelas surat], dari Yakobus muda (satu surat), dari Petrus (dua surat), dari Yohanes (tiga surat) dari Yudas Tadeus (satu surat). Di samping itu masih terdapat sebuah tulisan profetis yang memakai nama Yohanes: Kitab Wahyu atau Apokalipse. (Bdk. Glaubensverkündigung für Erwachsene.
Deutsche Ausgabe des Holländischen Katechismus. Nijmwegen-Utrecht, 1968, Hal. 232-235).

Pertanyaan ke-61: Saya sementara membuat sebuah studi tentang keberadaan dan latarbelakang lonceng Gereja dan bunyi lonceng Gereja untuk memanggil kaum beriman untuk berdoa. Kapan lonceng Gereja itu untuk pertama kalinya digunakan? Mengapa Gereja tidak menggunakan suara manusia tetapi memanfaatkan bunyi lonceng? (TR)

Jawaban: Informasi tentang lonceng sebagai peralatan gerejani dan petunjuk-petunjuk serta daftar kepustakaan tentangnnya dapat disimak dalam ensiklopedi dan leksikon-leksikon yang bermutu, misalnya artikel tentang „Bells“, dalam The Oxford Dictionary of the Christian Church. Oxford: Oxford University Press, 1974, Hal. 153.

Di sini saya hanya ingin memaparkan beberapa point-point penting: Lonceng (bahasa Irlandia clog
; bahasa jerman kuno clochon=mengetuk) adalah sebuah instrumen/peralatan terkenal di zaman China kuno. Sebagai instrumen/peralatan gerejani ia baru dilansir sekitar tahun 400 oleh Paulinus. Di Perancis lonceng sudah mulai digunakan sekitar tahun 500, sementara di Irlandia ia mulai dikenal sejak abad ke-7. Bunyi lonceng memanggil jemaat untuk mengadakan kebaktian di Gereja. Dulu, di samping untuk memanggil jemaat, lonceng dibunyikan tiga kali sehari: pagi, siang dan malam untuk mengingatkan orang-orang beriman akan doa „Malaekat Tuhan“.

Dengan dikembangkannya lonceng Gereja dari segi ukurannya yang semakin bertambah besar, banyak lonceng Gereja yang mulai digantung di menara Gereja. Ada menara Gereja yang dibangun secara khusus untuk itu yang terpisah dari gedung Gereja (Campanile), ada juga yang langsung didirikan sebagai sebuah bagian integral dari gedung Gereja. Pengecoran logam yang pada awalnya dikerjakan oleh para rahib, mulai abad ke-13 berpindah tangan ke perkumpulan pengecor logam. Rahasia pengecoran logam kemudian diwariskan dalam dan lewat keluarga-keluarga.

Upacara pemberkatan lonceng Gereja biasanya dilakukan oleh Uskup atau seorang imam yang dimandatkan. Sambil membacakan doa-doa, lonceng Gereja disirami atau dibersihkan dengan air berkat (karena itu disebut juga
pembabtisan/pemberkatan lonceng Gereja), “diurapi” dengan minyak yang sudah diberkati sambil memberikan sebuah nama kepadanya, dan didupai dengan kemenyan sambil diberkati. Lonceng Gereja bisa menjadi hak milik Gereja ataupun paroki/jemaat, tetapi bisa juga menjadi hak milik privat/perorangan. Lonceng yang sudah diberkati hanya bisa digunakan untuk kepentingan-kepentingan Gereja/spiritual. Untuk kepentingan-kepentingan lain (duniawi) misalnya, membunyikan lonceng Gereja pada pesta-pesta rakyat ataupun keadaan bahaya seperti angin ribut, hanya dibawah izinan yang berwajib dan sesuai dengan kebiasaan-kebiasan yang berlaku.

Pertanyaan ke-62: Apa yang harus dilakukan secara berurutan kalau seseorang meninggal? (TR)

Jawaban: Gereja tidak memberikan suatu aturan yang mengikat dan mendetail tentang bagaimana dan apa yang harus dilakukan terhadap orang yang meninggal dan jasadnya. Praktek-praktek kristiani di belahan-belahan dunia yang berbeda mengakui juga banyak elemen budaya yang baik serta praktek-praktek ritual yang sudah berlaku. Walaupun demikian, Gereja juga secara resmi dan mendetail – misalnya dalam ajaran katekismusnya – menetapkan pertanyaan-pertanyaan etis  yang berhubungan dengan kematian kristen. Pusat perhatiannya tertuju pada situasi dan kondisi serta persyaratan-persyaratan moderen. Tujuan yang berada di baliknya, ialah mencari cara-cara yang memadai serta ritus-ritus yang tepat untuk membantu kelancaran acara seputar kematian kristiani (bdk. Buku panduan resmi tentang Tata Ibadah Liturgi, bacaan-bacaan dari Kitab Suci serta doa-doa yang disesuaikan dengan situasi-situasi pastoral). Gereja juga menggariskan ritus-ritus penguburan kristiani.

Di bawah ini dipaparkan beberapa point penting menyangkut tatacara serta ritus-ritus kematian  kristiani (diambil dari: Katholischer Erwachsenen Katechismus. 2. Band. Leben aus dem Glauben
. Freiburg, 1995, hal. 302-316 dan dari Kleines Rituale (Upacara Ritus-Ritus sederhana) untuk keuskupan-keuskupan di daerah berbahasa Jerman, Freiburg 1980).

    Martabat orang yang meninggal dan penghormatan terhadap jenasa almarhum

Penyakit dan kematian bukan hanya mengingatkan kita untuk selalu sadar akan kematian dalam hidup dan untuk masuk dalam misteri kematian kristiani, melainkan mengkonfrontasikan kita juga dengan permasalahan-permasalahan etika. Semua orang kristen bertanggung jawab atas kelangsungan hidup, atas peningkatan kesehatan, atas usaha memberantas penyakit serta penyembuhannya, dan tidak kalah pentingnya atas pendampingan dan bantuan dalam proses kematian. Segala usaha medis dan perawatan hendaknya terarah pada tujuan ini. Prinsip utama yang menyertainya adalah kesejahtraan pasien dalam arti luas. Dalam agama kristen, pelayanan terhadap orang sakit dan pendampingan seseorang dalam proses kematian sudah sejak dulu merupakan „karya amal bhakti“. Prinsip umum: Kehidupan manusia itu tidak boleh diabaikan dan setiap orang berhak atas kematian yang layak. Konsekwensi yang menyertainya adalah: Dalam hal menyangkut pendampingan terhadap seseorang dalam proses akhir kematiannya, orang kristen mengemban tanggungjawab dan kewajiban untuk membantunya dan tidak boleh membunuh kehidupan secara sengaja. Pendampingan terhadap orang yang sekarat bertujuan untuk membantunya dalam menerima kematiannya dan sekaligus mengamini kematiannya sendiri. Di sini kita bisa berbicara tentang bantuan kehidupan bagi orang yang sekarat. Memang manusia tidak berhak untuk membunuh kehidupan, tetapi manusia juga berhak atas suatu kematian yang bermartabat. Hak manusia ini penting, terutama kalau ia dikonfrontasikan dengan terapi-terapi intensip yang berlebihan dan tak masuk akal.

Kematian dan penguburan sudah menjadi bagian integral dalam kehidupan. Mereka adalah akhir dari sebuah ziarah duniawi. Dari iman akan kebangkitan orang-orang mati, berkembanglah peringatan akan orang-orang mati serta penghormatan terhadap jenasah dalam Gereja Katolik sejak dahulu kala. Sikap kesalehan kristiani ini menjadi alasan, mengapa penguburan gerejani sudah menjadi suatu kebiasaan yang punya tempat sentral dalam masyarakat. Karena dulu peristiwa kematian itu sering terjadi di rumah, maka orang yang meninggal biasanya disemayamkan di rumah sampai diadakannya perayaan pemberkatan dan pemakaman. Dengan itu keluarga yang ditinggalkan diberi kesempatan untuk ada bersama almarhum sembari memberi salam terakhir kepadanya dan mengolah duka yang diderita karena kepergian orang kekasihnya.

Sekarang peristiwa kematian itu jarang terjadi lagi di rumah, melainkan lebih di rumah-rumah sakit dan panti jompo, tanpa pantauan keluarga dan kenalan. Dalam sebuah masyarakat yang tidak lagi mementingkan agama, kematian itu sepertinya sudah menjadi anonim.

Sampai tahun 1964 kremasi atau pembakaran mayat dilarang menurut iman katolik. Larangan ini tidak merujuk pada pertimbangan-pertimbangan dogmatis, melainkan lebih pada suatu usaha untuk memberikan rekasi balik terhadap kelompok-kelompok tertentu yang menolak iman akan kebangkitan dengan mendemonstrasikan pembakaran mayat. Sekarang kremasi atau pembakaran mayat diizinkan menurut iman katolik, asalkan ini dilakukan bukan dengan alasan penolakan terhadap iman akan kebangkitan.

Orang-orang kristen memelihara dan menghiasi kubur orang-orang yang sudah meninggal sebagai tanda cinta dan kenangan. Dengan upacara pemberkatan kubur pada pesta Semua Orang Kudus dan Jiwa-jiwa di Api Pencucian mereka menyatakan secara khusus solidaritas dan persatuannya dengan orang-orang yang sudah meninggal. Kematian dan kesedihan dilihat dalam terang kabar gembira Yesus atas kebangkitanNya. Jemaat-jemaat kristiani mengungkapkan iman kepercayaannya akan harapan kebangkitan secara bersama-sama.

    Doa-doa kematian

Cinta sesamalah yang mendorong orang kristen untuk mengungkapkan kedekatannya dengan sama saudaranya yang sudah meninggal, bahwa bersamanya dan baginya mereka akan meminta belaskasihan Allah dan keyakinan yang teguh akan Kristus. Ritus-ritus gerejani merumuskan doa-doa, litani para kudus, doa-doa singkat, mazmur dan bacaan-bacaan Kitab Suci yang bertujuan untuk menguatkan seseorang dalam menjalani proses kematiannya. Doa-doa ini bertujuan untuk membantu mereka yang berada dalam sakratul maut untuk mengatasi rasa takut terhadap kematian yang selalu ada pada setiap manusia sebagai konsekwensi hakikatnya yang manusiawi. Orang yang akan meninggal diharapkan bisa dibantu dengan doa-doa dan bacaan ini, sehingga ia bisa mempersatukan rasa takutnya terhadap kematian dengan Kristus yang menderita dan wafat dalam harapan akan kehidupan surgawi dan kebangkitan dalam nama Dia yang sudah menghancurkan kematian kita dengan kematianNya.

Kaum beriman yang mendoakan saudaranya yang berada dalam sakratul maut diharapkan bisa menimba kekuatan dari doa-doa ini, ya menimba dan menyimak arti kebangkitan/paskah dari kematian kristiani. Baik juga, kalau arti ini diperjelas lagi lewat simbol-simbol tertentu, misalnya dengan memberikan tanda salib di dahi pada orang yang berada dalam sakratul maut. Ini mengingatkan kembali akan apa yang terjadi pada waktu pembaptisannya.

Sejauh memungkinkan, imam atau diakon hendaknya berusaha untuk bersama-sama dengan para anggota keluarga dan kenalan mendoakan orang yang hendak meninggal dengan mengucapkan doa-doa yang sudah dirumuskan. Komunitas doa ini menandakan, bahwa seorang kristen meninggal dalam sebuah kebersamaan. Kalaupun karena alasan-alasan pastoral seorang imam atau diakon tidak dapat hadir,  hendaknya mereka tidak segan-segan untuk memberikan kesempatan dan motivasi kepada kaum beriman untuk datang dan mendoakan sanak keluarga/saudaranya yang akan meninggal.

    Penjagaan mayat, doa di rumah duka dan penguburan

Sesuai dengan kebiasaan setempat, hari-hari antara kematian dan penguburan, dapat dibuat ibadah penjagaan mayat di rumah duka ataupun di Gereja. Upacara ini biasanya dipimpin oleh seorang awam.

Sesuai dengan kebiasaan setempat pula, bisa diadakan sebuah upacara perpisahan atau pemberkatan mayat, sebelum mayat dipindahkan dari rumah duka menuju rumah mayat. Upacara penguburan juga berbeda-beda dalam penyelenggaraannya. Yang lazim ialah upacara penguburan dengan dua stasi/perhentian. Stasi/perhentian pertama ialah ibadah di kapela orang mati atau kapela duka, dan stasi kedua ialah upacara penguburan di tempat peristirahatan yang terakhir. Ritus-ritus, bacaan-bacaan dari Kitab Suci serta doa-doa bisa dilihat dalam buku ritus.

Pertanyaan ke-63: Bagaimana hubungan antara Injil dan ilmu pengetahuan? Bagaimana Injil memandang ilmu pengetahuan? Apakah ia menuntun manusia kepada ilmu pengetahuan? (TR)

Jawaban: Jawaban singkat atas pertanyaan ini saya kutip dari Katekismus Gereja Katolik:

    “2293 Dalam penelitian dasar ilmiah dan dalam penyelidikan terapan, tampak dengan jelas sekali kekuasaan manusia atas ciptaan. Ilmu pengetahuan dan teknik merupakan sarana-sarana yang bernilai kalau mengabdi kepada manusia dan memajukan perkembangannya secara menyeluruh demi kebahagiaan semua orang. Tetapi mereka tidak mampu menentukan dari diri sendiri arti keberadaan dan kemajuan manusia. Ilmu pengetahuan dan teknik ditujukan kepada manusia, olehnya mereka diciptakan dan dikembangkan; dengan demikian mereka menemukan, baik kesadaran mengenai tujuannya maupun batas-batasnya, hanya di dalam pribadi manusia dan nilai susilanya.

    2294 Pendapat bahwa penelitian ilmiah dan pemanfaatannya adalah bebas nilai, merupakan satu ilusi. Juga kriteria untuk pengarahan penelitian tidak dapat begitu saja disimpulkan secara sempit dari daya guna teknis atau dari manfaatnya, yang dinikmati oleh yang satu sambil merugikan yang lain; atau lebih lagi tidak bisa disimpulkan dari ideologi yang berlaku. Ilmu pengetahuan dan teknik sesuai dengan artinya menuntut penghormatan mutlak akan nilai-nilai dasar moral. Mereka harus melayani manusia, hak-haknya yang tidak boleh diganggu gugat, kebahagiaannya yang benar dan menyeluruh, sesuai dengan rencana dan kehendak Allah.

    2295 Penelitian dan eksperimen yang dilakukan pada manusia, tidak dapat membenarkan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan martabat manusia dan dengan hukum moral. Juga persetujuan dari orang yang bersangkutan tidak membenarkan tindakan-tindakan semacam itu. Eksperimen yang dilakukan pada seorang manusia, tidak diperbolehkan secara moral, kalau ia membawa bahaya bagi kehidupannya atau bagi keutuhan fisik dan psikisnya yang tidak sebanding atau yang dapat dihindarkan. Eksperimen semacam itu lebih bertentangan dengan martabat manusia, kalau dilakukan tanpa pengetahuan dan persetujuan orang yang bersangkutan atau orang yang bertanggung jawab untuk mereka.“

Pertanyaan ke-64: Konon dalam sebuah konsili di Nicea, Injil yang pada saat itu terdiri dari kurang lebih 100 versi yang berbeda diredusir menjadi empat Injil. Apakah ini benar, dan kalau ya, bagaimana kita dapat percaya dan yakin, bahwa keempat Injil ini otentik? (TR)

Jawaban: Dalam sejarah ada dua konsili ekumene yang terjadi di Nicea (Iznik), yang pertama pada tahun 325 dan yang kedua pada tahun 787. Dalam dua konsili ini tidak pernah didiskusikan tentang kanonisasi Kitab Suci. Perihal Injil (PerjanjianB aru), sudah sejak abad ke-2 Gereja sudah menyepakati keaslian atau autentitas keempat Injil yang sekarang termasuk dalam Perjanjian Baru. Memang selalu muncul apa yang dinamakan Injil-Injil apokrif, tetapi ini pun jumlahnya tidak pernah lebih dari seratus. Injil-injil apokrif ini sejak dulu tidak diakui sebagai Kitab suci asli yang diwahyukan.

Penelitian-penelitian kristis zaman ini pada dasarnya sampai pada kata kesepakatan, bahwa tidak ada satu buku pun dari Inji-injil apokrif ini yang keaslian atau autetisitasnya melebihi keempat Injil seperti yang sekarang. Memang harus diakui, bahwa yang dinamakan „aporif“ tidak berarti bahwa apa yang diberitakannya semuanya salah atau menyimpang, tidak akurat, tidak autentis dan bertentangan dengan iman orthodoksi.
Bandingkan dan baca: Cross (ed.), The Oxford Dictionary of the Christian Church. Oxford: OUP, 1990. Art. APOCRYPHA, The; APOCRYPHAL, NEW TESTMANT, The; CANON OF SCRIPTURE.

Pertanyaan ke-65: Apa pandangan kaum beriman muslim tentang kedatangan Yesus pada akhir zaman? Apakah Ia datang untuk semua umat mausia, atau „hanya“ untuk orang kristen? Apakah ada ilmuwan islam yang berpendapat, bahwa pada akhir zaman Yesus akan mengadili semua manusia? (DE)

Jawaban: Pertanyaan ini sebenarnya paling baik dibahas oleh seorang yang beragama islam. Di sini saya hanya paparkan ala kadarnya beberapa hal penting dan relevan dari Kitab-Kitab utama agama Islam, Al-Quran dan Hadis.

Titik tolak pandangan Islam tentang kedatangan Yesus kembali pada akhir zaman terdapat dalam Sura 4, 159. Lihatlah dan simaklah titik tolak ini dalam sebuah kesinambungan dengan ayar-ayat sebelumnya:

    4, 157 „dan karena ucapan mereka: "Sesungguhnya Kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah", padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa, 158 tetapi Tuhan telah mengangkat Isa kepadaNya dan Tuhan itu Maha Kuasa dan Bijaksana. 159 Tidak ada seorang pun dari orang-orang Kitab, yang tidak akan beriman kepadanya sebelum kematiannya. Dan  di hari kiamat nanti, Isa itu akan menjadi saksi atas diri mereka.

Penjelasan dari A. Th. Khoury tentang ayat ke-4, 159 (dalam: Der Koran. Arabisch-Deutsch. Terjemahan dan komentar ilmiah. Jilid ke-5, Gütersloh 1994, hal. 257 dst.)
4,159 (158): Tidak ada seorang pun dari orang-orang Kitab, yang tidak akan beriman kepadanya sebelum kematiannya: Yang dimaksudkan adalah orang Yahudi dan orang Kristen. Pernyataan ini merujuk pada kematian orang-orang Yahudi dan orang Kristen: Sebelum mereka meninggal, mereka percaya kepada Yesus sesuai dengan kebenaran yang dikatakan tentangNya: Ia adalah sungguh-sungguh Messias, utusan Allah (demikianlah yang dialamatkan kepada orang-orang Yahudi: lihat 4,157), atau Ia bukanlah Putra Allah, melainkan hamba Allah (demikianlah yang dialamatkan kepada orang kristen: 4,171-172). Ini bisa terjadi pada saat-saat terakhir kehidupan atas perintah Malaekat yang akan menerima jiwa-jiwa orang yang meninggal, atau setelah kematian, ketika segala-galanya sudah terlambat.
Satu penjelasan lain mengalamatkan kata sebelum
pada pribadi Yesus: Sebelum Yesus meninggal. Yang dimaksudkan adalah akhir zaman setelah kedatanganNya kembali, dimana semua orang Yahudi dan kristen yang masih hidup akan mendapatkan dan menemukan iman yang benar.

    Pada hari kebangkitan Ia akan menjadi saksi atas mereka: 2,143

Al-Quran mengatakan: “Harinya akan tiba, dan dari setiap masyarakat kami akan memilih satu saksi dari antara mereka” (16,89; bdk. 16,84). Di sini Yesus digambarkan sebagai yang melawan orang-orang yahudi yang tidak mau percaya kepadaNya, tetapi juga melawan orang-orang kristen yang memiliki iman yang keliru ketika memberi kesaksian tentangNya.

Berdasarkan tradisi islam (berdasarkan Hadit yang bagi kebanyakan orang islam kebenarannya masih diragukan), pada akhir zaman Yesus pertama-tama turun dari Surga ke tanah suci. Pada saat itu ia akan bersikap sebagai layaknya seorang muslim sejati: Ia akan menghancurkan semua orang yang melawan kekristenan dan akan menghidupkan kembali doa pagi tertulis di Yerusalem, dimana Ia sendiri masuk dalam jajaran para pendoa di belakang pemimpin doa. Ia akan memusnahkan segala hal yang bertentangan dengan hukum islam, Ia akan membunuh babi-babi dan menghapuskan segala tanda serta hal-hal dan bangunan-bangunan yang tidak sesuai dengan iman islam orthodoks yang keras (seperti salib, Gereja dan Bait Allah atau Sinagoga). Ia akan memberi kesaksian melawan orang-orang Yahudi dan kristen, dan orang-orang kristen yang tidak menerima islam akan dibunuhNya.  Dengan itu Ia akan berkuasa atas sebuah kerajaan yang satu dan sempurna, Ia akan memerintah sebagai seorang raja yang adil dan segala ciptaan akan menikmati perdamaian selama empatpuluh tahun lamanya. Supaya Ia juga sama dengan para nabi yang lain, Ia akan menikah dan mempunyai anak. Ia juga akan meninggal dan dikuburkan di samping kubur nabi Muhamad serta Khalifah-khalifah pertama Abu Bakr dan Umar. Ahirnya datang juga saat pengadilan terakhir. Allah akan duduk sebagai Hakim dunia dan menentukan segala-galanya dalam kekuasaan tanganNya. Ia akan menentukan, siapa yang bisa menjadi pengantara umat manusia. Satu dari antara orang-orang pilihan Allah ini adalah Yesus, karena Al-Quran melihatNya sebagai seorang yang diperhitungkan Allah, baik di dunia maupun di surga (3,45). Yesus adalah seorang yang menyandang pengutusan profetis di dunia dan martabat pengantara pada hari penghakiman. Tambahan lagi, pada saat kebangkitan dan penghakiman terakhir, Yesus akan memberikan kesaksian tentang orang-orang kitab (4,159). [Orang islam dan orang-orang yang bukan termasuk dalam orang-orang kitab tidak termasuk dalam kategori ini]. (Hadis-hadis yang berbicara tentang kedatangan kembali Yesus pada akhir zaman dapat dilihat dalam: Ibn Kathir. Tafsir al-Quran, I, hal. 547-552). Sebagaimana yang sudah dikatakan, antara muslim generasi dulu dan sekarang terdapat perbedaan besar dalam hal tingkatan kredibilitas, terutama kalau melihat hadis-hadis yang dirpesent
asikan oleh Ibn Kathir (k.l. 1300- 1373).  Kutipan-kutipan langsung dari hadis ini terdapat dalam risalah populer dan polemis dari Muhammad ’Atā’ur-Rahïm dan Ahmad Thomson berjudul: Jesus, Prophet of Islam, London: Ta-Ha Publishers 1996, hal 271-278

[Home] [KITAB SUCI] [KE-ALLAHAN YESUS] [SALIB, DOSA DAN PENEBUSAN] [MUHAMMAD SANG NABI?] [ALLAH TRITUNGGAL] [GEREJA] [EKARISTI KUDUS] [DOA] [HAL ROHANI DAN JASMANI] [SELIBAT] [KEANEKARAGAMAN AGAMAN] [JANTUNG KEKRISTENAN] [REGISTER CATATAN KAKI] [INDEKS TOPIK PERTANYAAN] [INDEKS PERTANYAAN] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 1] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 2] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 3] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 4] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 5] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 6] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 7] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 8] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 9] [PERTANYAAN DAN JAWABAN 10] [IMPRESSUM]